
Menenteng 2 kantong plastik besar berisi oleh-oleh dari Kota Jogja, Shireen melenggang masuk ke rumah kecil milik Alka. "Siang, semua!" sapanya dari pintu.
Anak-anak yang sedang bermain di ruang tamu sekaligus tempat santai, menoleh ke asal suara termasuk Lilis juga.
"Tante Iren!" teriak Raline melompat kegirangan, ia berlari dan memeluk Shireen begitu erat hal sama juga dilakukan Varrel.
"Kalian apa kabar?" tanya Shireen.
"Kami begitu merindukan, Tante!" jawab Varrel.
"Benarkah?"
Raline mengangguk.
"Tante ke mana saja?" tanya Varrel.
"Tante ada urusan, maaf tak mengabari kalian," Shireen tersenyum.
Sean merangkak mendekati Shireen, ingin meminta gendong.
Shireen meraih tubuh bayi itu dan menggendongnya. "Tante bawa oleh-oleh kalian, ada juga buat Nenek, Ayah Alka, Bibi Lisa, Paman Aldi dan Bella," ujarnya.
"Wah, makasih!" Raline tertawa bahagia membongkar isi plastik.
"Alka tahu kamu telah pulang?" tanya Lilis.
"Tidak, Bi."
"Kenapa?"
"Mau memberinya kejutan," jawab Shireen senyum.
Lilis mengikuti saja apa yang dilakukan wanita yang ada dihadapannya itu.
-
-
Menjelang pukul 5 sore, Alka kembali rumah. Raline berlari menghampiri dan memeluknya dengan wajah ceria.
"Anak gadis Ayah sudah bisa tersenyum," puji Alka.
"Ayah, hari ini aku senang sekali. Tante Iren sudah datang," ucap Raline.
"Apa benar, Ma?"
__ADS_1
"Ya, tadi pagi dia kemari," jawab Lilis.
"Kenapa dia tak memberi tahu aku?"
"Alka, ada oleh-oleh dari Shireen untukmu!" ujar Lilis.
"Iya, Yah. Tante Iren bawa oleh-oleh banyak untuk kita," Raline berceloteh.
"Baguslah, kalau membuatmu senang." Alka menoel hidung putrinya. "Ayah mau mandi dulu, ya!" lanjutnya berjalan ke kamar.
Membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali. Ia lantas menghubungi Shireen, tak lama kemudian wanita itu menjawab panggilannya. "Halo, Mas!"
"Kenapa tidak mengabari saya jika kamu sudah pulang?"
"Mas Alka, ingin kita ketemu sampai harus mengabari?" bukan menjawab malah balik bertanya.
Alka terdiam, entah kenapa sikapnya semakin aneh saja. Padahal, Shireen bukan siapa-siapa tetapi mampu membuat hatinya sulit dimengerti.
"Mas Alka!" panggil Shireen.
"Ya, tidak juga. Hanya saja...."
"Hanya apa, Mas?"
"Mas, saya sedang menyetir. Jika ingin mengobrol bagaimana besok saja kita bertemu?"
"Lupakan saja, Shireen. Fokuslah menyetir, hati-hati di jalan!" Alka menutup teleponnya. Ia menepuk pelan keningnya, hampir saja ia salah bicara dan membuat wanita itu salah paham.
Shireen tertawa kecil selepas menerima telepon dari Alka. "Katakan saja, kalau kamu menyukai aku!" percaya diri.
...----------------...
Hari ini Varrel sudah kembali masuk ke sekolah, Alka mengantarkan putranya seperti biasanya. Setelah itu, ia pergi tempat laundry dan katering.
"Pagi, Mas Alka!" sapa Shireen begitu hangat.
"Pagi juga!" Alka memasang wajah dingin.
"Mau pesan apa?" tanya Shireen dengan wajah begitu menggemaskan.
"Kenapa dia begitu menarik, sih?"
"Mas Alka, kenapa diam?"
Alka tampak salah tingkah.
__ADS_1
"Mas, mau pesan lauk apa? Atau kalau perlu saya yang masakan di rumah Mas Alka?"
"Ya, boleh saja!" jawab Alka tanpa sadar.
Shireen mengulum senyumnya.
"Maaf!" Alka tak menatap mata Shireen.
"Ya, tidak apa-apa."
"Pesan ikan pepes, tumis kangkung dan semur tempe."
"Baiklah, ditunggu!" Shireen menampilkan senyum terbaiknya.
Alka menyodorkan uangnya, lalu buru-buru pergi.
Shireen melihatnya menahan senyum.
"Shireen!"
Wanita itu menoleh.
"Mama!"
"Siapa pria tadi?"
"Hanya pelanggan katering, Ma."
"Kamu kelihatan sangat akrab dengannya."
"Ya, karena mungkin kami setiap hari bertemu," ujar Shireen memberikan alasan.
"Kamu yakin, dia hanya sekedar pelanggan biasa?"
"Iya, Ma."
"Ingat Shireen, calon suamimu akan pulang ke negara ini dalam waktu dekat. Jangan macam-macam!" Mama Ratih mengingatkan.
"Iya, Ma." Wajah Shireen berubah jadi murung.
...*****...
Jangan lupa tinggalkan like dan komen setiap bab...
Terima Kasih 🌹
__ADS_1