
Alka duduk dengan tatapan kosong, ia dapat melihat jelas mantan istrinya tertawa mesra dengan pria yang merusak rumah tangganya.
Shireen sedang tertawa dengan ketiga buah hati Alka, mengarahkan pandangannya pada pria yang duduk termenung.
Shireen memilih fokus menjaga anak-anak.
Raline berlari menghampiri Alka dan memeluknya sembari tertawa riang.
Alka tersadar ketika mendapatkan pelukan dari putrinya. "Sudah selesai mainnya?"
"Sudah, Yah. Aku sangat senang sekali!" ungkapnya.
"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajaknya.
"Aku mau makan, Yah!" pinta Raline.
"Tante akan mentraktir kalian!" sahut Shireen.
"Shireen..."
"Jangan menolak penawaran saya, Mas!"
"Kamu sudah terlalu baik pada keluarga saya," ujar Alka.
"Saya ikhlas, Mas," Shireen tersenyum.
"Yakin? Kita belum terlalu lama mengenal, kamu sudah begitu baik kepada kami," ujar Alka.
Shireen memudarkan senyumannya dan sedikit menganggukan.
"Ayo Tante kita cari restorannya!" ajak Raline dengan gaya bicara tak terlalu jelas.
"Ayo!" Shireen memegang gadis kecil itu dan menyerahkan Sean pada Alka.
Mereka berjalan menuju restoran lokal khas pulau Jawa.
Sean tertidur di pangkuan Alka ketika sedang memesan makanan.
Tak sampai 15 menit pesanan mereka tiba.
"Mas, makan saja dulu. Sini Sean saya pangku!"
"Kamu saja dulu yang makan," ujar Alka.
"Saya masih kenyang," Raline memaksa mengambil Sean dari pangkuan pria itu.
Shireen membelai rambut Sean agar tidak terbangun.
Alka ragu untuk memulai makan padahal kedua anaknya sudah lahap. Melihat anggukan kecil dan senyuman Shireen, ia pun menikmati hidangan.
Alka mengambil sedikit agar cepat selesai dan gantian menggendong Sean.
Tak sampai 5 menit, Alka selesai makan.
"Kenapa cepat sekali, Mas?"
"Saya sudah kenyang, sekarang giliran kamu. Saya tidak mau kamu sakit karena terlambat makan," jawab Alka.
"Mas, perhatian sekali," celetuknya.
"Saya tidak ingin saja Raline selalu menanyakan kamu," Alka memberi alasan.
Shireen memanyunkan bibirnya tak senang dengan alasan Alka.
Beberapa menit kemudian selesai makan, mereka bergegas pulang.
Saat hendak pulang, di pintu masuk gedung mall. Tak sengaja bertemu dengan Rani.
Raline berteriak memanggil, "Ibu!"
Rani membalikkan badannya.
Raline berlari menghampiri dan memeluknya, "Aku rindu Ibu, jangan pergi lagi!"
Rani mendorong lembut tubuh putrinya tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Raline, kamu salah orang!" Varrel menarik tubuh adiknya menjauh dari ibunya.
Seketika hati Rani menjadi perih.
Shireen dan Alka hanya memandang pertemuan ibu dan anak.
"Ayo Yah, kita pulang!" ajak Varrel.
Rani terdiam menatap punggung kedua anaknya.
Shireen dan Alka melewati tubuh Rani yang masih berdiri terpaku tanpa tersenyum atau berkata-kata.
Di parkiran mall, Alka mengambil alih menyetir. Di dalam mobil Varrel memilih diam menatap jalanan.
"Ayah tadi ibu, kan?" tanya Raline.
"Iya, Nak."
"Tapi, kenapa Kakak bilang salah orang?" tanyanya lagi.
"Raline, dia bukan ibu kita!" sentak Varrel.
"Kak, kenapa marah padaku? Aku ingin memeluknya saja," ujar Raline dengan mata berkaca-kaca.
"Raline, Varrel, jangan bertengkar. Jika kalian seperti ini Ayah takkan mau mengajak kalian lagi!" nasehat Alka.
"Ayah, Kak Varrel yang salah!"
"Kamu yang salah!" Varrel tak mau kalah.
"Raline, Varrel, sudah ya. Jangan buat Ayah kalian marah!" Shireen melirik pria yang sedang menyetir.
Kedua bocah itu pun akhirnya diam, walau saling memunggungi.
Tepat pukul 3 menjelang sore, mereka tiba di rumah. Di depan pintu pagar terparkir sebuah motor.
Siska yang menunggu di teras rumah berdiri kala melihat sebuah mobil berhenti tepat di belakang motornya.
Kelima penumpang di dalam kendaraan itu turun.
"Bu Guru!" sapa Varrel.
"Sore, Pak!" balas menyapa.
"Ada keperluan apa, Bu?" tanya Alka ramah.
Shireen memilih jalan terlebih dahulu ke rumah, meletakkan Sean yang kembali tertidur di dalam mobil.
"Saya ingin memberi tahu Pak Alka, jika dua hari lagi ada lomba mewarnai tingkat kecamatan. Apa Varrel bersedia?" tanya Siska pada pria yang memegang tangan gadis kecil.
"Kamu mau, Nak?" tanya Alka pada putranya.
Varrel mengiyakan.
"Kalau begitu, besok saya akan menjemput Varrel untuk mendaftar," ujar Siska.
"Iya, Bu. Makasih," ucap Alka.
"Pak Alka dan anak-anak dari mana?" Siska penasaran.
"Bawa mereka jalan-jalan, Bu," jawab Alka.
"Oh," ucapnya singkat. "Kalau begitu, saya pamit. Sampai jumpa," Siska melambaikan tangannya pada Varrel, ia menghidupkan mesin motor dan berlalu.
Alka dan anak-anaknya masuk ke dalam rumah.
"Mau apa Bu Guru tadi, Mas?" Shireen juga penasaran.
"Dia menawarkan lomba mewarnai buat Varrel."
"Oh, begitu."
"Ya."
"Sean di kamarnya, aku pamit pulang, Mas." Shireen berdiri lalu menyalami Varrel dan Raline.
__ADS_1
Shireen berlalu meninggalkan kediaman keluarga kecil Alka.
...----------------...
Keesokan paginya, Lilis menjaga anak-anak. Jam 9 pagi, Varrel sudah dijemput Siska dan ia sekaligus meminta izin pada nenek muridnya pulang agak lama karena ingin membawa bocah itu jalan-jalan.
Lilis pun mengizinkannya.
Alka mengirimkan pesan kepada Shireen memesan menu makanan buat makan siang dan malam. Namun, sudah sejam pesannya tak di balas biasanya paling lama 10 menit wanita itu segera membalasnya.
Alka lantas menghubungi Shireen, tak lama kemudian dari ujung telepon terdengar suara lemah menjawabnya. "Halo, Mas!"
"Shireen, kamu kenapa?"
"Saya lagi di rawat di klinik, Mas."
"Kamu sakit?"
"Ya, Mas."
"Di mana alamat kliniknya?" tanya Alka.
"Tak jauh dari ruko, Mas. Namanya klinik Cepat Sehat," jawabnya.
"Baiklah, saya akan ke sana!" Alka menutup teleponnya.
Shireen yang mendengarnya, tampak tak percaya. "Dia mau menjenguk ku?"
Alka mengganti pakaian bengkelnya dengan pakaian sehari-hari, ia bergegas menuju klinik yang di sebut Shireen tak lupa ia singgah membawa beberapa buah.
Begitu sampai, karyawan wanita yang menjaga Shireen berpamitan keluar ruangan yang hanya khusus 1 pasien saja.
Alka berdiri di samping Shireen yang terlihat lemas dan pucat. "Apa kata Dokter?" meletakkan keranjang kecil berisi buah-buahan di atas nakas.
"Hanya kelelahan saja, Mas."
"Lain kali, jangan terlalu capek. Besok-besok, biar karyawanmu saja yang mengantarkan pesanan."
"Bagaimana jika Raline bertanya?"
"Saya yang akan menjelaskannya."
"Saya tidak bisa kalau tak berjumpa dengan Raline apalagi Sean," ujar Shireen dengan suara pelan.
"Kenapa kamu begitu menyayangi anak-anakku?"
Shireen tak bisa menjawabnya.
"Saya tak suka, jika ada yang mendekati kami namun memiliki maksud tertentu," tudingnya.
"Aku menyukaimu, Mas!"
"Saya harap kamu bukan seperti itu!" ujar Alka.
Shireen tersenyum tipis, ia perlahan bangkit dari tidurnya dan duduk mencoba meraih botol minuman di atas nakas yang berada di sebelah kanannya menggunakan tangan kirinya.
Alka membantu mengambilkan botol minuman itu membuka tutupnya lalu mendekat ke mulut wanita yang tampak kesulitan karena tangan kanannya terpasang selang infus.
Shireen menyedot air mineral dalam botol yang dipegang Alka.
Shireen melepaskan sedotannya, Alka menarik botol, menutupnya dan meletakkannya kembali di nakas.
"Terima kasih, Mas."
"Ya."
"Saya akan menelepon salah satu karyawan untuk mengantarkan lauknya hari ini," ujar Shireen.
"Tidak usah, saya sudah menelepon mama untuk memasak bahan yang tersisa di dalam lemari es saja," ucap Alka.
Shireen menggerakkan sedikit dagunya.
"Kalau begitu saya pamit balik ke bengkel. Kamu cepat sembuh dan sehat, permisi!" Alka pun berlalu.
Shireen menarik sudut bibirnya menatap punggung lelaki itu yang entah kenapa ketika melihat wajahnya, membuat Shireen selalu tersenyum dan senang.
__ADS_1
Karyawan Shireen kembali masuk ketika tamu atasannya itu telah pergi. "Ternyata Pak Alka begitu perhatian 'ya, Bu."
Shireen hanya tertawa kecil.