Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 62 - Alergi


__ADS_3

Walaupun Rani belum menerima hasil keputusan dari pengadilan namun dirinya sudah tidak berkomunikasi lagi dengan mantan suaminya, Andri.


Berhubung kekasih gelapnya tidak berada di kota ini, Rani menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dari suami pertamanya.


Hampir sebulan, ia tidak pernah datang berkunjung namun kali ini Rani menyempatkan waktunya untuk mengantar jemput putrinya, Raline.


Pagi ini dengan wajah sumringah, Rani mengetuk pintu rumah mantan suaminya. Ia tersenyum kepada semua orang yang ada di dalamnya.


"Pagi ini kamu diantar ibu, ya!" ujar Shireen.


"Ya, Ma. Tapi, nanti jemput aku, ya!" pintanya.


"Ibu yang akan menjemputmu," sahut Rani.


"Benar, Nak. Ibu kamu juga sangat jarang sekali direpotkan seperti ini, tidak masalah 'kan kalau dia yang mengantarkan jemput kamu," Shireen berkata sembari melirik wanita itu.


"Andai dahulu Ibu tak egois, mungkin sekarang kita akan menjadi keluarga bahagia," Rani juga tak mau kalah.


Wajah Shireen berubah menjadi kesal.


"Raline, sekarang kamu boleh pergi sekolah!" Alka mencoba mengalihkan percakapan kedua wanita itu.


"Ya, Yah!" Raline mencium punggung tangan ayah dan mamanya.


Rani mengenggam tangan putrinya berjalan ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Shireen lantas ke kamarnya setelah mobil Rani menghilang dari pandangannya.


Di perjalanan menuju sekolah, Rani bertanya, "Apa bekal kamu hari ini?"


"Nasi goreng, Bu."


"Selain nasi goreng, apa lagi?"


"Kadang roti isi srikaya."


Rani tersenyum menyeringai.


"Kadang juga mie goreng."


"Begitu, ya."


"Ya, Bu."


Rani memarkirkan mobilnya, lalu turun berjalan memasuki kelas putrinya.


Begitu bel berbunyi, Rani pun kembali ke kantor.


-


Sepulang sekolah, Rani menjemput putrinya. Sesampainya di rumah mantan suaminya, ia lantas menurunkan Raline tanpa singgah bersapa dengan Lilis. Setelah itu, ia melesatkan mobilnya ke kantor.


Sementara itu, Shireen sebelum melahirkan masih disibukkan dengan kegiatannya mengurus katering dan laundry.


Sambil menahan perutnya yang membesar, Shireen berjalan menemui seorang pria mereka saling berjabat tangan.


"Silahkan duduk, Pak."


"Terima kasih," pria itu tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu," ucap Shireen.


"Dua bulan lagi saya akan menikah, saya ingin masakan dari katering ini," ujar pria itu.


"Oh, boleh saja. Bapak ingin berapa menu dan porsi?"


"Calon istri saya hanya meminta enam masakan di prasmanan dan menu tambahan seperti somay, sate Padang dan cendol dawet. Kami minta untuk seribu porsi saja."


"Baiklah, Pak. Ngomong-ngomong, calon istrinya kenapa tidak ikut?"


"Dia lagi di luar kota, jadi dia meminta saya yang mengurus masalah katering," jelasnya.

__ADS_1


"Oh, begitu. Memang sih' biasanya para wanita yang mengurus hal begini," ujar Shireen.


"Kira-kira berapa semua total pesanan saya?"


"Sebentar saya akan hitung," jawab Shireen. Ia mulai berhitung lalu kemudian menyebutkan total harga. "Bapak boleh membayar separuhnya dulu , sisanya untuk pelunasan boleh sehari sebelum acara atau setelahnya," ujarnya.


"Saya akan lunasin saja," ucap pria itu.


"Baiklah, Pak." Shireen menulis bukti pembayaran dan pelunasan. "Ini, Pak. Buktinya!" menyerahkan kertas berisi tulisan.


"Terima kasih," pria itu membacanya. "Sepertinya anda sebentar lagi akan melahirkan," lanjutnya.


"Iya, Pak. Tinggal menunggu hari saja. Nanti acara Bapak, ada karyawan yang menanganinya," ujar Shireen.


"Semoga dilancarkan persalinannya!"


"Terima kasih, begitu juga dengan rencana pernikahan Bapak semoga dilancarkan," ucap Shireen.


Pria itu tersenyum. "Kalau begitu, saya pamit."


"Iya, Pak. Terima kasih," ucap Shireen lagi.


Pria itu pun berlalu.


-


-


Shireen pulang ke rumah diantar karyawannya menggunakan mobil. Karena Alka sudah melarangnya mengendarai motor atau pun mobil.


Urusan menjemput anak-anaknya, ia serahkan kepada Beno dan Rani. Namun, lebih sering dirinya yang menjemputnya.


Lilis berpamitan pulang karena menantunya sudah tiba di rumah.


Shireen yang sibuk menyusun pakaian bayi ke dalam tas terkejut kala mendengar suara suaminya yang tampak kesal.


"Shireen!" teriaknya memanggil.


"Apa kamu tidak tahu kalau Raline dan Sean keluar pagar?"


"Astaga, maaf Mas. Aku tidak tahu."


"Kamu memang lagi apa?"


"Aku di kamar menyusun pakaian bayi."


"Shireen, itu bisa nanti. Kenapa kamu tidak mengawasi mereka main?" omelnya.


"Ayah, jangan marahi Mama. Aku sudah besar dan bisa menjaga adik, Ayah jangan khawatir!" ucap Raline.


"Kamu masih TK, apa kamu tidak tahu bahaya menyeberang jalan tanpa diawasi orang dewasa?" tanya Alka.


"Tadi kami diseberangi sama Bibi itu!" jawab Raline.


"Iya, Ayah tahu dan melihatnya. Tapi, Ayah tetap tidak suka kamu keluar rumah tanpa izin kami!" nasehat Alka lembut.


"Iya, Yah." Raline menundukkan kepalanya.


"Kita bicara di kamar!" Alka mengajak istrinya dengan wajah amarah.


Shireen duduk di pinggir ranjang.


"Bukan kali pertama saja kamu membiarkan mereka pergi keluar pagar seperti tadi!" berkata dengan nada tinggi.


"Aku tadi sudah mengunci pagarnya, Mas. Memang aku tak mendengar pagar terbuka," ujar Shireen pelan.


"Makanya, kamu awasi mereka main!" menegaskan kata-katanya.


"Sekali lagi, maaf!"


"Jika kamu tidak bisa menjaga dan merawat mereka, aku akan mengirimkan mereka pada ibunya."

__ADS_1


"Jangan, Mas. Aku sangat menyayangi mereka!"


"Jika kamu menyayangi mereka tidak seperti ini."


"Ya, Mas. Maaf!"


"Jika ini terulang lagi, aku tidak akan....." Alka menghentikan ucapannya dan menghela nafasnya.


"Tidak akan apa, Mas?"


"Sudahlah, lupakan saja!" Alka keluar kamar.


...----------------...


Dua hari kemudian...


Rani datang menyempatkan waktunya mengantar Raline, ia lalu bertanya pada putrinya itu, "Kamu bawa bekal apa?"


"Aku bawa roti isi selai, Bu."


"Oh."


Mobil melaju ke sekolah, begitu sampai Rani menurunkan Raline dan menyuruh putrinya lebih dahulu ke kelas. "Nanti Ibu yang akan mengantar tasmu!"


"Ya, Bu." Raline berlari menghampiri teman-temannya yang lain.


Tak lama kemudian Rani membawa tas putrinya ke dalam kelas setelah bel berbunyi ia kembali ke kantornya.


-


Pukul 9 lewat 30 menit, Alka yang sedang berada dibengkel mendapatkan telepon dari pihak sekolah jika Raline dibawa ke klinik.


Alka pun panik, ia mengganti pakaiannya dan bergegas menuju klinik terdekat dari sekolah Raline.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Raline sepertinya alergi dengan makanan yang dikonsumsinya, Pak." Jelas Bu Guru yang mengantarkan putrinya ke klinik.


"Alergi? Mamanya selalu membawa bekal untuknya, tak pernah beli diluar."


"Iya, Pak. Raline memang memakan roti yang ia bawa dari rumah," jelas Bu Guru.


"Dia sering makan roti yang dibuat istri saya!"


"Bapak bisa cek nanti roti yang dimakan Raline di sekolah," ujar Dokter yang mengobati.


Alka mengiyakan perkataan dokter lalu ia menghubungi istrinya namun ponselnya tak aktif.


"Saya akan bawa Raline pulang, Bu."


"Iya, Pak."


Alka dan Raline kembali ke sekolah mengambil tas.


Begitu sampai, ibu guru menunjukkan bekal makanan yang dibawa anak didiknya.


"Sepertinya dia alergi selai kacang, Pak."


"Selai kacang?"


"Kemungkinan, Pak. Apa memang sebelumnya dia punya riwayat alergi?"


"Iya, Bu. Raline memang alergi selai kacang."


"Lain kali hati-hati dalam memberikan makanan pada anak. Terkadang kita lupa jika anak kita memiliki riwayat alergi," ujar Bu Guru.


"Ya, Bu. Kalau begitu kami pamit pulang!"


"Ya, Pak. Semoga Raline cepat sehat dan kembali bersekolah!"


"Ya, Bu. Terima kasih!"

__ADS_1


__ADS_2