
Seharian ini Alka dan Rani saling diam, keduanya melakukan aktivitas seperti biasa.
"Bu, besok jadi 'kan kita jalan-jalan?" tanya Raline ketika selesai makan malam.
"Tentunya, Nak." Rani menjawab dengan senyuman.
"Bu, kita berlima saja 'kan yang pergi?" tanya Varrel.
"Tidak, Nak. Kita akan mengajak Oma Rita, Opa Andi, Bibi Rina juga."
"Kenapa mengajak Bibi Rina, Bu?" tanya Varrel lagi.
"Ya, karena mereka saudara kita juga."
"Nenek juga di ajak, kan?" Varrel bertanya lagi.
"Ya, Nak."
"Hore Nenek ikut!" Raline berteriak riang.
"Waktunya kalian tidur!" Rani membawa anak-anaknya ke kamar dan turut tidur bersama.
Sementara Alka tidur sendirian.
-
Pukul 1 malam, Alka terbangun ia melangkah ke kamar anak-anaknya namun tak menemui istrinya. "Pasti dia sedang berteleponan dengan pria itu!" batinnya menuding.
Alka lalu mencari keberadaan istrinya di ruang tamu dan benar saja, Rani sedang berbicara dengan seseorang menggunakan telepon genggam miliknya.
Alka meremas tangan kanannya, entah kenapa rasanya sakit sekali ketika istrinya mampu tertawa bahagia kepada pria lain selain dirinya.
Alka lantas mendekati Rani dan mengambil ponselnya secara paksa kemudian mematikannya.
Rani terkejut lalu berdiri, "Mas!" sentaknya.
"Kamu tak suka?" tanya Alka menantang.
"Kenapa Mas matikan?" Rani tampak kesal.
"Siapa dia, Rani?" balik bertanya.
Wanita itu tak bisa menjawabnya.
"Aku lihat sekarang kamu berubah, apa yang kamu sembunyikan dariku?" Alka berusaha bertanya dengan suara pelan.
"Tidak ada yang ku sembunyikan darimu, Mas."
"Jangan bohong!" sentaknya.
"Aku tidak berbohong, Mas." Rani berusaha terus mengelak.
Alka menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Mas, percaya padaku. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pria manapun," Rani berkata pelan.
Alka tak mau memperpanjang masalah, ia pun bergegas ke kamar. Begitu berada di ruangan itu ia melayangkan ke udara lalu meraup wajahnya secara kasar.
Sementara itu Rani menghembuskan nafas seraya mengelus dada.
...----------------...
Keesokan paginya....
Keluarga Alka kini tiba di sebuah taman wisata tak jauh dari kediamannya yang hanya menempuh perjalanan 1 jam.
__ADS_1
Keluarga besar Rani juga telah datang.
Lilis yang merasa canggung dengan keluarga besar menantunya memilih dekat dengan cucu-cucunya.
Rita tersenyum sekedarnya kepada ibu mertua putrinya. Walaupun mereka duduk di tikar yang sama, keduanya hanya berbicara singkat.
Ditengah keseruan liburan keluarga Alka dan mertuanya, mereka kedatangan seseorang yang tak ia kenal.
Rita berdiri menyambut pria dan keluarganya. "Tante merasa ini menjadi kejutan dengan kedatangan kalian ke sini!"
"Benarkah, Tante? Kami ke sini karena Rani yang mengundang," ujar pria itu melirik istri Alka. "Tante, perkenalkan ini istriku yang paling cantik," lelaki yang bernama Andri memperkenalkan wanita di sampingnya.
Wanita itu tersenyum lalu berjabat tangan diikuti anak perempuan berusia 4 tahun.
"Mari kita makan siang bersama," ajak Rita semangat.
Andri dan keluarganya duduk bersama dengan keluarga besar Rani yang lainnya.
Alka terus memperhatikan pria yang kini berhadapan dengan istrinya, ia seperti pernah mengenal wajahnya.
Alka berusaha terus mengingat dan ternyata lelaki yang datang bersama istri dan putrinya itu adalah teman dekat Rani.
Alka tersenyum walau hatinya sedang menahan rasa marah dan cemburu. Sesekali ia juga memperhatikan mimik wajah istrinya yang begitu kaku tak sehangat biasanya terlihat oleh kedua matanya.
-
Walaupun berkumpul tapi fokus mata Alka terus menuju kepada istrinya dan pria itu.
Alka sedang menggendong Sean yang terus mengoceh, tatapannya kehilangan sosok dua orang yang selalu dipantaunya.
Alka menyerahkan putra bungsunya pada Lilis, "Ma, titip Sean. Aku mau ke toilet." Pamitnya berbohong.
Lilis mengambil alih gendongan.
Alka berjalan mencari keberadaan mereka. Tak cukup lama ia menemukannya.
Alka melihat keduanya dari kejauhan.
"Kamu ingin suamiku tahu tentang hubungan kita!" Rani tampak marah.
"Aku tak mau jika kamu terus berdekatan dengan suamimu itu, Rani."
"Kamu pikir aku suka dengan kedekatan kalian juga!"
"Aku terpaksa membawa mereka biar tak ada yang curiga!"
"Jaga jarak dan pandanganmu selama dekat dengan keluargaku!" Rani pun berlalu.
Alka cepat-cepat bersembunyi agar istrinya tak tahu kalau sedang diawasi.
Alka lalu berjalan di belakang istrinya dan memanggilnya, "Rani!"
Wanita itu terdiam lalu menoleh tampak wajah ketakutan.
"Dari mana?"
"Dari toilet, Mas."
"Oh, jaga Sean. Aku mau ke toilet, Mama mau makan," ujar Alka berbohong.
"Baik, Mas." Rani pun pergi.
Agar tidak curiga Alka pun ke toilet.
-
__ADS_1
-
Menjelang sore, mereka kembali ke rumah masing-masing. Rani begitu sangat akrab dengan anak-anaknya untuk menutupi kesalahannya.
Alka hanya diam.
"Mas, mau aku buatkan teh hangat?" tawarnya.
"Tidak, nanti aku bisa buat sendiri," jawab Alka.
"Jika mau katakan padaku, ya," ucapnya lembut.
"Aku tidak mau merepotkan, urus saja anak-anak. Jarang sekali kamu mengobrol dengan mereka," ujar Alka kemudian masuk ke kamar mandi.
Rani terdiam menatap pintu kamar mandi.
...----------------...
Rani menikmati sarapan bersama seorang pria di sebuah kafe. Menyeruput teh sembari memandang keramaian ibukota.
"Kenapa mengajak bertemu di sini?"
"Aku perlu bicara dengan kamu!"
"Masalah suami kamu lagi?" tebak pria itu.
"Ya, Mas Alka semakin menjauhiku."
Pria itu menarik ujung bibirnya, "Ini berita sangat bagus."
"Aku belum bisa melepaskan dia sebelum kamu meninggalkan istrimu," ujar Rani.
"Aku akan pergi meninggalkan dia, Rani."
"Aku tidak yakin, Andri."
"Kamu tak percaya dengan cinta kita, orang tua kamu menyetujui hubungan kita tapi kamu malah memilih pria itu daripada aku," ucapnya.
"Waktu itu sangat berbeda, Mas Alka aku pikir adalah pewaris penginapan Sudiro Star Hotel ternyata bukan."
"Sekarang tidak ada yang bisa di banggakan darinya lagi, untuk apa mempertahankannya?"
Rani tak bisa menjawab.
-
Tepat pukul 6 sore, Rani tiba di rumah. Suaminya juga sudah pulang kerja. Alka bercanda dengan anak-anaknya sembari menonton televisi.
"Yah, Tante Iren tak pernah ke sini lagi, ya?" tanya Raline.
"Tante Shireen takkan pernah ke sini lagi!" sahut Rani dengan tegas.
"Kenapa, Bu?" tanya Raline lagi.
"Karena kita tidak perlu memesan makanan darinya. Ibu akan memasakkan makanan yang kalian suka."
"Tapi, aku rindu bermain dengan Tante Iren, Bu." Ucap Raline.
"Mainan kamu banyak, jadi tidak perlu bermain dengannya lagi." Rani lalu menuju kamarnya.
Alka yang berada di ruang tamu hanya diam.
Makan malam hanya terdengar suara tertawa Raline dan Varrel, kedua orang tuanya saling pandang tak berbicara sepatah katapun.
Menjelang tidur, keduanya tak bertegur sapa hingga sebuah pernyataan menyakitkan membuat Alka menoleh pada istrinya.
__ADS_1
Rani membuang wajahnya.
"Apa pria itu alasan kamu meminta cerai dariku?" menatap istrinya serius.