
Dua bulan berlalu....
Rani baru saja pulang bekerja, ia menenteng barang belanjaannya dengan sumringah. Memasuki kamarnya dan meletakkan kantong kertas itu di atas nakas.
Meraih handuk lalu ke kamar mandi membersihkan diri. Beberapa menit kemudian ia selesai, berjalan ke arah lemari memilih pakaian terbaik untuk dipakai makan malam dengan seseorang.
Setelah berdandan cantik, ia berjalan ke luar kamar menenteng tasnya ke arah mobil yang terparkir di halaman. Rani melesat ke sebuah restoran mewah yang di kota tempatnya tinggal.
Begitu sampai, ia melemparkan senyum kepada pria yang sudah menunggunya di sebuah meja makan. Rani lalu duduk saling berhadapan, "Apa aku terlalu lama datang?"
"Tidak, aku baru juga sampai!" pria itu tersenyum.
Rani membalas senyumnya.
"Hari ini kamu terlihat sangat cantik dan seksi," pujinya.
"Terima kasih," ucap Rani tersenyum.
"Apa kamu tidak takut jika suamimu tahu kita makan berdua seperti ini?"
"Dia takkan tahu, lagian dia lagi di luar kota."
"Aku menginginkan lebih darimu, apa kamu bersedia?"
"Lebih bagaimana?"
"Tubuhmu!"
Deg...
Pria itu tertawa kecil, lalu berkata, "Aku bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan."
"Contohnya?"
"Mobil mewah atau perhiasan."
"Aku ingin kita menikah baru ku akan memberikan tubuhku!"
"Aku tidak ingin diatur, Rani."
"Maaf, aku menolaknya!"
"Rani, ayolah. Aku ingin sekali dengan tubuhmu itu!"
"Jika kamu berani menikahiku, aku akan melepaskan suamiku. Bagaimana?"
Pria itu terdiam.
-
-
Sementara di lain tempat, Laras juga baru selesai makan di restoran yang berada di mall dengan seorang pria. Keduanya berpisah di parkiran dan saling memberikan kecupan di pipi masing-masing.
"Sampai jumpa, Laras. Aku akan merindukanmu!"
"Aku juga, Mas!"
"Lain waktu kita bertemu lagi," ujar pria itu.
"Ya, jika suamiku ke luar kota. Kita akan bertemu lagi seperti ini!" Laras tersenyum begitu manis.
Keduanya memasuki mobil masing-masing lalu meninggalkan gedung mall.
Begitu sampai di rumah, Laras tampak terkejut karena mobil suaminya telah berada di halaman.
Laras turun dan berusaha bersikap biasa saja, berjalan memasuki rumah menjinjing barang belanjaannya.
"Kamu darimana?" tanya Andri.
"Dari pulang belanja, Mas."
__ADS_1
"Tasya mana?"
"Aku titipkan dengan orang tuaku," jawabnya. "Mas, kenapa cepat sekali pulangnya?" lanjut bertanya.
"Urusan aku di luar kota cepat selesai, temanku menyuruh untuk besok pulang tapi aku ingin hari ini saja," jelas Andri.
Laras mengangguk paham.
Laras kemudian bertanya, "Mas, ingin aku buatkan minuman apa?"
"Teh hangat saja."
"Baiklah, Mas!" Laras meletakkan barang belanjaannya di meja tamu lalu ia ke dapur membuatkan teh.
Tak lama kemudian, Laras membawa secangkir teh buat suaminya yang berada di ruang tamu.
"Biasanya kalau dari luar kota Mas akan pulang lebih dahulu ke rumah Rani," ucap Laras menghidangkan minuman tersebut dihadapan suaminya.
"Sesekali bolehlah, aku singgah pertama kali di sini!"
"Aku sih' senang saja kalau Mas Andri pulang kemari tiap hari," ujar Laras.
"Tapi, aku tidak bisa. Ada dia di sana!"
Laras mendekati suaminya, menjatuhkan kepalanya di dada Andri lalu berkata, "Apa Mas Andri ingin kita bercinta? Enam bulan terakhir ini aku tak pernah disentuh dirimu."
"Pergilah mandi!" ucap Andri lembut.
Laras menarik tubuhnya lalu tersenyum pada suaminya, ia kemudian berdiri dan melangkah ke kamar.
...----------------...
Rani pagi ini mendapatkan pesan di ponselnya dari madunya jika Andri sudah pulang dari luar kota, wanita itu juga mengatakan semalam mereka bercinta.
Rani menarik sudut bibirnya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Dia pikir aku cemburu!"
Rani keluar kamar lalu menikmati sarapan seorang diri yang sudah disiapkan ART. Lagi menyesap tehnya, mantan suaminya menghubunginya.
"Halo, Rani. Sudah dua bulan kamu tidak menemui anak-anak."
"Aku sangat sibuk, Mas. Aku juga tidak ingin melihat wajah cemberut istrimu jika diriku dengan anak-anak kita."
"Shireen bukan seperti itu, dia hanya sangat menyayangi anak-anak. Aku tidak mau saja, mereka menjauh dan membencimu."
"Kenapa Mas Alka begitu perhatian denganku sampai takut jika anak-anak membenciku?"
"Aku hanya ingin anak-anak merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya yang sangat egois."
"Mas?"
"Aku tidak ingin dicap sebagai mantan suaminya yang tegaan. Melarang anak-anaknya bertemu dengan ibu kandungnya."
Rani kesal dengan ucapan mantan suaminya, "Jika aku tidak terlalu sibuk, aku akan menemui mereka."
Keduanya pun saling menutup teleponnya.
Rani menghela nafas, "Pagi ini kenapa yang menghubungiku sangat menjengkelkan."
Rani mengakhiri sarapannya dan berangkat ke kantor.
Sementara itu, Andri selesai sarapan berangkat ke kantor. Laras lanjut ke kamar membalas pesan mesra dari pria idaman lainnya.
-
-
Makan siang ini Rani bersama suaminya beserta temannya Roy. Ketiganya mengobrol seperti biasanya.
"Bagaimana dengan perhiasan kalung yang hari ini aku kirim, Rani?" tanya Roy.
"Sudah, terima kasih 'ya!" Rani tersenyum manis.
__ADS_1
Andri menoleh ke arah istrinya.
"Bukankah hari ini pernikahan kalian yang satu tahun," ujar Roy agar Andri tak curiga.
"Astaga, aku lupa. Maafkan aku, Rani!" ucapnya kepada istrinya.
"Iya," Rani menampilkan senyum pura-pura.
"Harusnya aku yang memberikan perhiasan kalung itu, bukan pria lain," ujar Andri.
"Anggap saja ini hadiah dariku, kamu tak usah salah paham," ucap Roy pada temannya itu.
"Ya," Andri tersenyum memaksa padahal hatinya tak senang.
...----------------...
Rani berjalan memasuki kafe dengan menjinjing tas branded pemberian dari pria yang memujanya. Menarik kursinya lalu duduk menunggu seseorang.
Tak lama kemudian yang ditunggu datang, Rina duduk berhadapan dengan adiknya. Ia melihat tas mahal di atas meja.
"Banyak juga uang Andri mampu membelikan kamu tas mahal seperti ini," sindirnya.
"Bukan dia yang membelikannya," ujar Rina.
"Lalu, siapa?"
"Penggemar rahasiaku," jawabnya. "Psst..tapi jangan sampai Andri tahu karena aku bilang padanya jika ini ku beli dari hasil tabungan," lanjutnya.
"Baiklah, tapi ada uang tutup mulutnya 'kan?"
"Kakak mau apa?"
"Sepasang sepatu branded boleh juga," jawab Rina.
"Baiklah, setelah dari sini kita ke sana!" ujar Rani.
"Oke."
"Ngomong-ngomong kenapa Kak Rina mengajakku bertemu?"
"Aku curiga Mas Bimo selingkuh."
"Selingkuh? Aku tidak percaya, Kak."
"Awalnya aku tidak curiga tapi lama-lama sikap dan perlakuannya berbeda."
"Misalnya?"
"Kata sandi ponselnya di ganti, selalu pulang di atas jam sembilan malam dengan alasan lembur," jelasnya.
"Mirip Andri ketika ketahuan selingkuh."
"Kakak jadi tak tenang, Kakak juga tak mau berpisah dengan Mas Bimo. Apa kamu bisa bantu?"
"Bantu apa?"
"Menyelidiki Mas Bimo."
Rani tertawa kecil, "Kakak pikir aku detektif."
"Bantu Kakak mengawasinya, Kakak penasaran apa yang disembunyikan Mas Bimo."
"Kak, saat ini aku juga merahasiakan hubungan gelapku dari Andri. Tak mungkin aku menyelidiki pria lain yang berselingkuh, bagaimana jika suamiku melakukan hal yang sama."
"Tolonglah Kakak, Rani!"
"Kantor kalian saling berdekatan, Kakak bisa diam-diam bertanya pada temannya," saran Rani.
"Ya, kamu benar-benar. Kakak akan coba," ujar Rina.
"Kalau begitu, lupakan sejenak rasa gundah Kakak. Waktunya kita jalan-jalan di Mall," ajak Rani.
__ADS_1
"Ayolah!"