
Alka menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya setelah menutup telepon dari putrinya.
"Kenapa dengan Raline, Mas?"
"Dia meminta aku menjemputnya."
"Ya sudah sana, jemput!"
Alka menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku belum selesai menuntaskannya."
Shireen mengerutkan keningnya.
Alka yang tanpa permisi lantas menerjang tubuh istrinya dan mereka kembali bergulat di dalam selimut.
Akhirnya pukul 11 malam keduanya selesai bertarung di ranjang.
Shireen yang sangat kelelahan memejamkan matanya sementara Alka yang masih membuka mata berbaring disebelah istrinya dengan nafas ngos-ngosan.
Ia sejenak melihat ke arah istrinya lalu tersenyum kemudian mengecup kening Shireen dan terlelap tidur memeluknya.
Dilain tempat waktu yang sama, Raline menggoyangkan tubuh Lilis. "Nenek, bangun!"
Lilis mengucek matanya, "Ada apa?"
"Kenapa ayah tidak menjemput kami? Katanya dia akan datang," duduk di samping neneknya dengan wajah ditekuk.
"Ini sudah larut malam, jadi ayahmu menjemputnya besok pagi," Lilis memberikan alasan.
"Memangnya ayah ke mana, sampai dia tidak sempat menjemput kami?"
"Ada urusan dengan Mama Shireen," jawab Lilis.
Raline akhirnya diam tak bertanya lagi.
"Ayo kembali tidur, yang lainnya sudah pada terlelap!"
Raline merebahkan tubuhnya di samping neneknya diapit oleh Varrel.
...----------------...
Jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi, Shireen bangun lebih awal. Ia mandi lalu pergi ke dapur membuatkan sarapan buat suaminya.
Alka meraba kasur, ia terbangun ketika istrinya tak ada di sampingnya. Melihat angka di jam dinding, Alka bergegas turun dan melangkah cepat ke arah kamar mandi.
Selesai membersihkan diri Alka mencari istrinya dan ternyata wanita itu sudah berkutat dengan alat-alat dapur.
Alka memeluk tubuh Shireen dan mengecup lehernya.
"Mas, geli!" Shireen menggeliatkan tubuhnya.
"Tapi, aku suka!" melanjutkan mencium pipi istrinya.
"Mas, aku sedang masak. Nanti masakan ku hangus," ujar Shireen.
Alka lalu melepaskan pelukannya, ia berjalan ke meja makan dan menarik kursi kemudian duduk.
Shireen menyajikan segelas air putih dan teh hangat kepada suaminya.
"Kenapa ada air putih?"
"Mas Alka baru bangun tidur dan belum minum air putih jadi minumlah, baik untuk kesehatan tubuh," jelas Shireen.
Alka pun menuruti ucapan istrinya.
"Mas, anak-anak biasanya sarapan apa setiap pagi?"
"Roti, bubur ayam kadang nasi putih dengan telur ceplok," jawab Alka.
"Apa aku buatkan saja sarapan buat mereka?"
"Tidak usah, mereka juga sudah makan di sana," ujar Alka.
"Ya, Mas." Shireen menghidangkan nasi goreng di hadapan suaminya.
Alka menikmati sarapan buatan istrinya, ia melihat arlojinya lalu berkata, "Aku akan menjemput anak-anak, Varrel hari ini harus ke sekolah!"
"Habiskan sarapannya dahulu, Mas!"
Alka mengiyakan.
-
Selesai sarapan, Alka bergegas menjemput anak-anaknya sesampainya di sana Raline menyambutnya dengan wajah cemberut.
"Hai, anak gadis Ayah!" Alka mengecup pipi putrinya.
__ADS_1
"Ayah dari mana saja? Kenapa tidak menjemput kami?" cecarnya.
"Ayah ada urusan berdua dengan Mama Shireen," jawabnya.
"Sudah selesai 'kan urusannya?" tanyanya lagi.
Alka menggerakkan pelan dagunya.
Sean berlari kecil menghampiri ayahnya dan meminta gendong.
"Ayo kita pulang, Kak Varrel harus sekolah hari ini!" ajak Alka.
Ketiga anaknya begitu semangat pulang.
Alka membuka pintu mobil untuk ketiga buah hatinya. "Mama tidak sekalian ikut ke rumah?"
"Nanti saja minta diantarkan Aldy," jawab Lilis.
"Baiklah, Ma. Kami pamit pulang," ucap Alka.
"Ya," Lilis melambaikan tangan kepada cucu-cucunya.
Alka mengendarai mobil istrinya menuju rumahnya. Begitu sampai Varrel berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian bocah 7 tahun itu berlari menghampiri Alka yang sudah berada di atas motor.
"Sudah pamit dengan mama?" tanya Alka.
Varrel menepuk keningnya, ia lalu berlari menghampiri Shireen yang sedang menyapu meraih tangan wanita itu lalu mengecupnya, "Aku berangkat sekolah 'ya, Ma."
"Ya," ucap Shireen tersenyum.
Varrel kembali menghampiri Alka dan keduanya berangkat ke sekolah.
Setelah mengantarkan putranya ke sekolah, Alka kembali ke rumah.
"Kenapa balik lagi, Mas?" tanya Shireen.
"Aku akan mengantarkan istriku bekerja," jawabnya.
"Mama Lilis belum datang, Mas."
"Kalau begitu tunggu mama datang saja," ujar Alka.
Pukul 8 lewat 30 menit, Mama Lilis baru tiba dikediaman putranya. Sepuluh menit kemudian Shireen dan Alka berpamitan berangkat ke kerja.
Alka membonceng istrinya menggunakan motor pemberian dari Papa Sudiro.
"Eheem..."
Alka dan Shireen lantas segera menoleh. "Gani!" sapa keduanya serentak.
"Maaf, kemarin tidak sempat datang ke pernikahan kalian bukan karena aku patah hati tapi ada pekerjaan di luar kota yang tak bisa ditunda," jelas Gani.
"Ya, kami tahu dari orang tuamu," ujar Shireen.
"Aku ke sini ingin memberikan untuk kalian berdua!" Gani menyodorkan tas kantong kertas berwarna cokelat tertulis merek sebuah jam tangan.
Shireen menerimanya, "Terima kasih!"
Alka juga mengatakan hal yang sama.
"Kalau begitu, aku pamit. Semoga kalian berdua selalu bahagia!" ujar Gani memberikan doa.
"Terima kasih," ucap Alka tersenyum.
Gani lalu berjalan ke mobilnya dan meninggalkan ruko.
"Aku berangkat kerja," pamit Alka.
"Ya, Mas!" Shireen mencium punggung tangan suaminya.
"Ini tidak dikecup?" tunjuknya di pipi.
"Mas, malu dilihat orang," ucap Shireen tersipu.
"Nanti malam kita lanjutkan lagi, ya!" goda Alka dengan mata genit.
"Ih, Mas Alka!" Shireen berlalu dengan wajah memerah.
Alka tertawa kecil, ia lalu menghidupkan mesin motornya menuju bengkelnya.
Setibanya di bengkel, Alka ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian montir.
Alka menghampiri para karyawannya dengan wajah sumringah.
"Yang baru nikah, wajahnya selalu berseri," celetuk Derry.
"Makanya nikah, jangan dipacarin saja!" sindir Alka.
__ADS_1
Karyawan yang lainnya tertawa, wajah Derry cemberut.
"Mas, nanti datang 'ya ke pernikahan aku!" ucap Rino.
"Aku akan sempatkan waktu, memangnya kapan?" tanya Alka.
"Bulan depan, Mas."
"Oh, bulan depan 'ya. Baiklah, kami sekeluarga nanti akan datang," ujar Alka. "Kamu kapan?" pandangannya ke arah Derry.
"Do'akan saja secepatnya, Mas."
"Ya, aku akan doakan."
"Kamu?" menunjuk karyawannya yang bernama Ali.
"Belum punya kekasih, Mas." Tersenyum nyengir.
"Ya, tak apa. Menabung saja dulu, kalau memang ada wanita yang ditaksir dan siap menikah segera nikahi," nasihatnya.
"Siap, Mas." Ali mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Kembalilah bekerja!" perintahnya.
"Ya, Mas!" ucap ketiganya serentak.
-
Jam 12 siang, Alka menjemput istrinya dari tempat katering mereka akan pulang ke rumah dan makan siang bersama anak-anak.
Varrel pulang sekolah sudah dititipkan ke tetangga yang menjemputnya kebetulan seorang ojek online.
Raline dan Sean memeluk Shireen ketika ibu barunya itu tiba di rumah.
"Cuci tangan, kita akan makan siang bareng!" ajak Shireen.
"Baik, Ma!" ucap Raline dan Sean.
Mereka berenam menikmati makan siang yang di mana lauk dan sayurnya di bawa dari tempat katering milik Shireen.
Alka bersyukur akhirnya anak-anaknya mendapatkan perhatian dari seorang ibu lagi walaupun bukan dari ibu kandung.
"Ayah, kapan kita menginap di hotel kakek?" tanya Varrel.
"Nanti kalau kamu libur sekolah," jawab Alka.
"Kenapa lama sekali?" Varrel bertanya lagi.
"Kamu tidak mungkin terus libur, Nak. Hari Sabtu nanti libur nasional, jadi Jum'at malam kita ke sana," jelas Alka.
"Benarkah, Yah?" tanya Raline semangat.
Alka mengangguk.
"Apa nenek juga ikut?" tanya Raline lagi.
"Tidak!" jawab Lilis.
"Kenapa, Nek?" Varrel penasaran.
"Nenek lebih baik tidur di rumah," jawab Lilis.
"Tolong, kamu bawa anak-anak main," pintanya kepada istrinya.
"Baik, Mas," ucap Shireen, ia kemudian mengarahkan pandangannya kepada ketiga anaknya. "Kalian sudah selesai makan siang, bagaimana kita main sebentar lalu pergi tidur?"
"Mau, Ma!" jawab Raline berdiri kemudian di susul Sean dan Varrel. Ketiganya menjauh dari ayah dan neneknya.
Shireen lantas menyusul anak-anak.
Alka lanjut berbicara dengan mamanya, "Kenapa tidak mau ikut?"
"Mama malas ketemu papa kamu," jawab Lilis.
"Ma, kita jarang sekali berkumpul dan berkumpul bersama seperti ini. Lisa dan suaminya juga ikut," ujar Alka.
"Mama, sangat membenci papa kamu, Alka!"
"Apa Mama tidak bisa memaafkan papa?"
"Mama sudah melupakannya, menganggap dia tak pernah ada di hidup kita," ujar Lilis.
"Ma, aku mohon kali ini saja. Buat anak-anak dan istri aku bahagia, kita nikmati liburan bersama. Mama tidak ajak bicara papa pun tak apa. Lagian istri papa juga sudah meninggal, jadi Mama tak perlu khawatir lagi."
Lilis sejenak berpikir.
"Bagaimana, Ma?"
"Baiklah, Mama akan ikut liburan dengan kalian!"
__ADS_1
"Terima kasih, Ma!" Alka tersenyum senang.