
Shireen mengajak Raline jalan-jalan ke taman kota tentunya dengan seizin ayah dari gadis kecil tersebut.
Menikmati waktu sore hari, memperhatikan orang-orang lalu lalang dengan aktivitas berbeda.
Raline dan Shireen duduk sembari minum jus dalam kemasan gelas plastik bening dan makan cemilan bakso bakar.
"Apa kamu senang?"
Raline mengangguk.
"Kamu mau kita tiap hari ke sini?"
"Mau, Tante."
"Kalau tidak sibuk, Tante akan mengajak kamu berkeliling kota," ujar Shireen.
"Benarkah, Tante?"
"Ya," Shireen tersenyum dengan menggerakkan pelan dagunya.
"Dulu ayah dan ibu sering membawa ke sini tapi sekarang tidak lagi karena ibu tak mau bertemu dengan kami."
Shireen tersenyum lembut dan mengelus bahu gadis kecil itu.
"Ibu selalu bilang, kalau dia punya masalah dengan ayah. Aku tak tahu masalah mereka apa sampai ibu tak ingin mau ke rumah lagi."
"Kata Varrel, ayah dan ibu berpisah. Aku tidak mengerti, apa masalah orang besar itu terlalu rumit?" Raline menatap Shireen.
"Ketika kamu dewasa, pasti kamu akan mengerti. Jadi, nikmati saja waktumu sekarang untuk bermain, bernyanyi, tertawa dan Tante akan menemani kamu. Ayo kita pulang, ayahmu pasti juga sudah di rumah!" ajak Shireen.
-
Begitu sampai di rumah, Alka sudah pulang bekerja dan Mama Lilis juga telah kembali ke rumahnya.
Shireen hendak berpamitan pulang, namun ditahan Raline. "Kita makan dulu, Tante!"
Shireen menatap Alka.
"Kita makan malam sama-sama, Tante!" ajak Varrel.
Alka berkata, "Ya."
Shireen akhirnya duduk bersama di meja makan menikmati hidangan dari tempat usahanya sendiri.
Lagi menikmati makan malam, suara petir terdengar sangat kuat membuat Raline menjerit dan menutup telinganya. Sean pun menangis dengan kencang.
Shireen mendekap tubuh Raline. Sementara Alka berlari menghampiri putranya yang ada di karpet dan menggendongnya.
Shireen menatap luar.
Tak lama kemudian hujan deras mengiringi petir di tengah kemalaman.
"Lanjutkan lagi makannya, Raline!" titah Alka.
Raline melanjutkannya tanpa membantah.
Shireen juga melakukan hal sama seperti gadis kecil itu.
Hujan masih turun deras walaupun tanpa petir namun membuat jalanan banjir tapi tak memasuki pemukiman warga.
Varrel mengerjakan tugas sekolah, Raline mulai belajar walau hanya mencorat-coret buku.
__ADS_1
Sean bermain bersama Shireen.
Jarum menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit, namun hujan belum berhenti total.
Varrel dan Alka sudah tertidur di karpet namun tidak dengan Raline yang masih asyik bermain dan mengobrol.
Shireen menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata memerah karena menahan kantuk, ia terus memandangi jalan memikirkan cara agar bisa pulang tanpa harus terjebak banjir.
Hujan pun reda, Shireen berdiri, "Mas, saya pamit pulang."
"Rute jalanan yang sering kamu lalui sering banjir kemungkinan akan surut dua jam lagi. Ini juga sudah malam, lebih baik kamu menginap di sini!" saran Alka.
Shireen mengernyitkan keningnya.
"Tante tidur bersamaku saja!" ucap Raline.
"Saya tidak bisa, Mas." Shireen meraih tas dan helmnya.
"Saya tetap tidak akan mengizinkan kamu pulang sendirian!" Alka berkata dengan nada dingin.
"Mas, saya tidak mau terjadi fitnah di antara kita," ungkap Shireen.
Raline yang mendengar obrolan ayah dan Shireen akhirnya tak dapat menahan kantuknya lalu ia tertidur di kursi.
"Kamu pikir saya sebodoh itu, membiarkan wanita lain yang bukan siapa-siapa bermalam di sini," ujar Alka.
"Ya, kalau begitu biarkan saya pulang!" wajah Shireen tampak kesal.
"Jarak rumahmu dari sini cukup jauh memakan waktu setengah jam, jadi saya akan memanggil mama untuk menemani kita di sini!" ujar Alka.
Shireen akhirnya kembali duduk.
Tak sampai 10 menit, Mama Lilis datang.
Alka tidur bersama Varrel dan Sean di kamar pribadinya.
Sedangkan Shireen, Lilis, tidur di kamar anak-anak bersama Raline.
-
-
Tengah malam, Shireen terbangun karena haus ia berjalan ke dapur mengambil air minum.
Ia meraih teko air dan mengisinya ke dalam gelas, ketika bibirnya hendak menyentuh benda kaca itu suaranya mendengar sesuatu dengan cepat ia memundurkan kursinya dan berdiri.
"Shireen, kamu belum tidur?" tanya Alka yang muncul.
"Saya haus, Mas."
"Oh."
Shireen membawa gelas berisi air melangkah dengan cepat ke kamar.
...----------------...
Esok paginya, Shireen sibuk membantu Lilis memasak nasi goreng buat sarapan. Tak lupa juga makanan untuk Sean.
Alka yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, menarik tangan Shireen yang baru saja menghidangkan sarapan ke arah pintu tamu.
"Alka, mau di bawa ke mana?" tanya Lilis dengan suara kuat.
__ADS_1
"Beli pakaian, Ma." Jawab Alka dari kejauhan.
"Mas, kita mau ke mana?"
"Pakai sandalmu, kita akan beli pakaian di toko depan," jawabnya.
"Mas, sebentar lagi juga aku akan pulang."
"Anggap saja hadiah dariku," ucap Alka berjalan lebih dahulu.
"Alka, kekasihnya jangan ditinggal dong!" sindir ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
Shireen hanya tersenyum nyengir menyapa para ibu-ibu.
"Wah, wanita itu saingan Mitha," bisik ibu-ibu lainnya.
"Apa mereka tinggal serumah? Secara tiap hari selalu datang," ujar lainnya.
"Mungkin saja mereka sudah menikah cuma belum dicatat di negara," celetuk lainnya.
"Bisa jadi," sahut yang lain.
"Semoga saja Mas Alka mendapatkan istri yang lebih dari mantannya," harap Ibu RT yang ikutan nimbrung dengan para ibu lainnya.
"Semoga saja, Bu RT."
Sementara itu, Alka dan Shireen tiba di toko pakaian yang berjarak 200 meter dari rumahnya.
Keduanya masuk ke toko yang belum buka.
"Cepat pilih sepasang!" titahnya.
Shireen mengiyakan.
Alka mendekati wanita itu lalu berkata dengan suara lirih, "Sekaligus pakaian dalam."
Shireen mendelikkan matanya lalu menatap tajam Alka.
"Apa ada yang salah?" tanyanya polos.
"Silahkan tunggu di luar toko, saya tak suka jika saat memilih kamu terus mengikuti!" perintah Shireen ketus.
Alka pun menunggu di luar.
Tak sampai 15 menit akhirnya Shireen memanggil Alka untuk membayar tagihan belanja dan dirinya berjalan lebih dahulu ke rumah membawa kantong plastik pakaian.
Shireen meminta izin pada Raline untuk menumpang mandi di kamar dengan meminjam handuk gadis kecil itu.
Alka duduk di meja makan bersama anak-anaknya dan mamanya tak lama kemudian Shireen hadir di tengah mereka.
Selesai sarapan Alka mengantarkan Varrel ke sekolah lalu lanjut ke bengkel.
Shireen hendak pulang namun ditahan Raline. "Tante di sini saja lagi!" pintanya.
"Tante harus bekerja, besok lagi kita main, ya." Shireen mensejajarkan posisinya dengan gadis itu.
"Janji, ya!" Raline menyodorkan kelingking tangan kanannya.
Shireen tersenyum lalu menyatukan kelingkingnya dengan Raline.
Shireen pun pamit pada Lilis sekaligus memberi tahu jika hari ini ia tak mengantarkan katering, akan ada karyawannya yang menggantikannya.
__ADS_1