Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 49 - Gagal Lagi


__ADS_3

Alka tersentak terbangun pukul 3 pagi, ia melihat ke arah istrinya yang terlelap tidur dengan mendekap Raline.


Alka mengacak rambutnya, malam pertamanya gagal dibuat anak-anaknya namun ia tidak bisa memarahi kedua buah hatinya. Ia mengecup dahi Raline dan Sean yang terlelap tidur.


Pandangannya kini tertuju pada wanita cantik yang ia nikahi beberapa jam yang lalu. Alka mengarahkan jemarinya menyentuh kulit wajah istrinya.


Shireen yang sedang tertidur mendapatkan sentuhan di wajah lantas tanpa sadar memukul tangan suaminya.


Alka tersentak kaget karena mendapatkan pukulan dari istrinya namun ia memastikan lagi bahwa Shireen benar-benar tertidur pulas atau sedang terjaga.


Cukup lama memandangi wajah istrinya, ternyata Shireen tertidur sangat nyenyak.


Alka kembali melanjutkan tidurnya dan memeluk Sean putra bungsunya yang perlahan mulai belajar berbicara.


...----------------...


Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Alka kembali terbangun namun istrinya belum juga membuka matanya.


Alka menyibak selimutnya lalu turun memutar ke sisi kanan ranjang yang di mana Shireen tidur, Alka duduk di samping istrinya memandangi wajahnya tersebut kemudian mengecup pipinya.


Shireen terbangun kala melihat Alka berada dihadapannya, ia bergegas duduk. "Mas, maaf!"


"Maaf?"


"Aku terlambat bangun malah Mas Alka yang membangunkanku," Shireen mengucek matanya.


"Tidak apa-apa," ucap Alka tersenyum.


Shireen menurunkan kakinya, "Aku akan buatkan sarapan untukmu, Mas!"


Alka mengiyakan.


Shireen mengikat rambutnya secara asal lalu pergi ke kamar mandi untuk menyikat giginya.


Tak lama kemudian Shireen keluar dari kamar mandi bergantian dengan suaminya.


Shireen sejenak melihat Raline dan Sean yang masih tertidur, ia lalu ke luar kamar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan buat suami dan kedua anak sambungnya.


Aktivitas di rumah mulai ramai karena beberapa keluarga masih menginap di rumah orang tuanya Shireen.


"Di mana suamimu?" tanya Arman.


"Lagi mandi, Pa."


"Raline dan Sean bersama kalian, ya?" tanya Arman lagi.


"Iya, Pa."


"Gagal dong malam pertamanya," ledek sepupu perempuan Shireen.


Yang diledek hanya tersipu malu.


"Tenang saja nanti masih ada malam-malam berikutnya," celetuk yang lainnya.


Shireen hanya diam, pipinya memerah.


"Kalian mau sarapan di kamar atau di sini?" tanya Ratih.


"Nanti tanya Mas Alka, Ma." Shireen masih mengaduk gula dan teh.

__ADS_1


Selesai menyiapkan teh, Shireen pergi ke kamar.


Alka baru saja selesai mandi dan lagi berpakaian.


"Mas, mau makan bersama dengan lainnya atau di sini?"


"Dengan mereka saja."


"Bagaimana dengan anak-anak?"


"Bangunkan saja!"


"Tidak apa, kan?"


"Tak apa, Shireen. Kamu sekarang ibunya, jadi mereka harus ikuti peraturan darimu," ujar Alka.


"Mas, aku tidak mau mereka menganggapku ibu tiri yang kejam," ucapnya.


Alka tergelak.


"Mas, aku serius!" memanyunkan bibirnya.


Alka mendekati istrinya lalu mengecup pipinya. "Aku juga serius!"


Shireen tersenyum ketika suaminya mengecup pipinya.


Alka lalu berjalan mendekati ranjang dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Sean sehingga balita itu merasa risih dan terbangun.


Alka juga menyentuh pipi Raline dan menggoyangkan pelan tubuhnya. "Cantik, ayo bangun!" ucapnya dengan lembut.


Dan benar saja, Raline membuka matanya. Gadis kecil itu menggeliatkan tubuhnya dan tersenyum pada ayahnya, ia segera duduk.


"Ayo mandi!" ucap Alka kepada kedua buah hatinya, ia menggendong tubuh Sean turun dari ranjang.


Gadis kecil itu mengangguk.


-


Selesai memandikan kedua bocah itu, mereka menikmati sarapan bersama dengan keluarga dan saudara yang lainnya di ruang makan.


"Raline, besok-besok kalau tidur jangan sama ayah dan mama," celetuk kakak ipar Shireen.


"Memangnya kenapa, Bibi?"


"Kalian memangnya tidak mau punya adik?" tanya wanita itu lagi yang bernama Dhea.


"Kakak!" Shireen menegurnya secara manja.


"Maulah, Bibi!" Raline begitu semangat.


"Makanya, jangan ganggu ayah dan mama kalian!" ucap Dhea.


"Baiklah, aku tidak akan ganggu mereka lagi," janji Raline.


Alka hanya pura-pura tak mendengar percakapan putrinya dengan kakak iparnya sementara Shireen pipinya memerah seperti warna tomat.


Orang-orang yang berada di ruangan itu mengulum senyumnya.


Begitu selesai sarapan dan membereskan beberapa barang yang akan dikembalikan pada pihak Wedding Organizer, kedua pengantin baru itu membuka kado pernikahan yang disaksikan beberapa orang keluarga.

__ADS_1


Raline dan Sean tampak begitu semangat ketika melihat kedua orang tuanya membuka kado.


Selesai membuka kado, Alka membantu istrinya mengemas pakaiannya karena sore ini juga mereka akan pulang ke rumah miliknya.


Ada perasaan sedih di dalam hati Ratih ketika putrinya harus pindah rumah.


Pukul 4 sore, Alka berpamitan kepada kedua mertuanya untuk membawa Shireen ke rumahnya tak lupa mereka membawa beberapa barang-barang pemberian kado dari para tamu undangan.


Begitu sampai di kediaman Alka, mereka disambut oleh Lilis dan putrinya. Varrel juga tak sabar menunggu ayah dan ibu barunya.


Begitu turun, Varrel berlari kecil menghampiri dan memeluk ayahnya.


Lisa membantu kakaknya menurunkan barang-barangnya dari mobil.


Selesai meletakkan beberapa barang Lilis membawa ketiga anak Alka dari pernikahannya dengan Rani pulang ke rumahnya.


Kini di rumah tinggal Alka dan Shireen, anak-anak telah dititipkan bersama neneknya.


Alka memeluk tubuh istrinya dari belakang, meletakkan dagunya di ceruk leher.


"Mas, ini masih jam delapan!" ujar Shireen yang degup jantungnya terus berdebar tak menentu.


"Memangnya kenapa kalau masih jam delapan?" Alka membalikkan tubuh istrinya dan keduanya saling berhadapan.


"Bagaimana jika ada tamu yang datang?" Shireen berkata dengan gugup.


Alka semakin menarik pinggang istrinya dan wajah keduanya sangat dekat. "Aku tidak akan membukanya!"


"Mas, kalau anak-anak tiba-tiba pulang bagaimana?"


"Mereka tidak akan pulang, ada Lisa yang akan membujuknya," jelas Alka.


"Tapi....."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya Alka segera membenamkan ciuman ke bibir istrinya membuat Shireen gelagapan. Maklum, ini ciuman pertama baginya.


Karena belum berpengalaman Shireen sampai menggigit lidah suaminya dan membuat Alka terkejut kemudian melepaskan pagutan bibirnya.


"Mas, aku minta maaf!" Shireen tampak ketakutan.


Alka masih memegang bibirnya lalu tersenyum, "Tidak masalah!" ia lantas menggendong tubuh istrinya ke kamar dan merebahkannya di atas ranjang.


Saling pandang, perlahan jemari Alka melepaskan kancing kemeja pakaian tidur yang dikenakan istrinya.


Alka mengecup bagian dada istrinya dan menyusuri isi dalam pakaian dengan lembut.


Shireen yang mulai merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.


Keduanya pun akhirnya membuka seluruh pakaiannya dan membiarkannya berserakan di lantai hingga puncak ketika di puncak kenikmatan ponsel Alka berdering cukup nyaring membuat keduanya yang sedang bercinta mengarahkan pandangannya pada benda yang terletak di atas nakas.


"Mas, ada telepon!" ucap Shireen.


"Biarkan saja!" ujar Alka yang sudah bermandikan keringat.


"Mas, cepat jawab siapa tahu penting," titah Shireen.


Alka akhirnya terpaksa mengakhiri pergulatannya lalu menjawab panggilan telepon dari adiknya.


"Halo, ada apa?"

__ADS_1


"Ayah, kenapa tidak menjemput kami?"


Alka menghela nafas pasrahnya kala mendengar suara putrinya dari kejauhan.


__ADS_2