
Shireen pulang dari tempat katering pukul 5 sore, ia menolak Alka menjemputnya karena ia ingin suaminya itu berada di rumah ketika anak-anak tiba di rumah.
Begitu sampai rumah, tidak ada orang sama sekali. Ia memanggil nama anak-anaknya namun tak ada jawaban.
Shireen lantas menelepon suaminya tapi tetap tidak ada jawaban.
Shireen mandi dan menonton televisi sembari menunggu suami dan anak-anaknya pulang. Karena rumah juga sudah bersih, ia pun bisa bersantai.
Sebenarnya dirinya segan, jika tiap hari mertuanya itu yang membersihkan rumah.
Shireen menatap jendela kalau hari sudah menjelang malam. Ia kembali menghubungi suaminya namun tak ada jawaban juga.
Shireen memilih membaca buku, ia akan makan malam ketika suami dan anak-anaknya pulang.
Jam 8 malam, terdengar suara deru mobil. Shireen menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja tamu berjalan ke pintu dan membukanya.
Alka membukakan pintu mobil Rani dan menurunkan anak-anaknya satu persatu.
Walaupun suaminya tak satu mobil dengan Rani ada perasaan cemburu dihatinya.
Mobil Rani meninggalkan kediaman Alka.
"Mama!" sapa ketiga buah hati suaminya.
Shireen menampilkan senyum terpaksa.
"Maaf, aku tidak memberitahu kamu...."
Shireen tak ingin mendengar penjelasan suaminya dan memilih masuk ke dalam. "Kalian sudah makan?" tanyanya pada anak-anak.
__ADS_1
"Sudah, Ma!" jawab Varrel dan Raline serentak.
"Ayah juga sudah makan, kami makan bersama ibu," ujar Raline.
"Oh, ya!" Shireen melirik suaminya. "Makan di mana?" tanyanya lagi pada Raline.
"Di rumah, ibu yang masak," tutur Raline.
"Oh, kalau begitu kalian cuci kaki, ganti pakaian, jangan lupa sikat gigi setelah itu pergi tidur," ucap Shireen.
"Baik, Ma!" Raline dan Sean berlari ke kamar.
Shireen meraih tubuh Sean dan menggendongnya membawa ke kamar, mengganti pakaiannya dan menidurkannya.
Pukul 9 malam, Shireen baru keluar dari kamar anak-anak. Ia berjalan ke arah dapur mengambil piring menyendok nasi beserta sayur dan lauk.
Alka yang berada di ruang tamu bergegas menghampiri istrinya. "Kenapa baru makan malam?"
Shireen tak menjawabnya.
Alka menarik kursi lalu duduk di sebelah istrinya. "Maafkan aku!"
Shireen tak menggubrisnya, ia tetap makan tanpa menatap suaminya.
"Jangan diamkan aku seperti ini, Shireen!" mohonnya.
Shireen meraih gelas berisi air putih dan menenggaknya, memundurkan kursinya dan mencuci piring.
Shireen pergi ke ruang bagian depan kembali melanjutkan membaca buku.
__ADS_1
Alka menarik buku yang dibaca istrinya kemudian menutupnya. "Dengarkan dahulu penjelasan aku!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Mas!" sentaknya.
"Shireen!" ucap Alka lirih, selama mereka menikah istrinya tak pernah berkata lantang seperti tadi.
"Hari ini aku sangat lelah, jangan ganggu!" Shireen melangkah ke kamarnya.
Alka menyusul istrinya, "Rani meneleponku jika anak-anak di bawa ke rumahnya. Karena hari sudah sore aku menyusul ke sana. Sesampainya, Rani menawarkan aku makan dan anak-anak memaksaku. Kami tidak berdua, ada kedua orang tuanya Rani juga yang kebetulan datang."
Shireen memilih memunggungi suaminya.
"Shireen, jangan seperti ini padaku!" Alka mendekap tubuh istrinya.
"Lepaskan aku, Mas!" pintanya dengan nada dingin.
"Tidak akan, sebelum kamu memaafkan aku!"
Shireen membalikkan tubuhnya, "Kamu tidak salah, Mas. Aku harusnya sadar, jika anak-anak kamu bukan anak kandungku. Aku tidak berhak mengatur mereka, aku tidak bisa melarang mereka bertemu dengan ibu kandungnya dan aku juga tak perlu cemburu Mas Alka dekat dengan ibunya anak-anak!" air matanya tak dapat lagi dibendung.
Alka memegang kedua pipi istrinya dan mengecup keningnya, "Kamu tetap Mama yang terbaik!"
Shireen semakin mengencangkan tangisannya.
Alka menghapus air mata istrinya, "Jangan menangis lagi, aku tidak mau kena omelan Raline jika berani membuat mamanya bersedih!"
Shireen tertawa kecil dan memukul pelan dada suaminya.
Alka semakin mempererat dekapannya dan keduanya pun terlelap.
__ADS_1