Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 72 - Undangan Pernikahan Dari Andri


__ADS_3

Dua bulan setelah pernyataan cinta Dion kepada Rani, keduanya tak pernah saling berkomunikasi.


Dion memutuskan pindah bekerja ke kantor cabang yang ada di Pulau Sulawesi. Pria itu mengambil keputusan yang tepat karena harapannya mendapatkan Rani pupus untuk kesekian kalinya.


Sementara itu, Alka memberikan izin Rani bertemu anak-anak melalui Shireen atau Mama Lilis. Mantan istrinya itu hanya boleh berkomunikasi kepada kedua wanita itu. Karena Alka menolak dan menghindari bertemu dengan wanita yang sudah memberikannya ketiga buah hati.


Hari ini Rani mengantarkan putranya Varrel lomba mewarnai yang diadakan sebuah Mall ternama di kotanya.


Rani mengenggam tangan putranya begitu erat. Ia akan mendaftarkan ulang karena itu salah satu syarat.


"Bu, aku ingin ke toilet!" ucap Varrel setelah mereka melakukan pendaftaran ulang.


"Baiklah, kita ke toilet!" Rani menemani putranya.


Rani menunggu diluar, tak sengaja ia bertemu dengan mantan suaminya yang baru saja keluar dari toilet.


"Rani!" lirihnya.


Rani tersenyum tipis.


"Apa kabar?" tanyanya.


"Baik," jawab Rani singkat.


"Mas Andri sudah siap!" ucap seorang wanita membuat keduanya menoleh.


"Sudah, ayo kita makan!" Andri berbicara dengan wanita itu lalu merangkul pinggangnya.


"Apa dia istrinya Andri?"


"Bu, aku sudah selesai," ucap Varrel membuyarkan lamunan Rani.

__ADS_1


"Ayo kita bergabung dengan yang lainnya!" memegang tangan putranya.


Rani melewati restoran yang dikunjungi Andri dan wanitanya. Keduanya tampak akrab dan saling menyuapi.


Rani segera membuang wajahnya, ia tak ingin melihat kemesraan mantan suaminya dengan wanita lain.


Acara lomba pun dimulai, Varrel duduk bersama dengan peserta lainnya.


Rani mengawasi dan mengabadikannya melalui ponselnya.


Selesai lomba Rani mengajak putranya makan siang bersama karena jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.


Sembari menunggu pesanan, Varrel berkata, "Nanti ketika pengumuman Ibu juga hadir, ya!"


"Pastinya!"


Varrel tersenyum senang.


Rani sibuk dengan ponselnya dan Varrel memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


"Biarkan saja!"


"Bukankah Ibu istrinya Om Andri?"


"Sekarang sudah tidak, Varrel."


"Oh."


"Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita pulang. Mama Shireen selalu menelepon ibu seperti dirinya ibu kandungmu!" ujar Rani.


"Mama Iren baik, Bu. Tak pernah marah pada kami," ucap Varrel.

__ADS_1


"Memangnya Ibu tak baik?" tanya Rani.


"Ibu baik juga, tapi kenapa dahulu Ibu meninggalkan kami," ungkapnya.


Rani terdiam sejenak lalu berucap, "Maafkan, Ibu!"


Varrel tersenyum tipis.


Menjelang pukul 2 siang, Rani mengantarkan Varrel pulang ke rumah tak lupa ia membelikan makanan buat Raline dan Sean.


Begitu sampai di rumah Alka, ia turun membukakan pintu untuk Varrel. Rani juga menyapa kedua buah hatinya sebelum berpamitan pulang.


...----------------...


Beberapa hari kemudian Rani mendapatkan undangan dari mantan suaminya Andri. Ya, pria itu akan menikah dengan wanita yang ia temui di mall.


Undangan tersebut diantar tanpa perantara oleh Andri sendiri. "Aku harap kamu datang!"


"Aku akan menyempatkan waktu untuk datang. Selamat atas pernikahanmu!"


"Terima kasih," ucap Andri. "Aku harap kamu juga akan menemukan kebahagiaan," lanjutnya.


"Semoga," harap Rani.


"Aku berpesan padamu, jika sudah menikah jangan pernah mengkhianati suamimu lagi. Cukup aku dan Alka saja," nasehat Andri.


"Aku juga berharap kamu tidak merusak rumah tangga orang lain dan berselingkuh dari istrimu!"


Andri tersenyum, "Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama!"


"Semoga saja," Rani tersenyum tipis.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku pamit, sampai jumpa!" Andri meninggalkan kafe yang berada bersebelahan dengan kantor Rani.


"Mas Alka sudah menikah dan punya anak, Andri segera menikah dan Dion malah pergi. Sekarang aku sendirian, rasanya sangat hampa sekali."


__ADS_2