Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 61 - Ketahuan


__ADS_3

Keesokan harinya...


Rani diam-diam mendatangi teman kerja Bimo disebuah restoran tak jauh dari kantornya, ia bertanya apa yang lainnya lembur juga seperti suaminya namun jawabannya menyakitkan hatinya.


Dalam bulan ini, mereka hanya melakukan lembur 1 hari saja.


"Apa kalian tahu dia sering makan siang atau bertemu dengan siapa gitu?"


"Aku pernah melihat Bimo dengan Laras makan siang di mall, mungkin hal itu biasa 'ya. Secara mereka pernah satu sekolah dan Laras juga istri dari suaminya Rani. Kalian juga saling kenal," jelas rekan kerja wanita Bimo.


"Begitu, ya. Kalau begitu, terima kasih." Rina meninggalkan restoran.


Di dalam mobil Rina menghubungi Laras untuk memastikan kebenarannya. "Halo!"


"Halo, ada apa?"


"Apa kita sore ini bisa bertemu?"


"Mau apa?"


"Ada yang ingin aku tanyakan tentang Mas Bimo."


"Kenapa dengan Mas Bimo?"


"Kita akan bicarakan nanti, jam lima di kafe Melodi."


"Baiklah," Laras menutup teleponnya.


-


Sore harinya, Rina menunggu Laras. Hampir 20 menit di berada kafe akhirnya wanita itu datang.


Laras duduk saling berhadapan.


"Silahkan pesan minuman!"


"Ini saja!" Laras menunjuk air mineral dalam kemasan botol yang terletak di meja.


"Ya sudah!"


"Cepat katakan, apa yang mau dibicarakan. Tak perlu berbasa-basi," ucap Laras.


"Apa kamu pernah makan siang bersama Mas Bimo?"


Laras terdiam sejenak lalu menjawab, "Ya."


"Kenapa kalian bisa makan siang bersama?"


"Kebetulan kami bertemu di mall."


"Bukan kamu 'kan yang menjadi simpanan suamiku?"


Deg..


"Maksudnya apa?" wajah Laras berubah.


"Aku curiga dia berselingkuh, aku tanya dengan teman-temannya kalian pernah makan siang bersama."


"Oh, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kamu jangan khawatir," ujar Laras.


"Semoga saja bukan kamu selingkuhannya!" tuding Rina.


"Mungkin ini karma untukmu," celetuk Laras.


"Karma?"


"Apa kamu ingat ketika suamiku diambil adikmu?"


Rina terdiam dan berpikir.


"Bisa jadi 'kan."


"Rani dan Andri mereka saling mencintai," ujar Rina.


"Mungkin Mas Bimo mencintai wanita itu juga."


Rina lagi-lagi dibungkam.


"Hm, aku harus menjemput putriku," Laras tersenyum dan beranjak berdiri. "Kalau begitu aku pamit, ya!" lanjutnya.


...*****...


Sebulan kemudian....


Bimo mengajak istrinya mengobrol di kamar, keduanya duduk di sisi ranjang.


"Mas, ingin bicara apa?"


"Aku ingin mengakhiri hubungan pernikahan kita."


Bagai disambar petir, jantung Rina seakan berhenti berdetak.


"Maafkan aku!"


"Apa salahku, Mas?" Rina bertanya gugup.


"Kamu tidak salah, aku yang salah telah mencintai wanita lain."


"Kamu mengkhianati pernikahan kita, Mas!" Air mata Rina tak terbendung lagi.


"Aku minta maaf, Rina."


"Mas, kita menikah sudah lebih dari sebelas tahun. Apa kurang aku, Mas?" menatap wajah suaminya dengan nada tinggi.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi, tapi kamu jangan khawatir tiap bulan aku akan mengirimkan biaya keperluan buat anak-anak."


"Aku tidak mau kita berpisah, Mas!" berkata tegas.


"Aku harus menceraikan kamu karena dia tidak ingin dimadu!"


Rina memegang dadanya yang terasa sesak.


"Malam ini juga aku akan keluar dari rumah, aku izinkan kamu tinggal di sini bersama anak-anak karena ini juga akan menjadi warisan untuk mereka!" Bimo mengeluarkan pakaiannya dari lemarinya ke dalam koper.


Rina berdiri lantas memegang lengan suaminya, "Aku mohon jangan tinggalkan kami, Mas!"


"Maafkan aku, Rina. Besok pagi aku akan ke rumah orang tuamu dan mengatakan hal ini!" Bimo melepaskan genggaman Rina.


"Mas, aku mohon!" mengiba dengan air mata terus mengalir.


Bimo tak memperdulikan tangisan wanita yang sudah ia kenal 13 tahun lalu. Menarik koper menuju parkiran mobil.


Rina mengejar suaminya, "Mas!"


Bimo menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan kediamannya.


Rina kemudian menelepon adiknya Rani, ia ingin mencurahkan isi hatinya malam ini juga.

__ADS_1


Tak sampai sejam, Rani datang ia lantas memeluk kakaknya begitu juga dengan anak-anaknya Rina yang baru tahu jika papanya sudah menceraikan mamanya karena tadi mereka sedang berada diluar rumah mengikuti latihan taekwondo.


"Yang sabar 'ya, Kak!" Rani menguatkan kakak kandungnya.


"Kakak tidak ingin berpisah dengan Mas Bimo!" ucapnya terisak.


"Ya, kita harus bagaimana lagi?" tanya Rani juga bingung.


"Tolong, bujuk Mas Bimo!" jawabnya.


"Kak, aku tidak bisa membujuknya."


"Kenapa?"


Rani melihat kearah kedua keponakannya. "Kalian bisa tinggalkan Tante dan Mama berdua?" pintanya lembut.


"Bisa, Tante!" jawab keponakan perempuan Rani yang merupakan anak pertama Rina dan Bimo.


Kedua bocah dibawah 11 tahun itu keluar kamar.


"Kak, aku tidak bisa menasehati bahkan membujuk Mas Bimo karena Mas Alka pernah diposisi Kak Rina saat ini. Sampai sekarang aku sangat menyesal meninggalkan dia," Rani malah jadi curhat.


"Seharusnya kamu yang mendapatkan karma ini, Rani. Bukan Kakak!" meninggikan suaranya.


"Sudahlah, Kak. Lupakan saja Mas Bimo, kalau dia bosan dengan wanita itu pasti dia akan kembali mengejar Kakak!"


"Kamu bicara begitu karena tidak di posisi Kakak!"


"Iya, aku tahu. Lebih baik Kakak harus tampil cantik dan seksi seperti aku, tinggal kita gaet saja para pria kaya raya," Rani memberikan saran.


"Kalau tidak ada, bagaimana?"


"Ya, harus usaha lagi!" jawab Rani.


"Kakakmu sedang bersedih, kamu malah menyuruhku menjadi simpanan orang!"


"Kak, suami kita berselingkuh kita harus balas juga!"


Rina terdiam.


"Hari ini aku juga lagi senang," ujar Rani.


"Senang kenapa?"


"Andri menceraikan Laras," jawab Rani tersenyum puas.


"Kenapa Andri menceraikannya?"


"Laras ketahuan teleponan dengan pria lain begitu mesra dan dia mengakui jika memang memiliki hubungan spesial," jelas Rani lagi.


"Kenapa hampir sama?" lirihnya.


"Sama bagaimana?"


"Mas Bimo menceraikan aku begitu juga dengan Laras. Apa ada hubungannya diantara mereka?" tebak Rina.


"Maksud Kak Rina, Mas Bimo selingkuh dengan Laras?"


"Hanya kemungkinan saja. Memangnya kamu tahu Laras selingkuh dengan siapa?"


Rani menggelengkan kepalanya.


...----------------...


Keesokan harinya, Bimo datang ke rumah orang tuanya Rina menyampaikan kabar tidak sedap itu.


Andi dan Rita tampak syok mendengarnya.


"Papa tak bisa mencegah kamu untuk meninggalkan putri kami, tapi bagaimana dengan anak-anak kalian?"


"Aku tetap akan memberikan uang untuk kebutuhan anak-anak, Pa."


Andi mengangguk mengiyakan.


Bimo pun pamit meninggalkan rumah mertuanya yang sebentar lagi akan jadi mantan.


Andi menyandarkan tubuhnya di kursi dan menghela nafasnya. "Apa ini balasan apa yang dilakukan Rani dulu?" lirihnya.


"Sekarang anak kita Rina mengalaminya," jawab Rita yang juga menangis. Baginya, Bimo adalah menantu yang baik dan suka memberikan dirinya uang, makanan dan barang-barang mewah.


-


-


Dilain tempat, Andri duduk melamun ia tak menyangka istrinya mengkhianati dirinya padahal Laras sendiri yang memintanya untuk tidak menceritakannya sekarang malah wanita itu dengan senang hati menerima talak darinya.


"Diminum!" Rani menghilangkan secangkir teh.


"Terima kasih!" ucapnya pelan.


"Aku senang sekarang kamu menjadi satu-satunya milikku!" Rani memeluk tubuh suaminya yang duduk disampingnya.


Andri mendorong pelan tubuh istrinya.


"Aku tahu kamu sedang bersedih tapi jangan memperlakukan aku seperti ini!" Rani memasang wajah cemberut.


"Maafkan aku, Rani!" ucapnya.


"Ya," Rani kembali tersenyum dan memeluknya. "Kamu jangan bersedih lagi, ada aku bersamamu!" lanjutnya.


"Kamu jangan pernah meninggalkan aku, ya!" mohonnya.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu!" janjinya tersenyum palsu.


...----------------...


Sebulan kemudian...


Andri tak bisa berlama-lama terpuruk dalam kesedihannya, proses perceraiannya di pengadilan juga sudah selesai.


Ya, hari ini ia akan melakukan perjalanan keluar kota beberapa hari ke depan untuk urusan pekerjaan.


Kabar ini menjadi angin segar bagi Rani yang bisa berduaan dengan penggemar dirinya.


Setelah suaminya pergi, Rani memakai parfum dan berdandan cantik ia mengendarai mobilnya menuju sebuah hotel. Ya, dia memiliki janji dengan pria itu di sana.


Baru saja menginjakkan kakinya di hotel tersebut ia berpapasan dengan Alka dan Shireen yang baru saja keluar dari tempat penginapan itu.


"Rani!" sapa Alka.


"Hei, Mas!" Rani tersenyum.


"Kamu kenapa di sini?" tanya Alka.


"Aku ada urusan dengan teman di sini, Mas."


"Oh, begitu," ucap Alka.

__ADS_1


"Mas, kenapa di sini juga?"


"Kami baru menghadiri undangan pernikahan di gedung ini," jawab Alka.


"Oh."


"Kalau begitu kami pulang," pamit Alka.


"Ya, Mas," Rani kembali melemparkan senyumnya.


"Permisi," ujar Shireen tanpa senyum.


Alka menggandeng tangan istrinya, Rani melihat mantan suaminya begitu sangat mesra dan romantis.


"Ciih..... pemandangan yang sangat menyebalkan!" batin Rani.


Ia kembali melanjutkan langkahnya ke sebuah kamar hotel. Begitu sampai, ia mengetuk pintu dan seorang pria mempersilakannya masuk.


Keduanya saling berpelukan dan berciuman di bibir.


Rani melepaskan tautan bibirnya.


"Aku menginginkan lebih, Rani!" mohonnya.


"Tidak bisa!"


"Kapan kamu akan meninggalkan dia?"


"Jika kamu mau berjanji menikahi aku tidak masalah meninggalkan dia!"


"Baiklah, aku akan menikahi kamu tanpa hukum negara dan ku juga tidak ingin memiliki anak diantara kita," ujar pria itu.


"Kenapa kamu tidak mau menikahi aku secara negara?"


"Aku tidak mau kamu menuntut harta setelah kita berpisah!"


Rani tertawa.


"Aku hanya ingin tubuhmu saja!"


"Seandainya kita menikah, apa kamu mengizinkan aku dekat dengan pria lain?"


"Silahkan, aku tidak masalah. Tapi, aku minta kamu tidak berhubungan badan selain denganku!"


"Baiklah, aku setuju!"


"Kapan kamu meminta cerai darinya?"


"Setelah dia pulang dari luar kota!"


"Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu," Pria itu mencium punggung tangan Rani.


Sementara itu, Shireen yang sedang berada di dalam mobil berkata, "Mantan istri Mas Alka semakin lama semakin cantik, ya!"


"Ya."


Shireen memukul lengan suaminya.


"Kenapa memukulku?"


"Kenapa harus jawab ya?"


"Kamu 'kan tanya."


"Iya, tapi tak harus dijawab."


"Salah lagi," keluh Alka.


"Apa Mas Alka tidak curiga dengan Kak Rani?"


"Curiga kenapa?"


"Dia datang dengan pakaian seperti itu. Kan, sangat mencurigakan," ungkap Shireen.


"Bukan urusanku lagi, dia mau apa. Jika kamu berpakaian seperti tadi aku akan marah besar," ujar Alka. Karena tadi mantan istrinya memakai dress selutut tanpa lengan menampakkan belahan dadanya.


"Aku juga tidak mau, apalagi dengan perut sebesar ini," matanya tertuju pada perut membuncit.


Alka mengelus perut istrinya. "Sehabis melahirkan pun kamu akan ku larang memakai pakaian seperti itu. Kecuali, di dalam kamar berduaan dengan ku. Aku tidak akan melarangnya."


"Itu maunya Mas!"


Alka tersenyum sembari mengacak rambut istrinya.


...******...


Andri yang baru saja pulang dari luar kota, tampak terkejut ketika istrinya Rani meminta pisah.


"Kamu tidak salah?"


"Tidak, Mas."


"Kenapa kamu ingin berpisah dariku?"


"Aku sudah bosan dengan pernikahan kita."


"Tidak, aku takkan menceraikanmu!"


"Mas, aku sudah tidak mencintaimu lagi!"


"Kamu pernah janji tidak akan meninggalkan aku!"


"Ya, memang aku sudah berjanji. Tapi, pria lain lebih menarik di mataku," ujar Rani.


"Kenapa kamu sama saja seperti Laras?" Andri bertanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu saja pernah berselingkuh," jawab Rani santai.


"Tapi, aku sudah berjanji pada kalian tidak akan mengulanginya lagi," ujar Andri.


"Tapi, kami sudah terlanjur melakukannya. Maaf, kita harus berpisah. Seluruh urusan pengadilan biar ku yang mengurusnya. Mas, tinggal diam saja dan menerima surat panggilan."


Andri mendekati istrinya dan mengeraskan rahangnya. Ia mencengkram lengan Rani, "Siapa pria itu?"


"Pria mana?"


"Pria yang sudah merebutmu dariku."


"Kamu tidak perlu tahu!"


"Rani!" sentaknya.


Rani mendorong pelan tubuh suaminya, "Jangan membentakku, hari ini juga aku akan angkat kaki dari sini!" Ia berjalan ke kamar mengambil pakaian dan beberapa barangnya.


Andri yang duduk di ruang tamu, membiarkan istrinya pergi begitu saja dan tak mengejarnya bahkan ia tak menghiraukan Rani berpamitan.


Mobil Rani pun meninggalkan rumah Andri.

__ADS_1


Suara deru mobil Rani sudah menjauh, Andri menundukkan kepalanya dan menangis. Rumah tangganya hancur berantakan. Dua orang istrinya mengkhianatinya.


"Mungkin ini balasan yang Tuhan berikan untukku!"


__ADS_2