
Shireen memberikan handuk dan pakaian kepada Alka, "Mas, ini ada baju dan celana Kak Radit. Pakai saja semoga pas di badan."
"Terima kasih," Alka meraihnya.
"Ganti dikamar tamu saja!" Shireen menunjuk sebuah ruangan yang berada di ruang keluarga.
Alka lalu menuju ke arah ruang yang ditunjuk.
Lima menit kemudian, Alka keluar dan kembali duduk, masih memegang pakaian basahnya.
"Letak di sini saja, Mas!" Shireen menyodorkan kantong plastik.
Alka meraihnya dan memasukkan pakaiannya.
Shireen lantas ke dapur tak lama kemudian ia kembali menghampiri Alka dan menyajikan secangkir teh hangat. "Silahkan diminum!" meletakkannya di atas meja.
Alka mengangguk pelan.
Shireen duduk dihadapan Alka. "Ada perlu apa Mas ke sini?"
"Kenapa kamu menjauhi saya?"
"Saya bukan menjauh, Mas. Hanya sedang sibuk saja," jawab Shireen.
"Saya tidak percaya dengan alasan kamu itu."
"Terserah Mas Alka mau percaya atau tidak," ujar Shireen lantas berdiri.
Alka juga berdiri. "Shireen!"
"Mas, saya ingin istirahat. Jika hujan sudah reda Mas Alka boleh pulang, permisi!" Shireen terus berlalu.
Kini tinggal Alka sendirian di ruang tamu, ia mengedarkan pandangannya. Melihat beberapa figura foto yang terpajang di dinding. Tampak foto semasa Shireen dan saudara kandungnya masih bayi hingga dewasa.
Foto keluarga Shireen dengan ukuran besar terpampang jelas.
Alka terus menatap foto gadis cantik tersenyum manis yang berdiri di samping seorang pria paruh baya. Tanpa di sadari ia menarik sudut bibirnya.
Hampir 30 menit berada di rumah Shireen, Alka berpamitan kepada asisten rumah tangga. "Bibi, saya mau pulang. Sampaikan terima kasih saya kepada Mba Shireen."
"Saya akan sampaikan, Mas!"
"Kalau begitu saya permisi!" Alka menelepon salah satu karyawannya untuk menjemputnya, ia menuntun perlahan motor miliknya meninggalkan rumah Shireen.
Alka tak mau karyawannya tahu kalau dia berada di rumah Shireen, jadi ia meminta salah satu diantaranya untuk menjemputnya di ujung jalan saja.
Shireen menatap dari jendela Alka menuntun motornya, ada perasaan bersalah karena meninggalkannya sendirian di ruang tamu.
...----------------...
Seminggu kemudian.....
Pagi ini Alka kedatangan seorang tamu yang tak dikenalnya. Pria tersebut mengaku bernama Gani, calon suami dari Shireen. Ia meminta Alka untuk berbicara 4 mata di sebuah kafe.
Alka pun menyetujuinya, keduanya berjalan bersama ke kafe seberang bengkel.
"Maaf mengganggu pekerjaan anda!" ucap Gani.
"Tidak masalah," ujar Alka tersenyum.
"Baiklah, saya tak perlu berbasa-basi lagi kepada anda," ucap Gani.
Alka hanya diam.
"Saya ingin melamar Shireen, apa anda setuju?"
Alka sejenak diam lalu menjawab, "Apa kalian saling mencintai?"
"Saya sangat mencintai Shireen, tapi saya belum tahu apa dia mencintai saya."
"Saya bukan siapa-siapanya Shireen, jadi anda salah orang untuk menanyakan apakah saya setuju atau tidak kalau anda melamar Shireen."
"Bagi Shireen anda harapannya," ujar Gani.
Alka mengernyitkan keningnya.
"Apa anda tidak menyadari kalau Shireen mencintai anda?"
Alka terdiam.
Gani tertawa kecil.
Alka masih diam.
"Anda sungguh tak pernah peka," celetuknya.
__ADS_1
"Saya tidak mencintainya!" ucap Alka.
"Benarkah?"
"Ya."
Gani menarik ujung bibirnya, "Shireen ternyata sangat bodoh menyukai pria yang jelas-jelas sama sekali tidak mencintainya."
Alka bergeming.
"Kalau begitu, pasti dia takkan menolak untuk saya lamar. Apa anda benar-benar yakin tidak mencintainya?"
Alka tak bisa menjawabnya.
"Seminggu lagi, saya dan keluarga akan datang melamar jadi. Saya harap anda bisa mencegahnya sebelum itu terjadi," ujar Gani.
"Selamat!"
Gani tertawa tipis, "Harusnya saya yang mengucapkan selamat kepada anda karena sudah memenangkan hati Shireen."
Lagi-lagi Alka terdiam.
"Kalau begitu saya pamit!" pria itu berdiri lalu meninggalkan kafe.
Alka menyesap kopinya dengan tatapan lurus ke depan.
-
-
Alka kembali ke rumah meminta Mama Lilis untuk menginap semalam dirumahnya. Ia ingin mencurahkan isi hatinya.
Ketika anak-anak sudah tidur, Alka dan ibunya berbicara berdua di meja makan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Tentang Shireen, Ma."
"Kenapa dengan dia?"
"Dia segera dilamar, Ma."
"Ya, syukurlah."
"Mama senang jika Shireen akan menikah?"
"Mama tak memikirkan perasaan anak-anak?"
"Anak-anak atau kamu?" balik bertanya.
Alka terdiam.
"Shireen sudah memberi tahu kami jika dia sebentar lagi akan dilamar dan kemungkinan tidak akan tinggal di kota ini setelah menikah."
"Lalu bagaimana tanggapan anak-anak?"
"Awalnya mereka tidak setuju, akhirnya Mama dan Shireen kasih penjelasan mereka pun paham."
Alka tak sanggup berkata-kata lagi.
"Apa kamu mencintainya?"
Alka belum menjawabnya.
"Mama tahu kamu mencintainya begitu juga dengan Shireen."
Alka menatap wajahnya.
"Kamu katakan saja yang sebenarnya kepada Shireen sebelum terlambat."
"Tapi, Ma..."
"Kamu mencintainya atau tidak?"
"Iya, Ma. Aku mencintainya," jawab Alka jujur.
Lilis tersenyum senang.
"Aku bingung mau mengatakannya, Ma."
"Apa perlu Mama bantu kamu?" Lilis menaikkan kedua alisnya.
"Tidak, Ma." Alka menggerakkan tangannya.
Lilis pun tersenyum.
__ADS_1
...----------------...
Keesokan harinya...
"Selamat pagi, Bu!"
"Selamat pagi, Mas!"
"Ada titipan bunga untuk Mba Shireen," ujar kurir.
"Terima kasih, Mas." Wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga menerimanya.
"Kalau begitu, saya permisi!" kurir pun pamit.
Wanita itu masuk ke dalam rumah, lalu menghampiri Shireen yang sedang sarapan. "Ada bunga untuk Mba Shireen." Menyerahkannya.
"Dari siapa?"
"Tidak tahu, Mba."
Shireen membaca secarik kertas yang ada di tangkai bunga tertera tulisan 'pagi' disertai emoticon senyuman.
Shireen juga tersenyum ia lalu menghubungi seseorang, "Halo!"
"Halo, Shireen. Tumben sekali menelepon ku pagi-pagi begini," ucap seorang pria dari kejauhan.
Shireen tertawa sedang, "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, sepagi ini kamu sudah mengirimkan bunga untukku!"
"Bunga?"
"Iya, bunga mawar yang sangat indah."
"Aku tidak mengirimkan bunga untukmu!"
"Jangan bohong, Gani!"
"Aku berkata jujur, Shireen. Aku tidak mengirimkan bunga untukmu. Mungkin itu dari penggemar rahasiamu."
"Memangnya aku selebritis hingga ada penggemar rahasia."
"Siapa tahu."
"Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya. Maaf, mengganggu waktumu."
"Tidak masalah."
Shireen menutup teleponnya. Lalu ia kembali menatap bunga mawar merah yang terdiri dari beberapa tangkai. "Lalu siapa yang mengirimkannya?"
Shireen berangkat ke tempat usaha miliknya menggunakan sepeda motor begitu sampai bunga mawar yang sama juga di kirim ke rukonya.
"Dari siapa?" tanyanya pada karyawannya.
"Tidak tahu, Bu."
Shireen memijit pelipisnya, "Kenapa dia tahu alamat ruko dan rumahku?"
Shireen semakin penasaran hingga mengganggu konsentrasinya dalam bekerja.
"Bu, pesanan Pak Alka bagaimana? Siapa yang akan mengantarnya?"
"Biar saya saja," jawabnya.
"Baik, Bu."
Tepat pukul 11 siang, Shireen mengantarkan pesanan Alka. Begitu sampai rumah tersebut tampak sepi tak ada penghuninya, ia lantas bertanya kepada tetangga dan menurut penuturan wanita itu jika anak-anak Alka berada di rumah Lilis.
Shireen akhirnya membawa pesanan Alka ke rumah Lilis. Sesampainya, Alka juga berada di sana. Pria itu tersenyum ke arahnya.
"Ini pesanannya, Mas!" ucap Shireen dengan nada dingin.
Alka meraihnya dan tersenyum, "Terima kasih."
"Sama-sama, Mas. Saya permisi!" pamitnya.
"Mau ke mana?"
"Mau kembali ke ruko, Mas."
"Kenapa buru-buru?"
"Masih banyak pekerjaan," jawab Shireen.
"Hari ini Raline berulang tahun kamu tidak mengucapkan selamat untuknya," ujar Alka.
"Kenapa Mas tidak memberitahu saya jika Raline berulang tahun? Saya tidak membawa kado untuknya."
__ADS_1
"Jangan pikirin kado, ayo masuk mereka menunggu kamu!"