Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 39 - Membuat Rani Cemburu


__ADS_3

Rani mendatangi kediaman Andri dan Laras karena sudah 3 hari ini suaminya tidak pulang ke rumah.


Laras membuka pintu ketika mendengar suara ketukan.


"Di mana suamiku?" tanya Rani tanpa basa-basi.


"Aku tidak tahu," jawab Laras ketus.


"Andri tidak pulang ke rumahku pasti dia di sini!"


"Dia tidak di sini, mungkin ke tempat wanita selingkuhan yang lain," celetuk Laras.


"Tidak mungkin, Andri seperti itu. Dia hanya mencintai aku!" kata Rani penuh yakin.


"Benarkah?"


"Cepat katakan di mana Andri?"


"Rani, kamu 'kan bisa menghubunginya kenapa harus bertanya padaku? Apa kalian sedang bertengkar sehingga ia menolak telepon darimu?" sindir Laras.


Rani pun terdiam.


"Pergilah dari rumahku, aku ingin menjemput putriku," Laras mengambil kunci mobil dari dalam tas dan melewati madunya.


Rani menarik lengan Laras hingga membuat tas wanita itu terjatuh dan beberapa isinya keluar.


Laras tampak kesal dengan sikap istri kedua suaminya. Ia lantas jongkok hendak memungut isi dalam tasnya.


Rani melihat sebuah kartu nama atas nama mantan suaminya dengan cepat mengambilnya dan membacanya. "Kenapa ini ada padamu?"


Laras sudah memasukkan barang yang berserakan ke dalam tas. Lalu berdiri, "Aku datang ke bengkelnya dan meminta nomor ponselnya."


"Ada hubungan apa kau dengan Mas Alka?" tampak kesal.


Laras tertawa menyeringai, "Kau dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Kenapa harus peduli?"


"Mas Alka sudah memiliki calon istri!"


"Ya, aku tahu tapi 'kan mereka belum menikah. Aku bisa merebutnya, kau saja bisa merusak rumah tangga orang lain. Kenapa aku tidak?"


"Laras, kau masih istri Andri!"


"Ya, aku tahu. Bukankah kau waktu itu masih istri Alka?" Laras menyindirnya.


Rani lagi-lagi terdiam dibungkam Laras.


"Pergilah, cari suamimu di rumah mertuamu. Biasanya dia jika ada masalah pasti ke sana!" Laras membuka pintu mobil dan masuk, membuka kaca jendela. "Aku belum mengunci pintu rumahku, tolong kunci 'kan!" Laras memberikan kunci.


Rani meraihnya dengan wajah cemberut, berjalan ke pintu rumah lalu menguncinya kemudian kembali mendekati mobil Laras dan menyerahkan kuncinya.


"Terima kasih, maduku!" Laras tersenyum.


Rani tak membalasnya, ia berjalan ke arah mobilnya dengan cepat dan meninggalkan rumah Laras.


-


Rani meluncur ke rumah mertuanya, karena hari ini adalah akhir pekan jadi jalanan sedikit lenggang.


Di tengah perjalanan ia melihat motor mantan suaminya berbelok ke arah sebuah supermarket yang tersedia beberapa wahana permainan anak.


Alka menghentikan laju motornya begitu juga dengan Shireen yang berada di sebelahnya.


Shireen menurunkan Raline yang duduk di bagian depan kemudian menyusul dirinya.


Shireen mengambil alih menggendong Sean yang duduk di depan Alka.


Varrel pun turun disusul ayahnya.


Alka membuka pengait helm yang dikenakan kekasihnya.


Pemandangan itu terlihat oleh Rani yang menghentikan mesin mobilnya tak jauh dari supermarket. Ada perasaan cemburu di dalam dadanya melihat kemesraan Alka, ketiga buah hatinya dengan wanita yang akan menjadi pengganti dirinya.

__ADS_1


Rani mencengkeram setir mobil, rasa kesalnya semakin bertambah, "Harusnya aku yang ada di sana!" geramnya.


Melihat mantan suaminya telah masuk ke dalam supermarket, Rani pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu, Raline dan Varrel begitu senang diajak jalan-jalan dan bermain. Sean hendak turun dan membuat kewalahan Shireen yang menggendongnya.


Alka yang sigap mengambil alih menggendong putra bungsunya.


Sejam berkeliling memainkan wahana permainan dan belanja beberapa keperluan rumah, mereka menikmati makan siang di food court yang tersedia di supermarket.


Raline selalu menampilkan senyumnya, dia sangat bahagia karena ayahnya dan Tante Iren menyempatkan waktunya untuknya.


"Mas, kapan punya waktu untuk bertemu dengan papa?"


"Aku selalu ada waktu jika kamu yang memintanya," jawab Alka.


Shireen tersipu malu.


"Besok malam, aku akan ke rumah kamu," ujar Alka.


"Aku akan beritahu papa, Mas!"


"Tante, tolong suwirkan ayamnya!" pinta Raline.


"Iya, sayang!" Shireen melakukannya penuh perhatian.


Alka menyuapkan makanan ke mulut Sean.


-


Rani tiba di kediaman orang tua suaminya, ia mencium punggung tangan kedua mertuanya.


"Kamu tidak bersama Andri?" tanya mertua perempuan.


"Aku ke sini ingin bertanya keberadaan Andri, Ma,"


"Andri terakhir ke sini seminggu yang lalu," ujar papa mertua.


"Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya mama mertua.


"Sudah, Ma. Tapi tak pernah ada jawabannya," jelas Rani.


"Nanti Papa akan menghubunginya," ujar papa mertuanya.


-


Tak sampai 1 jam di rumah mertuanya, Rani kembali pulang ke rumahnya. "Di mana sebenarnya dia?" gumamnya.


Tanpa sengaja Rani melihat mobil Andri terparkir di sebuah restoran. Ia pun membelokkan laju kendaraannya ke arah tempat itu.


Rani turun dari mobil lalu berjalan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.


Dan benar saja Andri sedang mengobrol berdua dengan seorang wanita.


Rani yang terbakar cemburu menghampirinya, "Ternyata kamu tidak pulang ke rumah karena wanita ini!" menunjuk perempuan yang ada dihadapan suaminya dengan suara lantang.


Andri lantas berdiri, "Rani!" sentaknya.


"Apa kamu kurang dengan dua istri sehingga ingin mencari yang baru?" tanya Rani dengan nada tinggi.


"Kamu bicara apa, Rani?"


"Berkali-kali aku menghubungi kamu tak pernah ada jawaban, datang ke rumah Laras juga tidak ada ternyata sekarang aku lihat kamu berduaan dengan dia!" menunjuk wanita itu.


"Rani, kamu salah paham!" ucap Andri.


"Salah paham, bagaimana?" tanyanya lantang.


"Sepertinya anda harus menyelesaikan rumah tangga anda terlebih dahulu, Pak Andri." Wanita itu pun pergi.


"Bu Widya, jangan pergi!" mohon Andri.

__ADS_1


Wanita itu tak menggubrisnya.


"Rani, kamu lihatlah. Dia jadi pergi!" Andri tampak marah.


"Biarkan saja, memang dia seharusnya pergi dari kehidupan kamu!" Rani menyentuh dada suaminya dengan jari telunjuk, kemudian ia berlalu.


Andri meraup wajahnya, ia membayar tagihan makanannya lalu menyusul istrinya di parkiran dan mobil Rani sudah meninggalkan restoran.


Andri bergegas meluncur ke rumahnya.


Begitu sampai, Rani juga baru tiba di rumah. Andri menarik lengan istrinya. "Kamu sudah mempermalukan aku!"


"Itu pantas!" menekankan kata-katanya.


"Rani, wanita tadi itu yang akan menyewa ruko kita," ujar Andri.


"Lalu ke mana saja kamu selama tiga hari ini?"


"Aku di rumah Laras."


"Katanya kamu tak pernah ke sana," ucapnya.


"Aku di sana, Rani. Dia berbohong padamu agar kita bertengkar!"


"Ya, sekarang kita memang bertengkar semua karena kamu!"


"Oke, aku minta maaf!"


"Kenapa kamu tidak menjawab telepon dariku?"


"Aku hendak menjawab tapi Laras selalu mengambil ponselku," jelas Andri.


"Alasan kamu saja!"


"Aku tidak berbohong, Rani. Kamu tahu 'kan kalau aku serius dan cinta hanya dengan kamu!"


Rani terdiam dan memanyunkan bibirnya.


"Jangan cemberut lagi!" Andri memeluk tubuh istrinya.


...----------------...


Pagi ini Rani mendatangi tempat usaha milik Shireen.


"Apa aku bisa menemui pemilik usaha ini?"


"Maaf, anda siapa 'ya?"


"Bilang saja Rani!"


"Baiklah, saya akan panggilkan Bu Shireen." Karyawan wanita itu memanggil bosnya.


Tak lama kemudian wanita yang dicari Rani muncul berjalan menghampirinya.


"Aku ingin berbicara berdua denganmu!" ucap Rani tanpa basa-basi.


Shireen mengajaknya ke ruangan kerja sekaligus istirahat miliknya yang ada di lantai atas.


Rani mengikuti langkah wanita itu.


"Silahkan duduk!" Shireen mempersilakan tamunya begitu sampai di ruangan khusus untuknya.


Rani duduk di sofa berukuran besar dan panjang.


"Mau minum apa?" tanya Shireen.


"Tidak perlu aku tak lama."


"Baiklah," Shireen lantas duduk di sebelah Rani yang berjarak hanya 1 meter.


"Aku cuma minta kepadamu jauhi anak-anakku!"

__ADS_1


__ADS_2