Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 40 - Wawancara Dengan Calon Mertua


__ADS_3

Shireen yang mendengar permintaan Rani hanya tersenyum.


"Aku serius Shireen, kamu boleh memiliki Mas Alka tapi tidak dengan anak-anakku!" berkata dengan tegas.


"Dari permintaan yang Kak Rani ucapkan sama saja jika Kakak masih mengharapkan Mas Alka," berbicara dengan santai dan tenang.


Rani terdiam.


"Anak-anak adalah jantung Mas Alka, tidak mungkin mereka terpisahkan setelah apa yang Kak Rani lakukan kepada mereka," ucap Shireen.


"Aku memang melakukan kesalahan meninggalkan mereka dan ingin menebus semuanya," ujar Rani.


"Apa Mas Alka dan anak-anak bisa menerimanya?"


Lagi-lagi Rani tersudutkan.


"Kak Rani, saya tidak akan melarang anak-anak bertemu dengan ibu kandungnya. Tetapi, Mas Alka apa setuju?"


"Pasti dia akan setuju, Mas Alka sangat mencintaiku. Mungkin waktu itu dia hanya emosi sesaat," ujar Rani.


Shireen hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Mas Alka ingin menikahimu agar kamu bisa mengurus anak-anak kami," ucap Rani.


Shireen percaya Alka tidak seperti itu.


"Kamu masih muda dan bisa mendapatkan pria yang lebih tampan dari Mas Alka," ujar Rani.


"Ya, saya bisa bahkan lebih kaya dari suami anda!"


Kata-kata Shireen membuat Rani semakin terpojok.


"Saya sangat mencintai Mas Alka dan anak-anak, jadi seberapa besar Kak Rani mempengaruhi tidak akan merubah rasa ini!" menekankan kata-katanya.


Rani menarik nafasnya dan wajahnya tampak gelagapan, ia tak bisa membalas ucapan calon istri dari mantan suaminya itu.


Rani berdiri tanpa permisi ia kemudian berlalu.


Shireen menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu menghembuskan nafasnya. Perkataan Rani tadi hampir membuatnya perih namun ia percaya jika Alka adalah terbaik.


-


-


Pukul 7 malam, Alka datang ke rumah orang tuanya Shireen. Mereka menikmati makan malam bersama setelah itu lanjut mengobrol di ruang tamu.


"Nama kamu tadi siapa, saya lupa?" tanya Arman.


"Alka, Om."


"Lengkapnya?"


"Alka Adhitya Sudiro."


"Mirip nama putra temanku semasa kuliah," ujar Arman.


Alka hanya tersenyum dan mengangguk.


Ratih yang duduk di samping suaminya tampak ketus.


"Apa kamu serius dengan putri kami?" tanya Arman.


"Iya, Om. Saya serius dengan Shireen," jawabnya.

__ADS_1


"Saya setuju Shireen dengan siapapun asal dia bahagia," ujar Arman.


"Tetapi Mama tidak, Pa!" sahut Ratih.


Arman dan Shireen mengalihkan pandangannya kepada wanita paruh baya itu.


"Ma.." tegur Arman.


"Pa, Mama tidak setuju putri kita menjalin hubungan dengan dia. Ya, walaupun dia tampan seperti aktor kesayangan tapi Mama tidak suka," ucap Ratih tegas.


Arman memperhatikan wajah Alka, "Kamu benar, Ma. Dia seperti pria-pria yang sering kamu dan Shireen tonton."


Alka menggaruk tengkuknya, "Kenapa mereka jadi bahas selebritis, sih? Apa mereka tak tahu kalau aku sangat gugup?"


"Kalau begitu restui kami, Pa!" pinta Shireen.


"Tidak bisa, Shireen!" tolak Ratih.


"Kenapa, Ma?"


"Dia seorang duda dan punya anak tiga. Kamu dinikahinya untuk menjaga dan mengurus anak-anaknya saja!" jawab Ratih menuduh.


"Saya tidak berniat sedikit pun untuk menjadikan Shireen sebagai pengasuh anak-anak saya, Tante." Alka angkat bicara.


"Saat ini kamu berbicara begitu, setelah tinggal satu rumah apa kamu bisa menjamin tidak memperlakukan Shireen sebagai seorang pengasuh?" Ratih terus mencecar pertanyaan yang membuat Alka sulit menjawabnya.


"Percayalah, Tante. Saya akan memperlakukan Shireen sebagai seorang istri," ucap Alka tegas.


Shireen yang mendengarnya tersenyum.


"Ma, sudah cukup, ya!" Arman menghentikan Ratih yang hendak berkata lagi.


Ratih memiringkan bibirnya dan membuang wajahnya.


Alka diam sejenak lalu memandang Shireen.


"Maaf, Alka. Om hanya ingin tahu saja, agar selanjutnya hal yang sama tidak terulang lagi kepada putri kami," ucap Arman.


Alka masih diam.


"Pasti kamu memperlakukan istrimu tidak baik, makanya kalian berpisah," Ratih memotong pembicaraan dan menuding.


"Ma, Mas Alka berpisah karena mantan istrinya berselingkuh!" Shireen akhirnya berbicara membela kekasihnya.


"Apa benar itu, Alka?" tanya Arman.


Alka mengangguk.


"Pasti istrimu berselingkuh ada sebabnya," Ratih kembali menudingnya.


"Ma, apapun masalah dalam rumah tangga bukan dibalas dengan perselingkuhan. Perbuatan itu salah," ujar Arman.


Ratih pun diam.


"Kapan orang tua kamu datang melamar putri kami?" tanya Arman.


Ratih mendelikkan matanya. "Pa, jangan asal suruh main lamar saja. Mama belum setuju."


"Ya, memangnya kenapa?" tanya Arman.


"Kita belum tahu, pekerjaan dia apa," jawab Ratih.


"Ya, sudah kalau begitu Papa akan tanya. Apa pekerjaan kamu?" Menatap Alka.

__ADS_1


"Saya memiliki usaha bengkel sendiri, Om."


"Apa kamu memiliki rumah?" tanya Ratih.


"Punya, Tante. Tapi tidak sebesar ini, saya berharap semoga Shireen betah," jawabnya.


"Bengkel apa?" tanya Ratih lagi.


"Bengkel motor dan punya karyawan tiga orang, Tante."


"Ada lagi yang mau ditanyakan, Ma?" Arman mengalihkan pandangannya kepada istrinya.


Ratih menggelengkan kepalanya.


"Alka, Om setuju kamu menikah dengan putri kami. Kasih kabar jika ingin melamar," ucap Arman.


"Baik, Om."


"Papa..." Ratih ingin protes.


"Ma, kapan lagi punya menantu mirip artis?" celetuk Arman.


Shireen hanya mengulum senyum.


Selesai berbincang dengan keluarga Shireen, Alka berpamitan pulang.


Di halaman rumah Shireen berbicara kepada Alka, "Mas, maafkan perkataan Mama tadi!"


Alka tersenyum, "Tidak apa-apa, wajar jika seorang ibu bertanya seperti itu apalagi putrinya secantik kamu!"


Shireen tersipu malu, "Mas, bisa saja memujinya."


"Memang benar 'kan kalau kamu cantik, Raline saja mengatakannya," ujar Alka.


Pipi Shireen semakin merona.


Alka memakai helmnya. "Sudah malam, masuk dan tidur. Jangan nonton drama lagi!"


Shireen memukul pelan lengan kekasihnya.


Alka tertawa kecil.


"Mas, tadi pagi Kak Rani datang ke tempat katering."


"Mau apa dia menemui kamu?"


"Dia ingin aku menjauhi anak-anak."


"Apa hak dia mengatur kamu?"


"Dia mengatakan berhak atas anak-anak karena dia ibu kandungnya."


"Tapi, aku melarang dia mengambil anak-anak."


"Mas..."


"Jika kamu bertemu dengannya lagi beritahu aku segera!"


"Baik, Mas."


...******...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar terbaik kalian...

__ADS_1


Selamat Membaca 🌹


__ADS_2