Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Promo Novel Baru Lagi


__ADS_3

Judul Karya : Bisnis, Benci dan Cinta


Keesokan paginya, sebelum berangkat ke kantor. Maudy sarapan, sesekali ia bersin membuat sang ibu khawatir.


"Kamu sakit?"


"Hanya bersin saja, Bu."


"Ibu akan buatkan teh jahe," menawarkannya.


"Tidak usah, Bu. Sebentar lagi juga sembuh," ujar Maudy. "Bu, kalau aku boleh tahu ayah syok karena apa?" lanjutnya bertanya sesekali jemarinya menyenggol hidungnya.


"Perusahaan mengalami kerugian, Maudy. Komplek perumahan yang sudah rampung lima puluh persen harus terbengkalai, karena tak ada investor," jelas Ibu Maudy bernama Wika.


"Apa kita tidak punya solusi lain?"


"Ada."


"Apa itu, Bu?"


"Pernikahan."


Maudy mengerutkan keningnya.


"Siapa yang akan menikah?"


"Kamu."


"Bu, aku menikah? Dengan siapa?"


"Putra pertama Tuan Tian sedang mencari istri, Ibu mau kamu menikah dengannya," jawab Wika.


"Tidak, Bu. Aku tak mau menikah dengan pria yang sama sekali belum ku kenal," Maudy menolaknya.


"Tolonglah, Nak. Kamu harapan kami," ujar Wika.


"Aku akan mencari cara lain untuk menyelamatkan perusahaan tanpa harus menikah," ucap Maudy.


"Mau pakai cara apa? Pinjam ke bank?"


"Ya, Bu."


"Justru itu, hutang kita di bank sudah menumpuk jika tidak dilunasi maka rumah ini, mobil Ibu dan kamu disita."

__ADS_1


Maudy mengepal tangannya.


"Cara ini paling mudah dan cepat, lagian Tuan Tian memang ingin kamu menjadi menantunya."


Maudy menghela nafasnya.


"Bagaimana? Apa kamu mau?"


"Nanti aku pikirkan lagi, Bu." Maudy meraih tas dan kunci mobilnya tak lupa mencium punggung tangan ibunya.


Maudy melangkah ke mobil dan melesat ke kantornya.


Di kantor, ia memijat pelipisnya. Ya, dia memikirkan ucapan ibunya. Jika dirinyalah yang mampu membantu kehidupan keluarganya.


"Maudy, ada yang ingin bertemu denganmu!"


"Siapa dia, Karen?"


"Aku tidak tahu, dia pria tampan sepertinya ingin bekerja sama dengan perusahaan kita," jawabnya.


"Baiklah, aku akan bertemu dengannya." Maudy menutup laptopnya, berdiri dan melangkah ke luar menemui tamunya.


Seorang pria berdiri menghadap jendela, memandangi jalanan dari lantai ketujuh.


Pria itu membalikkan badannya, memperhatikan wanita itu dari bawah hingga ke atas.


Maudy yang diperhatikan merasa kikuk. "Silahkan duduk, Tuan!"


Pria itu pun mengikuti perintahnya.


"Apa yang bisa saya bantu?"


"Apa kamu putri dari Rama Aletta?"


"Ya."


"Sebelum kedua orang tua kita mempertemukan antara kau dan aku, maka ku yang lebih dahulu menawarkan perjanjian."


"Saya belum menyetujui perjodohan, tiba-tiba anda datang menawarkan perjanjian," Maudy tersenyum sinis.


"Ternyata, kau menolak perjodohan ini. Tapi, kedua orang tuamu menginginkan itu. Apalagi perusahaan ayahmu yang membutuhkan bantuan kami."


"Ya, saya tahu kami membutuhkan dana investor tapi tidak dengan pernikahan paksaan seperti ini!"

__ADS_1


"Hei, kita menikah untuk bisnis. Jadi, jangan menganggapnya serius."


"Saya menganggap pernikahan sekali seumur hidup bukan bisnis apalagi menikah tidak dilandasi cinta!"


Pria itu tertawa.


"Simpan surat perjanjian anda dan silahkan pergi!" menekankan kata-katanya.


"Sebentar lagi akan ada telepon dari ibumu!" Pria itu menyilangkan kaki dan bersedekap dada.


Dan benar saja, ponsel Maudy berdering tertera nama ibunya.


"Halo, Bu!"


"Maudy, ayahmu dilarikan ke rumah sakit!"


"Apa!"


"Cepatlah kemari!"


"Baik, Bu!" Maudy menutup teleponnya kemudian berdiri.


"Hei, mau ke mana?" Pria itu menurunkan satu kakinya dari pahanya lalu ikut berdiri.


Maudy tak menjawab, wajahnya sangat panik. Maudy membalikkan badannya hendak keluar dari ruangan itu.


Pria itu menahan lengannya, "Aku akan mengantarmu!"


Maudy tak mengiyakan, malah dengan cepat menurunkan tangan pria itu.


Di parkiran, "Naiklah ke mobilku, kau tidak bisa menyetir jika panik begitu!"


Maudy akhirnya menuruti kata-kata pria itu. Ia naik ke mobil yang ada dihadapannya.


Di dalam mobil, keduanya duduk di kursi penumpang. Maudy menggigit kukunya dan terus menatap jalanan. Pikirannya kacau dan hatinya tak tenang.


"Jika kau mau menerima perjodohan ini, pasti ayahmu akan baik-baik saja."


Maudy menoleh lalu berkata dengan tatapan tajam, "Bisakah anda berhenti mengoceh!"


Pria itu tampak sedikit terkejut melihat ekspresi wajah Maudy, ia lalu tersenyum dan berucap, "Baiklah!"


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa mampir 🌹


__ADS_2