
Alka yang hendak membeli makan siang buat karyawannya, tak sengaja melihat Rani memasuki mobil dengan membawa satu kantong plastik berisi makanan.
Alka lantas menghentikan motornya dan mengikuti laju kendaraan yang ditumpangi mantan istrinya.
Mobil hitam itu berbelok ke sebuah gedung yang diketahui Alka adalah tempat kerja Rani.
Alka hendak masuk ke halaman gedung namun di tahan satpam. Ia akhirnya memarkirkan motornya di pinggir jalan.
Alka berlari kecil menghampiri Rani, seluruh mata tertuju padanya karena menggunakan pakaian bengkel.
Rani dan seorang pria turun dari mobil sembari tertawa kecil.
"Rani!"
Wanita itu seketika terdiam lalu membalikkan tubuhnya. "Mas Alka!" lirihnya.
"Akhirnya aku bertemu denganmu," ucapnya mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Rani mendekati mantan suaminya, "Kenapa Mas ke sini?"
"Aku mencari-cari kamu, ternyata masih bekerja di sini," jawab Alka.
"Ada apa Mas mencariku?"
"Anak-anak merindukanmu."
Rani terdiam ketika mendengar kata anak-anak.
"Rani, aku mohon berikan waktumu sebentar untuk bertemu dengan mereka," pintanya.
"Aku tidak bisa. Mas, lebih baik pulang saja," ujar Rani.
"Tidak, Rani. Sebelum kamu berjanji padaku, aku takkan pulang!"
"Rani, ayo masuk!" ajak Andri.
Rani melangkah ke dalam gedung.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu berjanji menemui anak-anak, Rani!" teriak Alka.
Hal itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.
"Dia, ibu yang jahat!"
"Tega banget dia!"
"Aku tidak menyangka dia sejahat itu!"
"Mantan suaminya sebenarnya tampan cuma karena pakaian begitu, dasar wanita matre!"
Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinga Rani, ia ingin menghampiri Alka namun dilarang Andri.
"Rani!" Alka terus memanggil nama mantan istrinya itu.
Dua orang satpam mendekati Alka dan menarik tubuhnya.
"Pak, aku ingin berbicara padanya!" pintanya.
"Pak, ini kantor. Tolong, jangan buat keributan!" hardik salah satu satpam.
Alka mengerti dan paham, akhirnya ia pergi dari gedung tersebut.
Sesampainya di bengkel, Alka berjalan ke ruangan istirahatnya dan meminta maaf pada karyawannya tak jadi membelikan makan siang. Ia menyerahkan uang kepada Derry untuk membelinya.
-
Derry mengetuk pintu ruang istirahat bosnya. "Mas Alka, ini makanannya!"
Alka membuka pintu tampak matanya sembab.
"Ini sudah jam dua siang, Mas Alka belum makan siang," ucap Derry.
"Aku lagi tidak selera makan," ujar Alka.
"Apa Mas ingin makan bubur, biar perutnya terisi?"
"Tidak, Derry. Makan saja milikku," jawab Alka.
"Baiklah, Mas." Derry pun pergi.
-
Jam 3 sore, Alka tiba di rumah. Wajahnya tampak suram dan sendu.
"Kenapa cepat sekali kamu pulang?"
"Iya, Ma. Aku rindu anak-anak," jawabnya berbohong.
Lilis tampak heran.
"Ma, di mana mereka?"
__ADS_1
"Sedang tidur, Shireen baru saja pulang dari sini. Karena Raline tak mau ditinggal," jelas Lilis.
"Biarkan saja mereka tidur, nanti malam aku mau mengajak mereka ke pasar malam," ujar Alka. "Mama ikut, ya?" pintanya.
"Mama tak bisa, Alka. Badan Mama kurang sehat," jawab Lilis.
"Mama sakit? Ayo kita ke dokter!"
"Tidak, Alka. Mama hanya butuh istirahat saja," ujarnya.
"Ma, maafkan aku sudah membuat Mama repot mengurus anak-anak," ucapnya.
"Jangan berbicara begitu, mereka juga cucu-cucu Mama." Lilis tersenyum.
"Besok Mama tak perlu ke sini, istirahat saja. Aku juga mau libur, sebulan belakangan ini ku terlalu sibuk," ujarnya.
"Kamu yakin?"
"Ya, Ma. Kesehatan Mama juga nomor satu, kalau kebutuhan anak-anak telah tercukupi. Aku akan mencari pengasuh untuk mereka," jelas Alka.
-
Dengan berboncengan, Alka membawa ketiga buah hatinya jalan-jalan ke pasar malam. Mereka sangat begitu senang dan gembira.
Alka menggendong Sean di depan, tangan kanan dan kirinya menggandeng Raline dan Varrel. Mereka menjelajahi pasar malam.
Raline dan Varrel menaiki wahana permainan komedi putar. Keduanya tertawa sembari melambaikan tangannya ke arah Alka dan Sean.
Pukul 9 malam, mereka kembali tak lupa membeli makanan untuk di santap ketika sampai di rumah.
"Ayah, hari ini aku sangat senang sekali," Raline berceloteh sembari memakan kentang goreng.
Alka hanya tersenyum.
"Kita bisa jalan-jalan lagi, lebih seru jika ada ibu," ungkapnya.
"Raline, selesai makan. Cuci kaki, ganti pakaian lalu tidur," perintah Alka. Ia tak mau putrinya selalu membicarakan mantan istrinya.
"Baik, Ayah," Raline menunjukkan wajah imutnya.
...----------------...
Alka mengantarkan Varrel ke sekolah, Raline dan Sean ia titipkan sebentar dengan Bu Dewi.
Selesai dari sekolah, Alka mengirimkan pesan menu lauk pauk kepada Shireen. Setelah itu, ia memilih duduk di ruang tamu sembari memperhatikan Sean dan Raline.
Alka mengambil selimut, karena tubuhnya merasa meriang.
"Ayah lagi tidak enak badan, Nak."
"Mau aku buatkan makanan?"
"Memangnya kamu bisa?"
"Bisa, kata Tante Iren masakan aku sangat enak," jawab Raline.
"Buatlah untuk Ayah."
"Baik, Yah." Raline dengan semangat, mengambil piring mainan masak-masakan lalu diberikannya pada Alka.
Pria itu tertawa kecil melihat tingkah putrinya.
"Ayo dimakan, Yah!"
"Baiklah," Alka berpura-pura memakannya.
"Bagaimana?"
"Sungguh enak."
"Sudah ku bilang, kalau masakan aku sangat enak," ucapnya.
-
Jam 10, Alka memaksakan diri menjemput Varrel. Dia harus kuat demi anak-anaknya yang masih kecil.
Varrel duduk di belakang, sembari memeluk tubuh ayahnya.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam biasanya saling bercerita.
"Ayah!" panggil Varrel.
"Ya," dengan suara pelan.
"Besok aku bagi rapot, Ayah akan datang, kan?"
"Ayah tidak bisa janji, Nak."
"Kenapa?"
"Baiklah, Ayah akan usahakan datang," jawab Alka, ia tak ingin putranya tahu kalau dirinya sedang sakit.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Alka menjemput anaknya di rumah tetangga sebelah dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Alka memilih masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang.
Sean menangis karena lapar.
Mendengar suara tangisan putranya, Alka bangkit dari tidurnya. Berjalan pelan-pelan ke dapur, walau terasa berat tubuhnya tetap ia paksakan.
Alka mengambil bubur yang sudah ia masak tadi pagi, duduk di hadapan putra ketiganya menyuapinya.
Alka sesekali terdengar suara batuk dan bersin.
Varrel lantas mendekat, "Ayah, mau aku ambilkan obat?"
"Boleh, Nak."
"Obat apa yang ingin Ayah minum?"
"Obat batuk dan flu."
Varrel berjalan mengambil kotak obat. Ia mencoba mengeja perlahan kata-kata di setiap kemasan. Akhirnya ia menemukan yang dicarinya, bergegas diberikannya kepada sang ayah.
Alka meminum obat yang diberikan putranya.
Selesai menyuap Sean, ia memilih merebahkan tubuhnya di kursi tamu panjang dengan menggunakan selimut.
Jam 11.30, Shireen datang membawa pesanan Alka. Ia mengetuk pintu dan memperhatikan motor yang terparkir di teras rumah. "Apa Mas Alka tidak bekerja?"
Alka mendengar suara orang memanggil lantas menyuruh Varrel untuk melihatnya.
Dan bocah itu melaksanakan perintah ayahnya. Membuka sedikit gorden jendela kemudian mengintipnya.
"Siapa, Varrel?"
"Tante Shireen, Yah."
"Suruh masuk saja."
"Oke, Yah." Varrel membuka pintu lalu menyuruh Tante Shireen masuk.
Alka duduk, ketika Shireen masuk ke rumahnya.
"Letakkan saja makanannya di atas meja makan," perintahnya.
Shireen melaksanakannya.
"Varrel, ambilkan dompet Ayah di meja kamar," titahnya pada putra pertamanya.
Bocah itu pun ke kamar dan membawa dompet.
"Mas Alka, sudah ke dokter?"
"Aku sudah minum obat jadi tidak perlu ke dokter," jawabnya.
"Mas, jika ingin ke dokter biar aku temani," tawar Shireen.
"Tidak, Shireen. Terima kasih," ucapnya. "Ini uang lauknya!" menyerahkan selembar uang berwarna biru.
Shireen menerimanya, ia lalu meminta izin pamit pulang.
Saat hendak melangkah, Sean tiba-tiba menangis.
Alka tampak kesulitan berdiri.
Dengan cepat, Shireen menggendong Sean dan mendiamkannya. Benar saja, balita itu berhenti menangis dan tertawa menatapnya.
"Kamu mau apa?"
Sean mengucek matanya.
"Mau tidur, ya?"
Sean hanya memandanginya.
"Tante, akan menidurkan kamu," Shireen menggendong Sean mencontohkan cara Lilis.
Alka memperhatikan cara Shireen mengurus anak-anaknya walaupun terlihat belum mahir tapi cukup membantunya hari ini.
Sean akhirnya tertidur di gendongan.
Shireen lalu membawa dan merebahkannya di ranjang kamar.
Setelah itu Shireen keluar kamar.
"Terima kasih sudah membantuku," ucap Alka.
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya pamit."
"Shireen, tunggu!" Alka mencoba berdiri memegang kursi sebagai penyanggah tubuhnya.
"Ada apa, Mas?"
__ADS_1
"Apa kamu besok bisa menemani Varrel ke sekolah mengambil rapot?"