Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 28 - Begitu Khawatir


__ADS_3

Seminggu ini Shireen tak mengantarkan katering ke rumah Alka, hal itu membuat Raline selalu bertanya pada ayahnya.


"Tante Iren apa sudah tak sayang aku, Yah?"


"Kenapa bicara seperti itu?" Alka memangku putrinya yang sedang sakit sembari mengelus rambutnya.


"Bukan Tante Iren yang mengantarnya."


Sejak Shireen sakit, Alka selalu menelepon tempat usaha milik wanita itu karena ia tak ingin merepotkannya.


"Ayah telepon Tante Iren!" desaknya.


"Mau apa kita meneleponnya?"


"Aku rindu padanya, Yah." Rengeknya manja.


"Kata karyawan yang mengantar, Shireen pergi ke Jogja," tukas Lilis.


"Kapan perginya, Ma?"


"Dua hari yang lalu."


"Apa dia sedang liburan?" tanya Alka pada Lilis.


"Mama tidak tahu, karyawannya tak menjelaskannya," jawabnya. "Coba kamu hubungi saja!" sarannya.


"Tidaklah, Ma," Alka menolaknya.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Ayah telepon Tante Iren!" mohon Raline.


"Tante Iren lagi sibuk, kalau dia sudah selesai urusannya pasti akan menemui kamu," ucap Alka.


"Aku tetap mau, mengobrol dengan Tante Iren!" Raline semakin menangis.


"Baiklah, kita telepon Tante Iren, ya!" Alka mencari kontak Shireen dan menghubunginya namun tidak aktif.


"Bagaimana Ayah?" Raline tak sabar.


"Ponsel Tante Iren mati."


"Ayah pasti bohong!" Raline berkata dengan nada tinggi.


"Ayah tidak bohong, Raline." Alka berkata lembut.


Lilis memeluk cucunya, "Sayang, besok lagi kita telepon. Mungkin Tante Iren sedang tidur."


"Aku tidak percaya, Nek!" Raline semakin mengencangkan tangisannya.


"Raline, kamu bisa diam tidak!" bentak Alka.


Raline terdiam, ia menghapus air matanya dengan bahu bergetar.


"Maafkan Ayah, Nak!" Alka lantas memeluk putrinya.


"Ayah jahat!" Raline berlari ke kamar dengan keadaan menangis.


"Raline sakit bersamaan dengan keberangkatan Shireen ke Joga," ucap Lilis.


"Itu hanya kebetulan saja, Ma."


"Mungkin tapi Raline sangat menyayangi Shireen," ujar Lilis.


"Ma, Raline dekat dengan Shireen karena mereka tiap hari bertemu. Lama-kelamaan pun Raline juga akan melupakan dia," ucap Alka.


"Itu menurutmu, bagaimana kalau tidak?"


"Raline belum terbiasa saja, Ma."


Lilis pun memilih diam.


...----------------...


Keesokan paginya, Alka ke tempat usaha milik Shireen sekaligus mengantarkan pakaian kotornya, seminggu ini hanya karyawan laundry atau katering yang datang mengambil ke rumah.


"Pagi, Mba!"


"Pagi, Pak. Bu Shireen belum pulang dari Jogja," ucap salah satu karyawan tanpa di minta.

__ADS_1


"Maaf, kalau boleh saya tahu. Bu Shireen ke Jogja ada tujuan apa, ya?"


"Orang tuanya meminta Bu Shireen di rawat di sana, itu pun yang menjemputnya Pak Radit kemari," jelasnya.


"Begitu, ya."


"Ya, Pak."


"Terima kasih infonya, pesanan saya hari ini bakwan jagung, nugget ayam dan sop sayur."


"Baik, Pak. Kami akan antarkan!"


Alka menyerahkan uang setelah itu ia pergi.


Di bengkel Alka memikirkan perkataan karyawan Shireen yang mengatakan kalau wanita itu di rawat. "Sebenarnya dia sakit apa?"


Gara-gara memikirkan sakitnya Shireen, ia sampai tak berkonsentrasi bekerja.


Alka mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi kembali Shireen. Nomor telepon aktif tetapi tak di jawab, bukan hanya sekali. Alka sampai 3 kali meneleponnya tetap tidak ada jawaban.


"Di mana dia?"


...----------------...


Dua hari kemudian....


Shireen belum kembali pulang, Raline selalu menanyakan hal itu pada karyawan yang mengantarkan katering.


"Nenek, Tante Iren ke mana, sih?"


"Tante Iren lagi rindu dengan orang tuanya, jadi kamu harus sabar," jawab Lilis.


"Tapi, kenapa Tante Iren tak bisa dihubungi ayah?"


"Mungkin saja lagi sibuk," jawab Lilis.


Raline memeluk Lilis dan menangis di pelukannya. "Tak ada teman aku main, Nek!" sesekali menyeka air yang keluar dari hidungnya.


"Ada Kak Varrel, Sean, Nenek."


"Tapi, aku mau Tante Iren, Nek!" ucapnya dengan terisak.


"Nenek akan menyuruh ayah kamu menelepon Tante Iren," Lilis menelepon putranya jika Raline selalu menanyakan Shireen.


Dan Shireen, wanita yang sudah membuat Raline begitu menyayangi dan merindukannya sulit dihubungi. Nomor ponselnya selalu aktif tapi tak pernah ada jawaban.


Alka mencoba menghubungi Shireen lagi, kali ini nomor ponselnya tak aktif.


Alka mengirimkan pesan kepada Lilis kalau Shireen tak bisa dihubungi.


"Mas, ada tamu!" panggil Derry membuat Alka segera menoleh.


"Siapa?"


"Wanita yang datang kemarin bersama Varrel."


"Oh, saya akan menemuinya," ucap Alka.


Derry kembali bekerja.


Alka memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu menemui tamunya.


Siska melemparkan senyumnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Saya ingin servis motor, Pak."


"Jauh sekali sampai ke sini, servis motornya," ujar Alka.


"Aku sengaja ke sini, biar ketemu dengan kamu, Pak."


"Kebetulan saya main ke rumah teman yang ada diujung jalan jadi sekalian saja singgah kemari," ucap Siska berbohong.


"Oh, begitu."


"Ya, Pak." Siska tersenyum.


Alka memperbaiki motor Siska.


"Bagaimana kabar anak-anak, Pak?"

__ADS_1


"Semua sehat kecuali Raline."


"Memangnya Raline sakit apa?"


"Sudah beberapa hari ini demam, Bu."


"Apa sudah dibawa ke dokter?"


"Sudah, biasanya tak pernah sampai berhari-hari mungkin dia rindu seseorang."


"Memangnya dia rindu siapa, Pak?"


"Shireen."


Siska tak suka mendengar nama itu, "Dia lagi?"


"Kalau rindu harus diobati 'kan, Bu?"


"Iya, Pak. Obatnya memang bertemu, bukankah Bu Shireen sering ke rumah?"


"Sudah seminggu ini dia berada di luar kota."


"Oh, begitu."


-


-


Malam harinya selepas makan dan anak-anak tidur, Alka kembali menghubungi Shireen. Menunggu beberapa detik akhirnya ada suara jawaban.


"Halo, Shireen. Kamu di mana? Kenapa tidak memberi tahu kami jika kamu pergi? Kenapa baru menjawab panggilan saya?" cecarnya.


"Mas Alka, mengkhawatirkan aku?"


"Aku?"


"Maaf, Mas. Maksudnya begitu khawatirnya Mas Alka pada saya," jelas Shireen.


"Kamu baik-baik saja, kan?"


"Ya, Mas."


"Syukurlah."


"Ada apa mencari saya, Mas?"


"Kamu tidak tahu, saya berkali-kali menghubungimu. Kadang aktif kadang tidak, kamu ingin menjauhi kami, ya?"


"Maaf, telah membuat Mas Alka khawatir. Saya bukan menjauh tapi ada satu hal yang tidak bisa saya ceritakan."


"Baiklah, saya tidak akan memaksamu bercerita. Asal kamu tahu, Raline sakit. Dia ingin bertemu dengan kamu!"


"Raline sakit?"


"Ya, dia selalu menanyakan kamu."


"Lusa saya akan kembali, jangan beri tahu hal ini. Biarkan menjadi kejutan untuknya," ujar Shireen.


"Baiklah, saya tidak akan memberitahu dia. Tapi, kamu harus janji pada saya untuk tetap kembali ke sini!"


"Apa Mas Alka juga rindu pada saya?"


Alka terdiam.


Suara tertawa diujung telepon, membuat Alka menarik sudut bibirnya. "Saya bercanda, Mas. Maaf!"


"Ya, tidak apa-apa."


"Ya, Mas."


"Kabari saya jika kamu akan pulang," ujar Alka.


"Kita seperti suami istri saja 'ya, Mas. Saya pulang harus mengabari Mas Alka," celetuk Shireen.


"Astaga, aku bicara apa?"


"Mas, saya akan kabari kalau berangkat dari sini. Yang penting Mas Alka harus jaga kesehatan agar bisa menjaga Raline yang super cerewet itu."


"Ya, itu pasti."


"Sampai jumpa di sana, Mas!" Shireen menutup teleponnya.

__ADS_1


Alka geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


__ADS_2