Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 55 - Biarkan Saja, Dia Ibunya!


__ADS_3

Shireen mengadu kepada Alka pada malam harinya menjelang tidur, kalau tadi Varrel pulang jam 3 sore.


"Mas, aku tak suka Kak Rani membawa anak-anak tanpa seizinku apalagi tadi Varrel pulang sore melanggar janji padamu yang seharusnya setengah dua sudah tiba di rumah," protesnya.


"Tapi, Varrel tetap pulang 'kan?" merebah dirinya di ranjang.


"Ya, tetap pulang. Kalau tidak aku akan terus menelepon Mas Alka!"


"Varrel tidak pulang pun tak masalah yang penting sama Rani," ujar Alka.


"Kenapa Mas Alka jadi membiarkan mereka bersama ibunya?"


"Bukankah itu bagus? Kamu lebih banyak beristirahat, pekerjaan kamu mengurus anak-anak lebih ringan," ungkapnya.


"Apa maksud Mas Alka? Aku mengurus mereka karena ikhlas, aku tak menjadikan mereka beban. Kenapa Mas Alka seakan-akan mengatakan jika anak-anak itu adalah beban untukku?"


"Aku tidak bermaksud begitu, Shireen. Kamu sedang mengandung anak pertama kita, aku tidak ingin kamu stress mengurus anak-anakku yang lainnya."


"Aku senang dan bahagia mengurus mereka tapi Kak Rani harusnya tahu jika dia ingin membawa anaknya dia perlu memberi tahu kamu atau aku bukan seperti tadi!"


"Aku akan mengirimkan pesan pada Rani tentang hal itu. Sekarang kamu istirahat, jangan marah-marah terus kasihan bayinya," Alka mengelus perut istrinya yang berbaring.


Shireen memejamkan matanya.


...----------------...


Keesokan harinya, Alka mengantarkan Raline ke sekolah bersama Shireen.


Shireen turun dari motor dan menemani Raline ke kelasnya. "Mama mau pulang, kamu rajin belajar 'ya!" mengecup pucuk kepala gadis kecil itu.


"Iya, Ma!" Raline mencium perut Shireen.


Alka dan Shireen melambaikan tangannya kepada putrinya, keduanya pun pulang. Setelah mengantarkan istrinya pulang, Alka berangkat ke bengkel.


Pukul 9 pagi, Shireen berpamitan kepada Lilis mau mengantarkan Varrel ke sekolah sekaligus ke tempat usaha miliknya.


Shireen mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir.


Begitu sampai di sekolah sebelum Varrel turun, Shireen berkata, "Jika nanti ibu kamu menjemput, pulang ke rumah terlebih dahulu 'ya!"


"Kenapa begitu, Ma?"


"Kamu harus mengganti pakaian terlebih dahulu," jawab Shireen.


"Baik, Ma."


"Kamu menyayangi Mama, kan?"


"Tentunya, Ma."


Shireen memegang wajah putranya dan tersenyum, "Terima kasih!"


"Aku sekolah, Ma!" mencium punggung tangan Shireen.


"Jangan nakal dan rajin belajar!"


"Siap, Ma!" Varrel membuka pintu kemudian berlari memasuki halaman gedung sekolah.


Shireen melanjutkan perjalanannya ke tempat katering dan laundry miliknya.


-


-


Siang ini Shireen hendak pulang ke rumah sekaligus menjemput Varrel ke sekolah tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia segera mengangkat dan menjawabnya, "Halo, Mas!"


"Kamu tidak usah menjemput Varrel," ucap Alka.


"Kenapa, Mas?"


"Rani sudah menjemputnya," jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Kalau begitu aku akan pulang nanti sore," Shireen menutup teleponnya.


Sementara itu, Rani sudah berdiri dan menunggu putranya di depan pagar sekolah.


Tak terlalu lama menunggu, bel berbunyi para siswa pun keluar dari kelas masing-masing.


"Varrel!" panggilnya.


Bocah tahun itu menoleh, "Ibu!"


"Ayo kita makan siang!" ajaknya menggandeng tangan putranya.


"Ibu kita pulang ke rumah dulu mengganti pakaian dan minta izin kepada Mama Shireen," ujar Varrel.


"Ibu sudah minta izin pada ayah kamu, tak perlu mengganti pakaian karena memperlama waktu," ucap Rani membuka pintu mobil.


Varrel tidak membantah, ia menurut apa kata ibunya.


Mereka pergi ke sebuah restoran siap saji tak jauh dari sekolahnya Varrel.


"Apa kamu tahu di mana Raline sekolah?" tanya Rani di sela-sela makan siangnya.


"Tahu, nanti aku akan tunjukkan!"


"Ibu rindu juga dengan Raline dan Sean tapi nenek dan mama kamu selalu melarangnya," ujar Rani.


Varrel diam dan menikmati ayam gorengnya.


"Apa kamu bisa membantu Ibu?"


"Bantu apa Bu?"


"Kalau Mama Shireen melarang Ibu bertemu dengan kamu dan adik-adikmu, kamu harus membela ibumu ini yang melahirkanmu!"


"Baiklah, Bu."


-


"Ibu tak ikut ke rumah?"


"Tidak, Nak. Ibu harus kembali ke kantor, sampai jumpa!"


"Sampai jumpa juga, Bu!" Varrel turun dari mobil lalu melambaikan tangannya ke arah mobil yang berlalu.


Varrel menyalami punggung tangan neneknya.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah, Nek. Tadi sama ibu," jawab Varrel.


"Kakak jumpa ibu, di mana dia?" tanya Raline.


"Sudah pulang," jawabnya. "Tadi ibu tanya sekolah kamu, aku sudah tunjukkan padanya!" lanjutnya.


"Kenapa ibu kamu tanya sekolah Raline?" Lilis memotong percakapan kedua cucunya.


"Mungkin ibu ingin menjemput Raline dan mengajaknya makan diluar," jawabnya.


"Aku tidak mau diajak dengan ibu!" tolak Raline.


"Raline, ibu yang melahirkan kita. Kamu tak boleh durhaka padanya, dosa tahu!" ucap Varrel.


"Mama Shireen selalu ada untukku!" Raline tak mau kalah.


"Raline, Varrel, sudah cukup! Hentikan perdebatan kalian, sekarang pergi tidur!" perintah Lilis.


"Baik, Nek!" kedua bocah itu membubarkan diri.


"Mau buat ulah apa lagi itu perempuan!" keluhnya.


-

__ADS_1


-


Malam harinya selesai makan malam dan mencuci piring kotor, Shireen mengajak suaminya mengobrol di ruang makan itu.


Anak-anak sedang melakukan kegiatannya di ruang tamu sekaligus ruang santai.


"Kamu mau bicara apa?"


"Ini tentang Kak Rani!"


"Memangnya kenapa lagi dengan dia?"


"Kak Rani sudah tahu di mana Raline sekolah."


"Ya, memangnya kenapa?"


"Aku tidak mau Raline dibawa pergi dengannya!"


"Biarkan saja, dia ibunya!"


"Mas, kamu ingin anak-anak meninggalkan kita?"


"Shireen, Rani itu ibunya dia berhak mengurus dan merawat anak-anak!"


"Bukankah dari dulu Mas Alka yang melarang Kak Rani menemui anak-anak?"


"Ya, aku salah sekarang tidak boleh egois," jawab Alka pelan.


Shireen tersenyum sinis.


"Shireen, sudah cukup. Jangan berpikir yang aneh-aneh dengan Rani. Anak-anak juga tetap akan menyayangimu," ujar Alka.


"Aku takut, kalau anak-anak akan menjauhiku!" ucap Shireen sedih, entah kenapa selama hamil perasaannya terlalu sensitif, mudah tersinggung dan sakit hati.


Alka memeluk istrinya yang duduk disebelahnya, "Mereka tidak akan menjauhi kamu!"


"Ya, Mas."


Sementara di lain tempat dan waktu yang sama, Rani baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak tidur terdengar suara mobil suaminya ia lantas bergegas membukakan pintu.


Andri masuk ke rumah dengan tas kerja yang ia jinjing.


"Lembur atau rapat lagi?" tanya Rani, sejak 5 bulan lalu ia dan suaminya tidak bekerja di satu perusahaan lagi karena ia memilih mengundurkan diri dan pindah ke tempat lain.


"Lembur."


"Tiap hari apa selalu begitu? Dahulu ketika kita satu perusahaan, kamu tak pernah seperti ini. Kamu tidak bermain dibelakang ku, kan?"


"Kamu bicara apa Rani? Aku kerja juga untuk kamu!"


"Kamu kerja bukan untukku saja, ada Laras dan Tasya," ujar Rani.


"Makanya kamu hamil dan kita punya anak agar uangku juga untuk anak kita!"


"Oh, jadi kamu menuntut aku punya anak lagi?"


"Rani, di pernikahan ini apa salahnya jika kita memiliki anak?"


"Aku tidak mau! Aku sudah payah membuat tubuhku menjadi seksi seperti ini, kamu menyuruh aku hamil dan melahirkan. Aku tidak mau kamu berpaling dariku!"


"Aku tidak mungkin mengkhianati cinta kita, Rani!"


"Tidak mungkin, bagaimana? Lalu skandal kamu dengan wanita bernama Widya, apa semua itu palsu?"


Andri tertunduk bersalah, foto-foto dirinya dengan Widya memang benar ia menjalin cinta dengan wanita itu namun sudah ia akhiri karena suami Widya mengetahui hubungan mereka.


"Aku rela berpisah dengan Mas Alka dan anak-anak demi kamu, sekarang kamu ingin lebih dariku. Aku tidak akan memberikannya!"


"Kamu mencintaiku tapi kenapa tidak menginginkan buah hati di pernikahan kita?"


"Karena aku tak mau direpotkan mengurus bayi dan tidak ingin tubuh seksiku menjadi jelek!" menekankan kata-katanya

__ADS_1


__ADS_2