
Alka menggendong putrinya memasuki rumah, Shireen yang sedang memberi makan Sean terkejut karena melihat putri sambungnya digendong.
"Kenapa dengan Raline, Mas?"
Alka tak menjawab lalu membawa Raline yang masih lemas ke kamar dan merebahkannya di ranjang.
"Mas, apa yang terjadi?" wajah Shireen begitu khawatir.
Alka keluar kamar menuju dapur, ia menarik kursi lalu menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumkannya.
"Semua karena salahmu!"
"Salahku?" Shireen tampak bingung.
"Apa kamu tidak tahu jika Raline alergi selai kacang?" tanyanya kesal.
"Aku tahu, Mas."
"Tapi, kenapa memberikannya?"
"Aku tidak pernah memberikannya, Mas!"
"Jelas-jelas di dalam roti itu selai kacang!" Alka ke kamar anak-anaknya mengambil bekal Raline di dalam tas lalu membawanya ke hadapan istrinya. Membukanya, "Lihat ini!" dengan lantang.
Shireen terlihat bingung, "Sama sekali aku tidak mengoleskan selai kacang, Mas!"
"Ini buktinya!" berkata dengan emosinya.
"Mas, aku yakin!"
"Kamu pernah membuat Varrel seperti ini juga, sekarang Raline. Kamu sayang apa tidak dengan mereka?"
"Aku sayang, Mas."
"Tapi, kenapa kamu tidak pernah tahu dan paham makanan apa saja yang alergi untuk mereka?"
"Mas, aku tahu apa saja yang menjadi makanan kesukaan anak-anak dan apa yang tak bisa mereka makan."
"Tapi, kenapa kamu melakukan kesalahan lagi?"
"Mas, percaya padaku!" Shireen berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah tidak percaya lagi!"
"Mas, aku mengenal anak-anak lebih dari setahun. Tak mungkin aku membuat mereka sakit!" Shireen meneteskan air matanya.
Ditengah pertengkaran mereka, Rani datang. "Maaf, apa aku mengganggu kalian?"
Shireen menghapus air matanya.
"Masuklah!" ucap Alka dingin. Ia lalu menatap kembali istrinya, "Aku yang mengabarinya!" agar tak salah paham.
Rani kemudian masuk ke dalam rumah. "Di mana Raline?"
"Di kamarnya."
"Kenapa Raline bisa sampai salah makan? Apa yang kalian berikan?" tanya Rani.
"Jangan bertanya apapun, jika kamu ingin menjenguk Raline, silahkan!" ucap Alka tegas.
"Mas, jika kalian tak mampu merawat anak-anak biar mereka bersamaku!" ujar Rani.
Shireen menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku masih mampu merawat dan mengurus mereka, jadi kamu tak usah jadi pahlawan!" menekankan kata-katanya.
"Mas, aku ini Ibu kandungnya. Aku tahu yang terbaik buat mereka beda dengan istri kamu!" ucap Rani.
"Jika kamu ke sini mencari masalah, silahkan pergi!" ucap Alka.
Rani terdiam, menarik nafasnya sebentar lalu melangkah ke kamar putrinya dengan tersenyum puas.
"Kita belum selesai bicara!" Alka memilih ke kamarnya menenangkan diri.
-
Setengah jam kemudian, Rani pamit pulang tak lupa ia memberi uang jajan buat putrinya dan mengecup pipi Sean.
Alka mengemasi pakaian anak-anaknya ke dalam tas.
"Mas, mau ke mana?" tanya Shireen.
__ADS_1
"Aku akan menitipkan anak-anak pada Mama. Biar mereka di sana, aku mau kembali ke bengkel."
"Tidak, Mas. Biar mereka di sini," mohonnya.
Alka tidak menggubris permohonan istrinya.
Alka meraih kunci mobil, menggendong Sean dan memegang tangan Raline.
"Kita mau ke mana, Yah?" tanya gadis kecil itu.
"Kita mau ke rumah nenek, kalian di sana saja selama Ayah bekerja," ujar Alka.
"Mas, aku bisa menjaga mereka," Shireen mengiba.
"Kamu hampir mencelakakan anak-anak ku, itu tidak bisa ku maafkan!"
Jantung Shireen terasa nyeri kala mendengar suaminya mengatakan bahwa dirinya yang telah melakukan kesalahan itu.
Alka membuka pintu mobil bagian belakang penumpang meletakkan tasnya dan membuka pintu depan untuk kedua anaknya.
Mobil meninggalkan kediamannya.
Shireen menangis sesenggukan di kamar, berkali-kali ia menghapus air matanya namun tak pernah kering.
Sementara itu, Lilis yang sedang menunggui Bella bermain begitu terkejut melihat Alka membawa tas besar dan kedua anaknya.
"Alka, memangnya Shireen sudah melahirkan?"
"Belum, Ma." Alka memasuki rumah mamanya.
"Lalu kenapa membawa tas besar?" tanya Lilis lagi.
"Mereka akan tidur beberapa hari di sini."
"Kamu bertengkar dengan Shireen?"
Alka mengangguk.
"Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik sampai membawa anak-anakmu kemari?"
"Tidak, Ma. Shireen telah membuat kesalahan fatal."
"Shireen memberi selai kacang di bekal makanan Raline."
"Mungkin Shireen tidak tahu jika Raline alergi."
"Dia tinggal bersama kami hampir setahun, tidak mungkin tak tahu makanan apa saja yang membuat anak-anakku alergi dan tak disukai."
"Alka, Mama yakin Shireen tidak seperti itu," ujar Lilis lembut.
"Dia sungguh lalai, Ma. Kemarin itu ia pernah membuat nasi goreng super pedas buat Varrel, tak bisa menjaga Sean yang hampir saja ditabrak motor dan hari ini dia membuat Raline harus mendapatkan perawatan!"
Lilis menarik nafasnya, ia tampak berpikir bagaimana caranya menasehati putranya.
"Ma, aku mau balik ke bengkel. Pinjam motor Mama!"
"Alka lebih baik kamu pulang, Shireen sedang mengandung. Jangan buat dia bersedih," ujar Lilis.
"Nanti malam aku pulang, Ma."
"Ingatlah kebaikan yang pernah dilakukannya untukmu dan anak-anakmu," ucap Lilis.
"Ma, aku tidak mau membahas dia lagi," ujar Alka.
"Kamu benar-benar mencintai Shireen, kan?"
"Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
"Mama tak mau kamu menikahi Shireen hanya karena dia dekat dengan anak-anak."
Alka tak berkata-kata lagi, ia lalu pergi mengendarai motornya ke bengkel.
-
-
Shireen yang berada sendirian di rumah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Suaminya juga belum pulang.
Tiba-tiba perutnya terasa mules, Shireen mengelusnya. Ia menghubungi suaminya namun nomor tersebut tak aktif.
Shireen menarik nafas perlahan lalu ia hembuskan berusaha tenang. Rasa mulesnya pun hilang.
__ADS_1
Shireen ke kamarnya mengambil tas bayi dan ia bawa ke ruang tamu. Hal itu sengaja ia lakukan agar orang yang akan menolongnya tak kesulitan mencarinya.
Beberapa menit kemudian, perutnya kembali mules. Shireen menghubungi Alka lagi-lagi tak aktif.
Shireen memilih ke dalam kamar untuk rebahan, ia meraih remote dan menghidupkan televisi. Perutnya mules lagi namun kembali menghilang.
Shireen memejamkan matanya agar rasa sakit perutnya mereda.
Satu jam kemudian, rasa sakitnya kembali lagi. Ia melihat jam dinding sudah hampir mendekati angka 10.
Shireen meraih ponselnya menghubungi lagi suaminya, tetap sama juga. Ia lalu mencari kontak mertuanya. Panggilan tersambung namun tak ada jawaban.
Shireen meninggalkan ponselnya di ranjang, berjalan perlahan keluar kamarnya. Dengan meraba dinding, ia mencoba meminta bantuan kepada tetangganya.
"Semoga saja Bu Dewi belum tidur!" batinnya.
Walaupun air ketuban sudah merembes di pahanya, ia berusaha tetap berjalan ke rumah tetangganya.
Jalanan sangat sepi karena hujan baru selesai turun, sehingga banyak orang-orang berada di dalam rumah.
Shireen mengetuk pintu tetangga sebelah kanannya, ia berulang kali sambil memanggil namanya. "Bu Dewi!"
Wanita paruh baya itu membuka pintunya, "Astaga, Mba Shireen!" paniknya.
"Tolong saya, Bu. Sepertinya saya akan melahirkan!" ucapnya meringis.
"Iya, Mba. Sebentar, ya. Ibu akan panggil Bapak dan menantu saya!" Bu Dewi memanggil anggota keluarga yang lainnya.
Mereka juga panik.
"Di mana tasnya?" tanya Bu Dewi.
"Di ruang tamu, Bu." Shireen berusaha menjawab walau pelan.
Bu Dewi lantas menyuruh menantu laki-lakinya mengambil tas bayi di rumah Alka.
Tak lama, pria itu datang dengan terburu-buru dan memberikan kunci rumah pada mertuanya.
Suaminya Bu Dewi sudah mengeluarkan mobil dari garasi dan siap mengantar ke klinik bersalin terdekat.
Kebetulan tetangganya Bu Dewi keluar rumah karena mendengar suara sedikit berisik. "Kenapa?"
"Ayo temani saya ke klinik, Bu Intan!" ajak Bu Dewi.
"Ayo!" Bu Intan menutup pintu rumahnya lalu menyusul ke dalam mobil bersama Bu Dewi.
Mobil dikendarai menantu Bu Dewi ke klinik bersalin yang berjarak 3 kilometer.
"Mas Alka, memangnya ke mana?" tanya Bu Dewi.
"Belum pulang kerja, Bu!" jawab Shireen berbohong.
"Nanti kamu hubungi Mas Alka, ya!" perintahnya pada menantunya.
"Iya, Ma," jawab pria itu.
Begitu sampai, Bu Intan dan Bu Dewi menuntun Shireen.
Perawat mengarahkan Shireen ke ruang bersalin.
"Apa Mas suaminya?" tanya perawat pada menantu Bu Dewi yang menunggu diluar.
"Bukan, Suster!" jawab pria itu.
Perawat lalu menghampiri Shireen yang sudah berbaring dengan wajah pucat dan lemas.
"Maaf, Mba. Di mana suami anda?"
"Dia lagi bekerja, panggilkan saja dua orang wanita yang mengantarkan saya ke sini!" ucap Shireen.
"Baiklah," perawat menghampiri Bu Intan dan Bu Dewi.
Kedua wanita itu masuk ke ruangan bersalin.
"Mba, tidak menunggu Mas Alka?" tanya Bu Intan.
"Saya sudah tidak tahan lagi!" jawab Shireen kesakitan.
"Bagaimana ini?" tanya Bidan.
"Tak perlu menunggunya lagi!" ucap Shireen.
__ADS_1