
Raline melemparkan senyuman dan melambaikan tangannya kepada Shireen yang baru saja memasuki pintu rumah neneknya.
Gadis kecil berusia 5 tahun itu, berdiri yang di mana di depannya ada kue ulang tahun walau tanpa lilin.
Seluruh keluarga sudah berkumpul untuk merayakan hari lahir Raline. Semua mengucapkan harapan dan doa buat gadis kecil itu.
Alka membawa buket bunga mawar berjalan menghampiri putrinya.
Shireen melihat bunga yang digenggam Alka persis dengan 2 buket bunga yang diterimanya tadi pagi.
"Buat kamu!" Alka menyerahkannya kepada Raline.
"Ayah, untuk apa aku bunga ini?" tanyanya heran.
"Memangnya kamu tidak suka bunga?"
"Aku suka tapi aku lebih suka Ayah memberikan aku mainan dan baju yang cantik," jawab Raline.
"Ayah akan membelikan mainan dan baju yang cantik dan bagus untukmu!" janjinya.
"Benarkah, Ayah?"
"Ya."
"Kalau begitu, ini aku kembalikan bunganya!" Raline menyodorkan buket ke dada ayahnya.
"Berikan ini kepada Tante Shireen!" perintahnya.
"Baiklah, Ayah!" Raline berjalan membawa bunga lalu diberikannya kepada Shireen.
Wanita itu tampak bingung ketika Raline memberikan bunga.
"Untuk Tante!" ucap Raline.
"Terima kasih," Shireen meraihnya dan tersenyum kaku.
"Ayo sekarang kita makan bersama!" ajak Alka.
Semua orang duduk di karpet membentuk lingkaran, Lilis menyajikan makanan yang dipesan Alka di katering milik Shireen.
"Pantas saja Mas Alka pesan lauk hari ini sangat banyak, rupanya Raline sedang berulang tahun," ujar Shireen. Ya, Alka memesan lauk sebanyak 5 macam untuk porsi 10 orang. Sehingga ia harus menyuruh karyawannya mengambil mobil ke kediamannya.
"Kami sengaja tidak memberitahu kamu, agar menjadi surprise," ucap Lilis tersenyum.
"Dan ternyata jadi kejutan buat Kak Shireen yang di mana tiba-tiba dapat buket bunga dari Kak Alka," celetuk Lisa.
"Ayah tak pernah beri bunga kepada kami, tapi hari ini entah kenapa dia memberi bunga mawar pada Raline. Sungguh aneh," sahut Varrel.
__ADS_1
"Raline 'kan perempuan, biasanya suka bunga," Alka memberikan penjelasan.
"Tapi, untuk apa buat aku, Ayah. Bunga tak bisa dimakan," ujar Raline.
Semua orang yang mendengarnya tertawa.
Shireen duduk berhadapan dengan Alka, pria itu selalu menatapnya membuat dirinya jadi salah tingkah.
Tak biasanya Alka memperhatikannya begitu serius.
Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Shireen mengajak Raline dan Sean mengobrol.
Lilis dengan sengaja menyenggol lengan putranya.
Alka dengan cepat tersadar kalau dia memang jatuh cinta pada Shireen.
Dua jam berkumpul dengan keluarga Alka, Shireen berpamitan pulang.
Alka menemani wanita itu menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah Mama Lilis.
"Tak biasanya Mas Alka mengantar saya sampai ke mobil," sindirnya.
"Ada yang ingin saya katakan," ucap Alka.
"Apa itu, Mas?"
"Ya, saya suka."
"Kalau begitu tiap hari saya akan kirimkan," ujar Alka.
Shireen melambaikan tangannya melarangnya. "Jangan, Mas!"
"Kenapa?"
"Untuk apa saya sebanyak itu? Seperti mau buka toko bunga saja," ujarnya.
"Kamu bilang suka."
"Ya, memang suka tapi itu berlebihan," ucap Shireen.
"Benar juga, sih."
"Oh, ya. Mas, apa saya boleh tanya sesuatu?"
"Ya."
"Bunga mawar ini mirip sekali dengan dua buket bunga yang saya terima pagi tadi. Apa benar itu dari Mas Alka?"
__ADS_1
Alka menjawabnya dengan mengangguk pelan.
"Apa? Dia yang mengirimkannya, tidak. Ini pasti mimpi!"
"Maaf!"
"Tidak, Mas. Saya senang," Shireen tersenyum.
"Terima kasih!" Alka membalas dengan senyum.
"Astaga, ternyata dia bisa seromantis itu!"
"Shireen!" panggilnya.
"Ya, Mas."
"Bagaimana besok malam kalau saya jemput kamu di rumah kita makan malam berdua?" ajak Alka.
Shireen mendelikkan matanya tak percaya, pria yang katanya tak menyukainya mengajak makan malam berdua.
"Kamu tidak mau, ya?"
"Saya mau, Mas," jawab Shireen semangat.
"Baiklah, jam tujuh malam saya jemput kamu!"
"Ya, Mas."
"Terima kasih!" Alka tersenyum.
"Kalau begitu, saya pamit," Shireen membuka pintu mobilnya dan masuk.
Di dalam mobil, Shireen menggerakkan seluruh tubuhnya meluapkan ekspresi kebahagiaannya karena pria yang ditaksirnya memberikan bunga dan mengajaknya makan malam.
Ditengah luapan kegembiraannya, jendela mobilnya di ketuk. Dengan cepat ia menurunkan kaca, "Ada apa, Mas?"
"Ponsel kamu ketinggalan," Alka menyodorkannya.
"Maaf merepotkan, terima kasih," ucapnya.
"Ya, sama-sama. Shireen, kenapa pipimu merah?"
Shireen memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa kamu sakit?"
"Tidak, Mas. Kalau begitu saya pamit," Shireen tersenyum lalu buru-buru menaikkan kaca jendelanya.
__ADS_1
Shireen melihat wajahnya di kaca spion yang berada di dalam mobil, "Iya, benar. Wajahku memerah, buat malu saja. Jadi, ketahuan kalau aku begitu sangat bahagia." Ia pun tersenyum.