
Pasca melahirkan Shireen lebih banyak diam, ia hanya berbicara dan bercanda kepada anak-anaknya saja.
Shireen juga menolak Mama Lilis membantunya mengurus dirinya dan bayinya.
Sean dan Varrel dititipkan kepada Mama Lilis sedangkan Raline bersama ibu sambungnya.
Setelah mengantarkan Raline ke sekolah, Alka kembali ke rumah. Ia melihat istrinya sedang menyusui buah hatinya.
"Kamu mau minum susu, biar aku buatkan," tawar Alka.
"Tidak, makasih!" ucap Shireen ketus.
Alka tak mau berdebat, ia memilih keluar kamar dan duduk di ruang tamu.
Selesai menyusui, Shireen berjalan ke dapur. Ia meraih gelas dan kotak susu bubuk.
Alka menghampiri istrinya, lalu memegang tangan Shireen. "Biar aku saja yang buat!"
Shireen menurunkan tangan suaminya dari punggung tangannya. "Aku bisa sendiri, Mas!"
"Kamu sudah mendiamkan aku lima hari ini," ujar Alka.
Shireen tak berkata apapun, ia sibuk membuat susunya.
"Apa kamu tidak bisa memaafkan aku?"
Shireen menarik kursi dan duduk, ia terus mengaduk minuman susu buatannya.
Alka duduk dihadapan istrinya, "Aku tidak bisa kamu diamkan seperti ini!"
"Apa aku bisa juga didiamkan Mas Alka?"
Alka terdiam.
"Aku juga tidak bisa kamu diamkan, Mas!"
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi!"
__ADS_1
"Percuma, Mas. Aku juga melahirkan tanpa dirimu, mungkin jika aku belum melahirkan kamu tidak akan pulang dan menemani aku di rumah."
Alka berpindah posisi, ia berlutut dibawah kaki istrinya.
Sontak, Shireen beranjak berdiri. "Apa yang Mas lakukan?"
"Aku tidak tahu bagaimana caranya agar kamu bisa memaafkan ku," jawab Alka dengan mendongakkan kepalanya.
Shireen menghela nafasnya lalu berkata, "Berdirilah, Mas!"
"Maafin aku, baru aku akan berdiri!"
Shireen tampak kesal ia tak berkata apapun, malah meninggalkan suaminya yang sedang berlutut.
Alka lantas berdiri menyusul istrinya, "Sayang!" memeluk Shireen dari belakang.
"Lepaskan aku, Mas!" sentaknya.
Alka melepaskan pelukannya.
Shireen berhadapan dengan suaminya. "Tak usah peluk aku atau pun itu untuk menarik perhatian ku!"
Shireen mendelikkan matanya, sekuat tenaga ia mendorong suaminya.
Alka hanya tersenyum tampak begitu manis.
"Jangan merayu atau menggodaku, Mas!" hardiknya.
"Tapi, aku ingin melakukannya."
Shireen menarik ujung bibirnya. "Itu takkan membuat aku luluh!"
"Benarkah?"
"Lebih baik Mas jemput Raline ke sekolah setelah itu pergi ke bengkel!"
"Aku mau menemani kamu di rumah," ujar Alka.
__ADS_1
"Aku sudah biasa ditinggal sendirian, Mas."
"Aku akan di rumah dan membantumu mengurus anak kita," ucap Alka.
Shireen tertawa kecut, "Terserah Mas saja!" ia naik ke ranjang dan akan tidur bersama bayinya.
"Aku mau menjemput Raline, kamu tidak ingin makan sesuatu?"
"Tidak, Mas."
"Kamu yakin?"
"Ya," jawabnya ketus.
"Kalau begitu aku pergi," Alka mendekati istrinya yang berbaring lalu mengecup kening Shireen dan bayinya.
Alka pun pergi menjemput putrinya.
-
Begitu sampai dan tak terlalu lama menunggu akhirnya Raline keluar dari sekolahnya.
"Ayah, adik bayi lagi apa?" tanyanya.
"Lagi tidur."
"Ayo kita pulang, aku ingin bertemu dengannya."
"Tapi, kita beli sesuatu dulu untuk Mama," ajak Alka.
"Baik, Yah."
Alka mengendarai mobilnya ke tempat penjual buket bunga, ia membeli bunga mawar buat istrinya. Setelah itu mereka pergi ke toko kue memberikan brownis kesukaan Shireen.
"Aku juga ingin membelikan sesuatu untuk Mama, Yah."
"Boleh, kamu mau beli apa?"
__ADS_1
"Mama suka makan salad buah," jawab Raline.
"Baiklah, kita akan belikan!" ucap Alka semangat.