
Hari ini Rani resmi berpisah untuk kedua kalinya. Ya, dia meninggalkan Andri demi pria lain yang jauh lebih kaya.
Rani mengajak bertemu pria yang akan menikahi dirinya di sebuah kafe.
"Aku sudah resmi berpisah dengan Andri. Aku ingin menagih janji yang kamu ucapkan," ujar Rani.
Pria itu tertawa tipis, "Aku pernah mengatakan padamu tidak menyukai pernikahan. Aku hanya menginginkan tubuhmu."
"Tapi, aku ingin kamu menikahiku!"
Pria itu kembali tertawa. "Sebutkan nominal yang kamu butuhkan?"
Deg...
"Rani, kamu rela berpisah dengan suamimu demi aku yang lebih kaya darinya. Kamu hanya ingin hartaku bukan hatiku. Jadi, aku takkan menikahimu!"
Rani mengeraskan rahangnya, "Pembohong!"
Pria itu menarik sudut bibirnya.
"Aku pastikan kamu akan menyesal!" ancam Rani.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?"
"Aku bisa menghancurkanmu!"
"Rani, Rani, Rani!" menggelengkan kepalanya. "Harusnya kamu bersyukur memiliki suami seperti Alka atau Andri yang begitu mencintai dan menyayangimu," ujarnya.
Rani mengepalkan tangannya.
Pria itu berdiri dan merapikan jasnya, "Aku masih banyak urusan!" ia melangkah pergi.
"Brengsek!"
Sementara itu, Andri kembali bekerja setelah beberapa hari ini tidak masuk kantor karena sakit.
Seorang teman pria Andri menghampirinya, "Aku tahu alasan Rani berpisah denganmu!"
"Apa?"
"Dia berselingkuh dengan pria ini!" menunjuk foto kebersamaan mantan istrinya dengan sahabatnya.
"Roy!" ucap Andri lirih.
"Kau kenal dengannya?"
"Ya, aku kenal."
"Ternyata, selama ini mereka bermain di belakangmu!"
"Kurang ajar!" Andri mengepalkan tangannya.
"Sepertinya kau harus bersyukur karena lepas dari wanita itu," ujarnya.
"Ya, tapi aku sangat menyesal pernah menikah dengannya. Karena demi dia, aku harus kehilangan Laras."
"Tak perlu kau sesali, semua sudah terjadi. Sekarang fokus dengan pekerjaanmu dan putri dari pernikahanmu pertama," nasehatnya.
"Ya, sekarang aku bekerja untuk Tasya. Hartaku hanya dia," ucap Andri.
"Semangat, kawan!"
"Terima kasih!"
...----------------...
Hari ini Raline mengikuti lomba fashion show yang diadakan di sebuah Mall ternama.
Rani hadir menemani putrinya itu manggung karena Alka dan Shireen tak bisa menemaninya.
Raline berlenggak-lenggok di atas panggung. Rani yang melihatnya menepuk tangannya dengan semangat.
Tepat pukul 3 sore, acara selesai. Raline turun bersama peserta lainnya.
__ADS_1
Banyak yang memuji kecantikan dan bakat Raline.
"Dia putri saya!" ucap Rani bangga.
"Pantas saja cantik!" puji ibu-ibu yang ikut menyaksikan acara.
-
Sambil menunggu pengumuman pemenang lomba yang akan dibacakan jam 5 sore, Rani dan Raline duduk di sebuah restoran cepat saji.
"Raline, kenapa ayahmu tidak ikut menemani kamu?"
"Tadi Alshe lagi demam," jawab Raline.
"Alshe bisa diurus mamanya, kenapa ayahmu juga ikutan?"
"Karena ayah sangat menyayangi Alshe."
"Berarti ayah sudah tak sayang kamu!" ucap Rani.
"Ayah sangat menyayangi kami!" ujar Raline.
"Kalau memang sayang pasti dia akan menyempatkan waktu untuk menemani kamu!"
Raline terdiam dan berpikir.
"Raline, kenapa melamun?"
"Benar juga, ya."
"Ayah kamu lebih memilih menghabiskan waktu bersama anak barunya."
Raline mendengarinya.
"Mama Shireen yang kamu bilang sayang, buktinya lebih banyak menghabiskan waktu dengan Alshe."
"Adik masih kecil, Bu. Belum bisa apa-apa."
Raline sejenak mencerna ucapan ibunya.
"Raline!" sapa Alka yang baru datang bersama Shireen.
"Ayah, Mama!" Raline memeluk kedua orang tuanya.
"Alshe baru bisa ditinggal, maaf kalau Mama datang terlambat," ujar Shireen.
"Tidak apa-apa, Ma. Alshe sudah tak sakit lagi, kan?" tanyanya.
"Mudah-mudahan, ya," Shireen tersenyum.
"Jam berapa pengumumannya, Rani?"
Rani melihat ponselnya, "Sebentar lagi, Mas."
"Oh," ucap Alka singkat.
Tak ada obrolan lagi, Rani sibuk dengan ponselnya begitu juga Alka. Sementara Raline bersenda gurau bersama Shireen.
Jam 5 lewat 10 menit, panitia acara mengumumkan nama pemenang.
Raline duduk diapit 2 wanita yang ia sayangi dan disebelah Mama Shireen ada ayahnya. Mereka tampak harap-harap cemas menunggunya.
Juara harapan pertama dan ketiga sudah dibacakan. Kini giliran pembacaan juara satu, dua dan tiga.
Juara tiga selesai dibacakan, lanjut menyebutkan nama pemenang juara kedua.
"Juara kedua diberikan kepada Raline Alkara Sudiro!" ucap panitia.
Raline menepuk tangan kegirangan.
"Silahkan naik ke atas pentas bersama ibu atau ayahnya!" ucap panitia lagi.
"Ayo, Ma!" ajak Raline.
__ADS_1
Shireen hendak berdiri, namun Rani sudah menggenggam tangan Raline.
"Ayo Raline kita naik ke atas!" ajak Rani dengan semangat menarik tangan putrinya.
Mimik wajah Shireen berubah menjadi sendu.
Alka yang tahu perasaan istrinya, menggenggam telapak tangannya. "Jangan berkecil hati!" bisiknya.
Shireen mengangguk, ia berusaha memaksakan tersenyum.
Rani yang di atas pentas tersenyum puas melihat Shireen muram.
Dewan juri memberikan piala kepada pemenang lomba.
Raline tampak begitu bahagia dan senang, ini merupakan lomba dan piala pertama untuknya.
Raline dan ibunya turun dari pentas.
Beberapa orang memberikan selamat kepada mereka, Rani tersenyum lalu berkata dengan bangga. "Raline putri kandungku, dia menurunkan bakat seperti ku juga!"
"Beruntungnya Raline punya Ibu kandung yang cantik dan berbakat seperti Bu Rani," ucap salah satu orang tua siswa teman dari putrinya.
"Tentunya," tersenyum bangga.
"Raline, selamat!" Shireen mengecup pipi putrinya.
"Terima kasih, Ma!"
Alka mengulurkan tangannya dan Raline meraihnya, "Anak Ayah memang hebat!"
"Siapa dulu Raline," ucapnya bangga diiringi tawa Shireen dan Alka.
"Raline persis seperti aku yang suka dengan modelling," ujar Rani.
Shireen hanya tersenyum tipis.
"Mas, bagaimana jika Raline tinggal bersamaku?"
Alka tak menjawab dan tampak berpikir.
"Aku ibu kandungnya, lagian juga Shireen masih sibuk dan anak kalian," ujar Rani.
"Raline tidak boleh tinggal dengannya, Mas!" tolak Shireen tegas.
"Aku yang melahirkannya, kenapa tidak boleh?" Rani lantas bertanya.
"Hentikan perdebatan kalian," Alka melerai keduanya. Lalu mengarahkan tatapannya kepada mantan istrinya. "Kamu hanya boleh mengajak Raline jalan-jalan atau menginap sehari atau dua malam tapi tidak untuk diajak tinggal bersama," ujarnya.
"Mas, aku juga berhak atas diri anak-anak!" Rani bersikeras.
"Ya, tapi aku yang lebih berhak atas mereka!" Alka menegaskan kata-katanya.
"Ternyata, istrimu bisa mempengaruhimu dan anak-anak," Rani tersenyum sinis.
"Rani, kita sekarang berada di tempat umum. Raline juga melihat perdebatan kita," ujar Alka.
"Sekarang tanya saja sama Raline, dia mau tinggal dengan siapa?" usul Rani.
"Aku mau tinggal bersama Ayah dan Mama Iren," jawab Raline sebelum ditanya.
"Kamu lihat, kan!" ucap Alka.
"Dia karena belum terbiasa saja," ujar Rani.
"Aku mau dengan Ayah saja, Bu!" ucap Raline.
"Raline, Mama kamu lagi sibuk mengurus Alshe. Ibu takut saja, dia cuek padamu," ujar Rani.
"Astaga, kenapa Kak Rani berpikir seperti itu. Aku tidak pernah membeda-bedakan mereka, bagiku Varrel dan kedua adiknya adalah anakku juga," ucap Shireen.
"Kamu bicara begitu karena di depan Mas Alka," ujar Rani kesal.
"Tidak, Kak. Aku ikhlas merawat dan mengurus mereka," ungkap Shireen tulus.
__ADS_1