
Di atas kendaraan roda dua yang berjalan, Shireen berkata, "Mas, aku tadi bawa motor. Kenapa Mas Alka repot mengantar aku?"
"Aku tidak mau melihat wajah cemberut kamu," jawab Alka.
Shireen menepuk bahu Alka dengan pelan.
"Aku tahu kamu tidak nyaman melihat aku berbicara dengan Laras, jadi biarkan aku mengantarkan kamu pulang. Motor nanti aku dan Derry yang mengantarnya," jelasnya.
Shireen mengangguk. Lalu lanjut bertanya, "Kenapa wanita itu mengenal Mas Alka?"
"Kami pernah bertemu di suatu tempat saat itu Rani masih menjadi istriku. Ya, dia datang bersama pria yang sekarang menjadi suami Rani," jawab Alka.
"Oh, jadi Kak Laras sudah menjadi janda makanya mendekati Mas Alka?"
"Tidak, Rani menjadi istri kedua."
Shireen tak menyangka. "Kuat dan sabar sekali Kak Laras!" pujinya.
Akhirnya, Shireen tiba di tempat usahanya. Alka lalu kembali ke bengkelnya.
Shireen memasuki ruko, Mama Ratih berdiri di depan pintu masuk.
"Darimana?"
"Mengantarkan pesanan, Ma."
"Motor kamu mana? Kenapa pria itu yang mengantarkan kamu?" cecarnya.
"Ma, baru saja tiba di kota ini. Nanti saja aku jelaskan," jelasnya. "Di mana papa, Ma?" mengalihkan pertanyaan.
"Papa lagi di toilet, kamu harus menjelaskannya nanti di rumah," tagih Ratih.
"Iya, Ma," janjinya.
Shireen mengirimkan pesan kepada Alka agar mengantarkan motornya ke ruko dan titipkan dengan salah satu karyawannya saja.
Alka membalas pesan dengan mengiyakan.
-
__ADS_1
Shireen dan kedua orang tuanya tiba dikediaman mereka, begitu sampai Ratih lantas menagih penjelasan dari putrinya itu.
"Ma, biarkan dulu Shireen mandi nanti juga dia akan menjelaskannya," ujar Arman.
"Tapi, Mama tak sabar, Pa. Apalagi tadi mereka berboncengan dan sangat akrab," ungkap Ratih.
"Aku akan jelaskan, Ma, Pa."
"Cepat jelaskan, ada hubungan apa kamu dengan pria itu?" Ratih tak sabar.
"Namanya Mas Alka, dia kekasihku, Ma, Pa."
"Apa? Kamu menjalin hubungan dengan seorang duda? Tidak salah? Kamu akan kami jodohkan, kenapa mencintai orang lain, Shireen?" deretan pertanyaan di lontarkan dari mulut Ratih.
"Ma, kami saling mencintai. Apa salahnya jika dia duda?" tanya Shireen.
"Shireen, dia duda memiliki anak. Mengurus anak itu tak semudah dibayangkan apalagi mereka bukan anak yang kamu lahirkan dari rahimmu," omel Ratih.
"Ma, biarkan saja Shireen dengan pria itu," sahut Arman.
"Papa ini bukan membela Mama malah mendukung Shireen. Kita sudah berjanji akan menjodohkan dia dengan Gani, kenapa malah mengizinkan dia bersama duda itu," ucap Ratih kesal.
"Papa selalu saja tak sependapat dengan Mama," Ratih lebih dahulu berjalan ke kamarnya.
Shireen mendekati Arman, "Terima kasih, Pa."
"Papa ingin bertemu dengan pria itu..."
"Namanya Alka, Pa."
"Ya, Papa ingin bertemu dengan Alka. Apakah dia pantas atau tidaknya bersama kamu," ucap Arman.
"Aku akan sampaikan pada Mas Alka, Pa." Shireen tersenyum senang.
...----------------...
Keesokan paginya, Alka mengirimkan pesan kepada Shireen untuk diantarkan lauk ke rumah. Shireen pun menyanggupinya apalagi sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan anak-anaknya Alka.
Shireen juga mengirimkan pesan kepada Alka bahwa papanya ingin bertemu dengannya. Alka mengiyakan dan menyuruh Shireen mengatur jadwal pertemuan mereka.
__ADS_1
Hampir jam 12 siang, Shireen tiba di rumah kekasihnya. Raline berlari dan memeluknya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Tante," ungkapnya.
"Apa kamu merindukan Tante?" mensejajarkan posisi dengan Raline yang berdiri.
Raline mengangguk.
"Sekarang Tante sudah datang dan rasa rindumu telah terobati waktunya kita bermain," ajak Shireen.
"Ayo Tante!" Raline tampak semangat.
Lilis tersenyum melihat kedatangan calon menantunya itu, dia berharap Shireen mampu mengobati luka dan menemani Alka hingga akhir hayatnya.
"Kapan Tante tinggal satu rumah dengan kami?" tanya Raline.
Shireen dan Lilis saling pandang kala mendengar pertanyaan gadis kecil itu.
"Kata Ayah, Tante Iren nanti akan tinggal serumah dengan aku, Sean dan Kak Varrel," tuturnya.
Lilis menarik sudut bibirnya begitu juga dengan Shireen.
"Apa Ayah berbohong?" tanyanya lagi.
"Memangnya kalian sangat menyayangi Tante Shireen?" tanya Lilis duduk bergabung dengan cucu-cucunya.
"Aku sangat menyayanginya," Raline memeluknya.
"Bagaimana dengan Varrel?" tanya Lilis.
Varrel mengangguk.
Sean tertawa sambil bertepuk tangan riang.
Shireen memeluk balita yang kini berusia 14 bulan itu.
"Jangan pergi lagi tanpa kami, kemanapun Tante pergi kami harus ikut!" ucap Varrel.
Shireen berkata sambil tersenyum, "Siap!" meletakkan tangannya seperti orang menghormati bendera.
__ADS_1
Semuanya pun tertawa.