
Rani melemparkan tasnya ke sembarang arah begitu dirinya tiba di rumah dan masuk ke dalam kamar. Ia begitu sangat kesal dan marah kepada Alka dan istrinya.
Rani menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit kamar. Keinginannya merebut kembali mantan suaminya gagal sudah.
"Aaarrrghhh.....!"
Rani bangkit lalu mencampakkan bantal dan menarik selimut dari kasurnya. "Harusnya aku yang berada di dekat Mas Alka, bukan wanita itu!" geramnya.
Rani lalu menghubungi seseorang untuk diajaknya mengobrol.
Hanya beberapa detik, Rani lantas menutup panggilan teleponnya.
Rani meraih handuk, membersihkan dirinya setelah itu ia berpakaian kemudian pergi. Ia membiarkan kamarnya berantakan.
Begitu sampai, seseorang yang diteleponnya telah lebih dahulu datang.
"Tumben sekali kamu menelepon dan mengajakku bertemu," ujarnya.
"Aku sedang suntuk."
"Suntuk karena seorang pria?" tebaknya.
"Ya."
"Pria mana lagi yang ingin kamu kejar?" tanyanya.
"Mantan suamiku Alka!"
"Dia sudah menikah, kamu ingin menjadi pelakor?"
"Aku hanya ingin dekat dengan anak-anak, Dion."
"Tapi, bukan begitu caranya," ujarnya.
"Lalu bagaimana?"
"Aku rasa dekat dengan anak-anak bukan jadi tujuan alasan kamu," berusaha menebak lagi.
"Ya, begitulah."
"Sampai kapan kamu terus merusak rumah tangga orang lain?"
"Aku hanya ingin menjadi istri kedua dari Mas Alka, itu saja!"
"Bagaimana dengan istrinya?"
"Aku tidak peduli!" jawab Rani santai.
__ADS_1
"Jangan egois, Rani. Hidupmu tak mungkin terus begini, apa kamu tidak memikirkan hari tua yang santai dan tenang."
"Justru itu, aku tak ingin kekurangan harta. Aku harus cantik, apa kamu mau jika menikah istrimu nanti ketika lanjut usia kecantikannya memudar?"
"Hal itu wajar dan lumrah."
"Ya, bagi kalian para pria mengatakan begitu di lisan. Kenyataannya, ia melirik wanita yang lebih muda dan seksi."
"Semoga aku tidak!"
Rani tertawa. "Hei, kamu belum menikah."
"Ya, aku memang belum menikah karena menunggu seseorang," ujarnya.
"Seseorang? Apa aku mengenalnya?"
"Ya."
"Apa kamu sudah mengatakan perasaan padanya?"
Dion menggelengkan kepalanya.
"Kenapa belum?"
"Aku takut dia akan menolakku!"
"Aku ragu."
"Ayolah, Dion. Sampai kapan kamu terus hidup sendiri begini," ujar Rani.
"Kamu juga hidup sendirian," celetuknya.
"Hei, anakku ada tiga. Aku sudah dua kali menikah," ucap Rani.
"Aku takut pernikahanku kandas sepertimu!"
"Jangan menyindirku," ucap Rani. "Apa perlu aku membantumu mengatakan padanya?" lanjutnya.
"Tidak perlu!"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Aku penasaran siapa wanita itu?"
"Dia bukan orang jauh, kamu sangat mengenalnya. Dia juga berada di sini!"
__ADS_1
Rani mengedarkan pandangannya mencari wanita yang dimaksud oleh temannya itu.
Dion tertawa kecil melihat tingkah Rani yang mencari tahu wanita yang disukainya.
"Dia yang mana?" terus memperhatikan sekitarnya.
"Di tempat ini juga, Rani."
"Yang mana, sih?"
"Coba lihat lagi," ujar Dion.
"Kamu pasti ingin membohongiku, ya!"
Dion tertawa.
"Kan, kamu bohong!"
"Apa sebegitu pentingnya kamu harus tahu?"
"Aku hanya penasaran saja, siapa yang berhasil merebut hatimu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Sudahlah lupakan saja," ujar Dion.
"Cepat katakan siapa wanita itu?" sangat penasaran.
"Kamu harus janji denganku!"
"Janji apa?"
"Takkan marah jika berkata jujur dan tetap berteman kalau tahu yang sebenarnya," ujar Dion.
"Baiklah, aki akan menepati janjiku. Sekarang cepat katakan!"
Dion menatap Rani dengan senyuman.
"Cepat katakan!"
"Wanita itu memang ada di ruang ini dan sangat dekat," ujar Dion.
"Jangan lama-lama, cepat buruan!"
"Baiklah," ucap Dion. "Wanita itu kini ada dihadapanku!" lanjutnya.
__ADS_1
Seketika Rani terdiam dan tak bergerak.