
Shireen menjemput Varrel ke sekolah, sepulangnya mereka menikmati makan bakso berdua di warung tak jauh dari rumah Alka.
"Tante!"
"Ya."
"Kenapa Tante tidak menikah dengan ayah?"
Shireen menghentikan suapannya.
"Apa Tante tidak menyukai ayah?"
Shireen tersenyum, "Menikah atau tidaknya, Tante tetap menyayangi kalian!"
"Tante selalu punya ada waktu untuk kami," celotehnya.
"Kebetulan saja Tante tidak terlalu sibuk jadi bisa punya waktu untuk kalian," jelas Shireen.
"Tante, jangan pernah tinggalkan kami, ya!" pintanya.
Shireen mengangguk.
-
Selepas dari makan bakso, keduanya singgah di minimarket. Varrel membeli beberapa susu kotak siap minum, makanan ringan dan 2 batang cokelat.
Shireen membayar belanjaannya.
Ketika hendak menghidupkan mesin motor, seorang wanita menghampirinya.
"Varrel!" lirihnya.
Bocah laki-laki itu menatap lalu mendekati dan memeluknya, "Ibu!" air matanya menetes.
Rani memegang wajah Varrel dan mengecupnya pucuk kepala putranya berulang kali.
"Ibu, aku rindu!" ucapnya dengan air mata menetes.
"Ibu juga, Nak!" Rani tak bisa menahan buliran kristal yang jatuh di pipinya.
Shireen berdiri, matanya berkaca-kaca menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu.
"Ayo kita ke rumah. Raline dan Sean pasti merasa senang jika bertemu dengan Ibu," ajak Varrel.
"Ibu tak bisa, Nak."
"Kenapa?"
"Ibu harus kembali ke kantor," jawabnya berbohong. "Ini ada uang buat kamu dan adik-adik jajan!" Rani meraih telapak tangan Varrel dan meletakkan 5 lembar uang berwarna merah.
"Terima kasih, Bu."
"Ibu harus pergi, jaga diri kalian. Ibu sangat menyayangi kamu, Raline dan Sean!" Ia mencium pipi putranya dan sejenak memeluk.
"Bu!"
"Sampai jumpa lagi!" Rani melambaikan tangan lalu berjalan ke arah mobilnya sesekali menyeka air matanya.
Varrel terisak memandangi mobil yang dikendarai ibunya.
Shireen memegang bahu Varrel, "Ayo kita pulang!"
"Aku masih ingin melihat ibu, Tante," ucapnya lirih.
"Ibumu sudah pergi, mari kita pulang!" ajaknya.
-
-
Sore harinya, ketika Alka pulang dari bengkel. Raline dan Varrel menghampirinya.
"Ayah tadi aku bertemu dengan ibu," ujar Varrel.
Alka hanya diam saja.
"Ibu juga memberikan aku uang!" ujar Varrel lagi.
__ADS_1
"Ayah, kenapa diam saja?" tanya Raline.
"Ayah sangat lelah hari ini, boleh Ayah mandi dulu?" tanyanya pada kedua anaknya.
"Iya, Yah!" jawab kedua anaknya serentak.
Alka pergi mandi, setelah itu ia lantas bertanya pada Mama Lilis. "Apa benar Varrel tadi bertemu dengan Rani, Ma?"
"Ya, kata Shireen mereka bertemu di depan minimarket. Rani juga memberikan uang jajan," jelas Lilis.
"Kemana saja dia selama ini?" keluhnya.
"Rani tak memberi tahu alasannya," jawabnya.
Alka tersenyum smirk.
"Kamu tidak mengharapkan Rani lagi, kan?"
Alka tak segera menjawab.
"Mama tidak mau kamu kembali lagi padanya," ucap Lilis.
"Ma, Rani sekarang sudah menikah. Aku mendapatkan foto pernikahannya dari Kak Rina," jelas Alka.
"Mereka memang tak punya hati, apa maksudnya mengirimkan foto pernikahan Rani?"
"Mungkin mereka tidak ingin aku berharap lagi padanya."
"Mama juga tak setuju kamu kembali pada Rani yang berani berselingkuh dan menyia-nyiakan anak-anaknya!"
"Ya, Ma. Aku pun tak ingin kembali lagi padanya."
"Bagaimana kalau kamu menikah dengan Shireen saja?"
"Aku tidak menyukainya, Ma."
"Kenapa?"
"Bibi!"
Alka dan Lilis segera menoleh, wajah ibu dan anak tampak berubah.
"Terima kasih, Shireen," ucap Lilis terbata.
"Kalau begitu saya pamit, Bi." Shireen pun berlalu.
"Alka, bagaimana jika Shireen dengar percakapan kamu tadi?" Lilis tampak ketakutan karena ia tak ingin menyakiti hati wanita itu.
"Aku juga tidak tahu, Ma." Alka merasa bersalah, pasti Shireen telah salah paham.
Sementara itu, Shireen mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia berusaha menahan air matanya tak jatuh berlinang, "Kenapa sakit sekali mendengarnya?"
...----------------...
Tiga hari kemudian....
Shireen berusaha melupakan ucapan Alka yang tak menyukainya. Seharusnya ia sadar diri dan tak berharap lebih kepada dudanya Rani.
Siang ini ia datang karena Varrel berulang tahun yang ketujuh.
Shireen membawakan kue ulang tahun dan sebuah kado cat air untuk melukis karena bocah itu suka mewarnai.
Alka tampak kaku ketika bertemu dengan Shireen, karena ucapan yang tak sengaja ia lontarkan.
"Varrel, selamat ulang tahun!" ucap Shireen.
"Terima kasih, Tante!"
"Mari kita makan!" ajak Lilis.
Di meja makan tampak adik kandung Alka dan suaminya. Lilis menggendong cucunya yang masih dibawah 1 tahun.
Shireen makan seperti biasa, namun ia mengurangi intensitas obrolan dengan Alka.
Sejam kemudian, Lisa dan suaminya pamit pulang.
Shireen ingin pulang namun ditahan Varrel dan Raline. Apalagi Sean yang menjerit menangis di tinggal olehnya.
__ADS_1
Lagi asyik bercanda, tiba-tiba pintu pagar terbuka. Seluruh penghuni rumah melihat siapa gerangan tamu yang datang.
Varrel berteriak riang kala melihat seseorang yang hadir. "Ibu!" ia memeluknya.
Raline hanya memandangi wanita itu dan memilih bersembunyi di belakang tubuh Shireen.
Rani melihat putrinya menghindarinya.
"Kenapa kamu ke sini lagi? Bukankah kamu tidak ingin bertemu dengan anak-anak?" tanya Alka dengan tatapan tajam.
Lilis membawa cucu-cucunya ke dalam kamar.
"Aku minta maaf, Mas!"
"Sudah terlambat, Rani!" ucap Alka dingin.
"Mas, aku ingin menebus kesalahanku," ujar Rani.
"Enam bulan kamu pergi, tanpa pernah tahu bagaimana kondisi anak-anakmu. Sekarang kami sudah melupakanmu, kamu malah hadir lagi."
"Aku minta maaf, Mas. Andri tak mengizinkan aku bertemu dengan anak-anak," Rani memberikan alasan.
"Lebih baik kamu turuti saja perintah suamimu!"
"Mas, aku tidak bisa. Aku seorang Ibu, rasa rinduku kepada mereka sungguh besar, aku ingin membawa salah satu dari mereka untuk tinggal denganku," ujar Rani
"Aku tidak mengizinkannya!" berkata secara tegas.
"Mas, mereka anak-anakku juga!"
"Kenapa kamu baru mengakuinya?"
"Aku sudah katakan Mas Andri melarangku."
"Sudah tahu suamimu melarang, kenapa mau membawa salah satu dari mereka?"
"Aku ingin menebus kesalahanku, Mas."
"Pergilah, kami sekarang sudah bahagia!" kata Alka tegas.
"Apa karena wanita ini Mas melarangku membawa anak-anak?" Rani menunjuk wajah Shireen.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia!" jawab Alka.
"Mas, dia sudah merebut hati anak-anakku!" tunjuknya lagi.
"Memangnya kenapa? Dia juga bakalan menjadi ibu mereka," ucap Alka.
Shireen tampak kaget dengan ucapan Alka, ia lantas menoleh ke arahnya.
"Jadi, benar. Mas memang memiliki hubungan dengan wanita ini!" wajah Shireen kembali ditunjuk Rani.
"Kamu jangan membalikkan fakta, Rani. Kamu sendiri yang meminta kita berpisah, kenapa malah menyalahkan orang lain?"
"Mas, kalau bukan karena wanita ini. Pasti kamu akan mempertahankan aku!"
"Aku menceraikan kamu karena sudah lelah mendengar keluhan yang keluar dari mulutmu apalagi kamu mengatakan jika mencintai pria itu!" Alka menekankan kata-katanya.
Rani tak mampu berkata-kata lagi, ia meletakkan kado di atas meja tamu kemudian ia pergi dari rumah mantan suaminya.
Alka menghembuskan nafas dengan kasar, ia terduduk sembari memijit pelipisnya.
"Mas, sepertinya saya harus menjauh dari anak-anak. Ibunya cemburu padaku karena dekat dengan mereka," ucap Shireen lirih.
Alka lantas berdiri, "Shireen, cukup!" sentaknya.
Shireen terperanjat.
"Jangan tambah masalah lagi, kamu paham 'kan!" Alka berkata dengan nada tinggi, ia lalu pergi ke kamarnya.
Mata Shireen berkaca-kaca mendengar Alka berkata dengan nada tinggi.
Lilis keluar kamar disusul anak-anak, Shireen sedang menahan tangisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Lilis.
"Tidak apa-apa, Bi." Shireen memaksakan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu yakin, Shireen?"
"Iya, Bi. Kalau begitu saya pamit!" Shireen meraih tas kemudian berlalu.