Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 52 - Berenang


__ADS_3

Alka dan istrinya duduk bergabung dengan yang lainnya di meja makan. Mereka akan sarapan bersama.


"Kenapa Ayah dan Mama lama sekali?" protes Raline.


"Kami....." Alka tampak bingung menjawabnya.


"Raline, Mama dan Ayah sangat ngantuk sekali jadi kesiangan. Maaf, ya!" Shireen mengelus rambut putrinya itu.


Mereka yang paham atas keterlambatan sepasang suami istri itu hanya mengulum senyum.


Selesai sarapan, mereka saling mengobrol sesekali tawa menyertainya. Walaupun, Lilis hanya diam saja karena ia ingin menghindari mantan suaminya itu.


"Nanti kita berenang 'ya, Ma!" ajak Raline.


Shireen menoleh ke arah suaminya diizinkan atau tidak.


Alka memberi izin dengan mengangguk.


Raline melompat senang karena ia diizinkan berenang.


Karena ada urusan dan ingin menemui seseorang, Arman dan Ratih minta izin kepada Sudiro sebentar keluar dari hotel, malam harinya mereka akan kembali lagi.


Sementara itu, Lisa, suaminya dan putrinya berserta Alka sekeluarga mereka menuju kolam renang yang menjadi salah satu fasilitas di hotel tersebut.


"Papa mau pulang atau di sini?" tanya Sudiro.


Lilis yang hendak meninggalkan tempat menuju kamarnya langkahnya dihentikan mantan suaminya.


"Aku ingin bicara kepadamu!" pintanya.


Lilis tak mengiyakan dan hanya berdiri saja.


"Papa ingin bicara di sini atau di ruang kerja?" tanya Shila.


"Meja yang diujung saja!" menunjuk ke arah sudut ruangan.


"Bibi, Papa saya ingin berbicara kepada anda. Apakah bersedia?" tanya Shila.


Lilis sejenak diam lalu mengiyakan. Karena dia pun bingung mau melakukan apa. Anak, menantu dan cucu sedang berenang. Besannya lagi ada urusan di luar hotel. Terpaksa, ia menerima tawaran Sudiro untuk mengobrol.


Shila menuntun papanya ke meja sudut, Lilis berada dibelakangnya.


Sudiro dan Lilis duduk di meja berdua, restoran juga sudah mulai sepi karena tamu hotel telah selesai sarapan.


Shila juga pamit pergi.


Lilis hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Apa kamu belum bisa memaafkan aku?" Sudiro membuka percakapan.


"Apa penting maaf dariku?"


"Sangat penting, Lis."


"Bukankah dahulu kamu sama sekali tidak melihatku bahkan aku sampai memohon di kakimu untuk tidak meninggalkan aku?"


"Aku telah melakukan kesalahan besar, tolong maafkan aku!"


"Aku akan maafkan kamu, tapi jangan pernah ganggu kami!"


"Aku hanya ingin menebus kesalahan pada Alka dan Lisa yang waktu itu mereka tak mendapatkan kebahagiaan."


"Mereka sangat bahagia meski tanpa kamu sekalipun!" menegaskan perkataannya.


"Lilis, apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak membenciku?


"Jauhi kami!"


"Tidak, aku takkan melakukannya apalagi aku telah memiliki cucu."


"Apa kamu tidak bahagia ketika menikah dengan wanita itu?"


"Dia sudah tiada, kamu tidak perlu membicarakannya lagi!"

__ADS_1


"Tapi, aku sangat menderita karena wanita itu. Dia merebut kamu dariku!" Lilis tak dapat menahan air matanya, ia lantas mengambil tisu dan menghapusnya.


"Lilis, aku mohon kembalilah lagi padaku!" pintanya penuh harap.


-


Dilain tepat, Shila yang ingin bertemu dengan temannya kebetulan dari luar kota kehabisan pulsa untuk menelepon.


Shila lalu singgah ke penjual pulsa begitu sudah diisi ia membuka isi dompetnya namun tak menemukan uang cash. "Astaga, kenapa aku lupa mengambil uang di ATM," gumamnya.


Penjual pulsa menatap Shila yang tampak kebingungan.


"Mba, bagaimana kalau uangnya nanti saya transfer saja?"


"Aduh, Mba. Saya tidak menerima transfer," jawab penjual.


"Bagaimana ini?" Shila begitu panik.


Seorang pria juga lagi mengisi pulsa, Shila melihat pakaian dan mobil yang digunakan pria itu seperti orang kaya.


Selesai membayar transaksi, pria itu bergegas pergi.


"Mas, maaf!" Shila mendekatinya.


"Ya."


"Bisa pinjam uang Mas," ucapnya.


"Pinjam?"


"Ya, hanya seratus ribu saja."


"Tidak!" pria itu menolaknya tegas.


Shila memberikan kartu nama miliknya, "Ini ada nama dan nomor ponsel saya!"


"Hubungannya apa?"


"Saya akan mengganti uang anda dengan transfer," jawab Shila.


"Iya, Mba. Saya akan bayar!" jawabnya dengan suara keras karena jarak sedikit jauh.


Pria itu sudah memegang kenop pintu mobil.


"Mas, saya mohon tolong pinjamkan uangnya!" menunjukkan wajah memelas.


Pria itu menghela nafas, lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan uang selembar berwarna merah. "Ini bayarkan dulu, urusan kita belum selesai!"


Shila menerimanya dengan wajah sumringah, ia meraih lembar uang tersebut dan menghampiri penjual pulsa menyelesaikan pembayaran.


Shila lalu kembali mendekati pria yang memberikan dirinya pinjaman.


"Jadi, urusan kita bagaimana?"


"Saya nanti akan transfer!"


"Nanti?"


"Ya, karena ponsel saya ini rusak!" menunjuk ponsel yang memiliki aplikasi E-money.


"Anda tidak ingin menipu saya, kan?" pria itu melihat gaya pakaian dan mobil yang digunakan Shila.


"Untuk apa saya menipu, Mas. Berapa nomor ponsel anda?"


"Tidak perlu!"


"Bagaimana saya bisa menggantinya?"


"Lupakan saja, anggap saja saya sedang sedekah pada anda!"


Shila mengerutkan keningnya.


Pria itu pun membuka pintu mobil kemudian baru.

__ADS_1


"Dia pikir aku ini komplotan penipu!" gerutunya.


-


Sudiro Star Hotel


"Mas!"


"Ya."


"Kalian sudah lebih dari dua jam di kolam, ayo naik!" ucap Shireen.


"Kami belum puas, Ma." Teriak Varrel.


"Mama beri waktu setengah jam lagi, ya!" Shireen juga bersuara kuat.


"Iya, Ma." Sahut Varrel.


Shireen duduk di kursi melihat suami dan anak-anaknya berenang bersama adik iparnya.


Lilis akhirnya datang dan duduk bergabung dengan menantunya.


"Kamu tidak ikut berenang?" tanya Lilis.


"Tidak, Ma."


"Kenapa?"


"Mau mengawasi anak-anak dari sini, Ma."


"Di sana 'kan sudah ada Alka?"


"Tidak, Ma. Aku takut Mas Alka tak terpantau."


Lilis terus mengamati menantunya yang tatapannya terus tertuju ke arah kolam, "Alka memang tak salah pilih."


Anak-anak akhirnya naik, Lilis dan Shireen sibuk mengelap tubuh mereka dengan handuk.


"Nek, Ma, seru banget!" ujar Raline riang.


Bella yang ikut berenang juga tak berhenti tertawa, membuat keluarga selalu tersenyum melihat balita itu.


Sean menepuk tangannya dan ingin terus berjalan, Alka mengejar langkah putranya.


"Mama, kakek mau ajak kami jalan-jalan ke mall," ujar Raline.


"Iya, Ma." Sahut Varrel.


"Apa benar, Mas?" tanya Shireen.


"Katanya, sih." Tukas Alka.


"Kalau begitu, ayo kita ganti pakaian!" ajak Shireen.


Mereka kini sudah berada di kamar masing-masing, kedua kakak Sean bersama Nenek Lilis dan dirinya dengan kedua orang tuanya.


Shireen sibuk memakaikan pakaian buat Sean.


"Aku mau kamu juga yang memakaikan baju," canda Alka.


"Sebentar 'ya bayi besarku!" Shireen tersenyum menyindir.


Alka memeluk belakang tubuh istrinya hingga membuat Shireen menggeliat.


"Mas, aku lagi pakaikan Sean baju!"


Alka malah menggelitik istrinya membuat Sean tertawa lepas.


"Mas, jangan!" Shireen terus tertawa.


Sean malah semakin tergelak.


"Mas, mereka sudah menunggu kita di bawah!" ujar Shireen membuat Alka menghentikan candanya.

__ADS_1


Alka mengecup pipi istri dan putranya lalu ia melangkah ke koper mengambil pakaiannya dan memakainya.


__ADS_2