
Alka yang dari jam 8 malam sudah berada di rumah Mama Lilis, ia sengaja melakukan itu karena masih kesal dengan istrinya.
"Kamu tidak pulang ke rumah?" tanya Lilis ketika angka jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Nanti, Ma. Jam sebelas aku akan pulang," jawab Alka.
"Ya, sudah." Lilis pun ke kamarnya menggendong Sean.
Begitu juga dengan Alka yang membantu Mama Lilis membopong anak-anaknya ke kamar karena mereka bertiga tertidur di ruang televisi.
Alka kembali ke ruang tamu.
Lilis meraih ponselnya di atas nakas kamar dan melihat ada panggilan tak terjawab dari menantunya. Ia lalu memberitahu putranya, "Shireen tadi menelepon Mama tapi tak terjawab. Apa dia tak ada menelepon kamu?"
"Ponselku mati, Ma."
Lilis menghubungi menantunya tapi tak ada jawaban. "Shireen tak mengangkatnya," mulai cemas.
"Mungkin dia sudah tidur, Ma."
"Mama jadi khawatir coba kamu buka ponselmu, Mama takut kalau dia akan melahirkan," ucap Lilis.
"Dokter memprediksi seminggu lagi, Ma."
"Alka coba kamu buka ponselmu, hubungi lagi dia!" titah Lilis.
Alka membuka ponselnya tertera 3 panggilan tak terjawab dari istrinya dan 2 dari Bu Dewi, tetangganya.
"Bu Dewi tadi menelepon, Ma."
"Coba kamu hubungi Bu Dewi!" desak Lilis.
Alka menghubungi Bu Dewi, "Halo, Bu!"
"Mas Alka, Mba Shireen sekarang berada di Klinik Bersalin Bidan Susi!"
Terdengar suara teriakan dan tangisan istrinya.
"Saya akan ke sana, Bu." Alka menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya ke saku celana meraih kunci mobil di meja tamu.
"Ada apa, Alka?" Lilis melihat wajah putranya begitu panik.
"Shireen melahirkan, Ma."
"Mama ikut! Tunggu sebentar!"
Alka bergegas ke mobilnya.
Lilis memberitahu Lisa agar menjaga anak-anaknya Alka.
Wanita paruh baya itu memakai jaket dan tasnya, melangkah tergopoh-gopoh ke mobil.
Alka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena Mama Lilis melarangnya mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai, Alka melihat menantu Bu Dewi sedang menunggu di kursi tunggu tamu.
"Mama dan Bu Intan yang menemani Mba Shireen di dalam, Mas!" ucap pria itu.
Terdengar suara tangisan bayi baru dilahirkan begitu kencang.
Lilis dan menantu Bu Dewi mengucapkan syukur.
Alka yang mendengarnya, matanya berkaca-kaca dan tersenyum. Ia mendekati ruangan bersalin namun perawat melarangnya masuk.
Bu Dewi dan Bu Intan keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan lega.
"Bagaimana dengan Shireen, Bu?" tanya Alka.
"Mba Shireen baik-baik saja, putri kalian sangat cantik sekali," jawab Bu Intan.
Alka menarik ujung bibirnya, "Terima kasih!"
__ADS_1
"Kamu masuklah!" ucap Bu Dewi.
"Ya, Bu. Terima kasih sudah membantu membawa istri saya kemari," ujar Alka.
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu kami pamit pulang," ucap Bu Dewi.
"Sekali lagi terima kasih, Bu Dewi, Bu Intan," ujar Alka.
Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan klinik.
Alka terlebih dahulu masuk ke ruangan menemui Shireen yang masih terbaring lemah.
Shireen melihat kedatangan suaminya tampak cuek.
Perawat menyerahkan bayi kepada Alka dan pria itu melantunkan adzan di telinga putrinya.
Setelah itu perawat menyuruh Alka menyerahkannya kepada Shireen agar bayi mendapatkan ASI eksklusif.
Alka meletakkan bayinya di samping istrinya.
Lilis masuk untuk melihat menantu dan cucunya. "Maafkan Mama, tadi tak mendengar kamu menelepon," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Ma." Jawab Shireen pelan, ia bangkit untuk duduk.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Alka.
"Ma, tolong letakkan bayinya ke sini!" pinta Shireen pada mertuanya.
Lilis mengangkat bayi lalu diletakkan dipangkuan ibunya.
"Ma, aku belum mengabari Papa dan Mama. Bisakah menghubungi mereka?"
"Aku sudah menelepon mereka," sahut Alka.
Shireen hanya menatap suaminya yang duduk di sebelah ranjang tanpa berkata-kata apa-apa.
Selesai menyusui putrinya, Shireen dipindahkan ke kamar rawat inap.
Alka memindahkan tubuh istrinya dari kursi roda ke ranjang klinik.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alka.
Shireen tak menjawabnya.
"Malam begini, susah mencari penjual makanan. Mama minta perawat membuatkan teh hangat, ya!"
"Di sebelah klinik ada penjual makanan dan minuman dua puluh empat jam, Ma."
"Biar aku saja yang beli," Alka menyahut.
"Biar Mama saja lagian cuma sebelah bukannya jauh," ujar Lilis, ia pun pergi membelikan makanan buat menantunya.
Kini, tinggal Alka dan Shireen berada di kamar inap. Si bayi di ruangan khusus.
Shireen memilih merebahkan tubuhnya dan memunggungi suaminya.
"Maaf!" ucap Alka pelan.
Shireen bukan membalikkan tubuhnya menghadap suaminya, ia malah menangis.
Alka memegang bahu istrinya. "Shireen, tolong maafkan aku!"
Shireen semakin sesenggukan.
"Seharusnya aku pulang lebih awal ke rumah," ujar Alka.
Pintu kamar terbuka, Shireen dengan cepat menghapus air matanya dan membalikkan tubuhnya.
"Cuma ada roti dan air mineral tidak apa, kan?" tanya Lilis.
"Tidak apa, Ma." Shireen duduk dan meraih roti pembelian mertuanya ia mulai memakannya.
__ADS_1
Lilis membukakan tutup botol air.
"Bagaimana dengan anak-anak, Ma?"
"Mereka lagi tidur," jawab Lilis.
"Varrel mengerjakan tugas dari sekolahnya, kan?" tanya Shireen.
"Iya, Shireen. Lisa tadi yang menemaninya belajar," jawab Lilis.
"Syukurlah," ucap Shireen tersenyum.
Lilis melihat jam menunjukkan hampir pukul 1 dinihari. "Mama pulang, ya!"
"Jangan, Ma. Temani aku di sini!" pintanya.
"Ada suamimu yang menemani kamu," ujar Lilis.
"Aku mau Mama di sini!" ucap Shireen.
"Aldy sudah menunggu diluar," ujar Lilis. "Besok pagi, Mama akan ke sini lagi!" lanjutnya.
"Ya, Ma," Shireen mengangguk terpaksa.
Lilis pun pamit pulang.
Setelah pintu ditutup, Shireen merebahkan tubuhnya. "Mas, tidak pulang juga?"
Alka diam.
"Aku tak apa sendiri di sini, ada perawat juga," ujar Shireen.
"Aku tetap di sini untuk menunggumu."
"Tak perlu, Mas. Apa yang di khawatirkan lagi? Aku juga sudah melahirkan, lebih baik kamu pulang dan urus anak-anak kasihan Mama."
"Aku akan tetap menunggumu!" ucap Alka.
Shireen menghela nafasnya, ia lalu memejamkan matanya.
Alka masih duduk di samping ranjang istrinya dan tertidur juga.
Shireen kembali membuka matanya dan melihat suaminya tertidur dengan posisi duduk. Tangannya menyentuh rambut Alka dan mengelusnya.
Alka yang merasakan sentuhan di kepalanya lantas terbangun dan mengerjapkan matanya. "Apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, Mas. Lebih baik Mas Alka pulang dan tidur, anak-anak paginya harus sekolah."
"Aku sudah menitipkan mereka pada ibunya untuk mengantar jemput," ujar Alka.
"Oh, iya. Kenapa aku bisa lupa kalau mereka memiliki ibu kandung? Aku 'kan hanya ibu pengganti saja."
"Shireen, kamu bicara apa. Kamu tetap Mama terbaik buat mereka!"
"Bukankah Mas Alka sendiri yang mengatakan kalau aku tidak sayang dengan mereka? Aku hanya membuat mereka celaka, aku bukan ibu pengganti yang baik!"
Alka terdiam.
"Rasanya sakit sekali ketika Mas Alka mengatakan itu, kamu menghukum ku dengan membiarkan aku melahirkan tanpa didampingi."
"Aku minta maaf, Shireen."
"Kenapa Mas harus mematikan ponselnya? Sedangkan aku sendirian di rumah dalam keadaan hamil besar."
"Maaf!"
"Mas, ingin tidak diganggu?"
"Bukan begitu, Shireen."
"Apa Mas sudah tak membutuhkan aku lagi?"
__ADS_1
"Shireen, aku minta maaf. Tolong, maafkan aku!" Alka menggenggam tangan istrinya
Shireen melepaskan tangan suaminya. "Aku yang harusnya minta maaf belum bisa menjadi istri dan ibu pengganti yang baik."