
Pukul 7 pagi, Alka telah bersiap-siap menuju kediaman calon istrinya. Hari ini ia akan mengucapkan janji pernikahan. Jantungnya terus berdetak tak beraturan, gugup dan grogi menjadi satu.
Sean duduk dipangkuan Alka dan terus memandangi wajah Alka.
"Kenapa melihat Ayah seperti itu?" tanyanya lembut.
Sean menggelengkan kepalanya.
"Ayah tidak akan ke mana-mana," ujar Alka mengecup pipi putranya.
Jam 7 lewat 30 menit, Alka dan rombongan pergi menuju kediaman calon mempelai pengantin wanita.
Sesampainya di sana, rombongan disambut keluarga besar Shireen.
Sudiro hadir namun harus memakai kursi roda, ia datang bersama putrinya, sopir dan satu asisten rumah tangga.
Alka kini duduk di hadapan penghulu dan calon papa mertuanya. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan calon istrinya.
Alka yang gugup terus mengelap dahinya.
"Apa pendingin ruangannya mati?" tanya penghulu melalui mikropon.
"Tidak, Pak!" jawab serentak beberapa tamu.
"Lalu kenapa Mas Alka kepanasan?" tanyanya lagi.
Para tamu yang hadir serentak tertawa, termasuk Alka yang tersenyum nyengir.
"Mas Alka, gugup 'ya?" tanya penghulu lagi.
__ADS_1
Alka mengangguk pelan.
"Jangan gugup, Mas. Sebentar lagi sah," ucap penghulu tersenyum.
Shireen yang berada dikamarnya dan mendengarnya mengulum senyum.
Kini tibanya pengucapan janji, Alka berjabatan tangan dengan Arman.
Dengan secara lantang Alka mengucapkannya, ia berusaha melawan rasa groginya padahal ini bukan yang pertama kalinya untuknya.
Janji pernikahan telah terucapkan dan Shireen resmi menjadi istri sah dari Alka Adhitya Sudiro.
Kini tiba mempertemukan keduanya, Alka berdiri tak jauh dari meja tempat dirinya mengucapkan janji pernikahan. Di kanan kirinya ada Varrel dan Raline yang memegang kedua tangannya.
Tak menunggu lama, pengantin wanita muncul diapit oleh Rita dan Arman.
"Ayah, Tante Iren sangat cantik sekali!" Raline mendongakkan kepalanya menatap Alka.
"Ya, Nak!"
Keduanya berjalan dan saling menghampiri, Alka melepaskan genggaman Varrel dan mengulurkan tangannya kepada Shireen.
Dan wanita itu meraihnya, dengan lembut Alka mengenggam tangan istrinya lalu membawanya ke meja penghulu.
Varrel dan Raline kembali duduk bersama Nenek Lilis dan Bibi Lisa.
Di depan penghulu keduanya duduk.
"Apa benar ini wanitanya?" tanya penghulunya.
__ADS_1
"Benar, Pak!" jawab Alka.
"Saya pikir salah," celetuknya.
Alka dan Shireen mengulum senyum.
Penghulu memberikan nasihat kepada kedua pengantin setelah itu menandatangani buku nikah.
Selesai dengan urusan bukti-bukti pernikahan, Alka dan Shireen berfoto memamerkan mahar yang diberikan.
Keduanya menunjukkan wajah senyum merekah.
Alka juga berfoto bersama anak-anaknya.
Raline terus memeluk Shireen dan memuji kecantikan ibu barunya. Hal itu membuat wanita itu terus tersenyum.
Para tamu undangan mulai berdatangan, sebagian keluarga dan saudara yang datang ketika akad nikah sudah membubarkan diri.
Andi beserta keluarga besarnya juga turut hadir kecuali Rina dan suaminya. Mereka memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Raline dan Varrel melihat kehadiran Opa dan Omanya datang memeluknya dan mengajak berbicara.
Siska yang turut diundang datang juga bersama kekasihnya. Ia sangat terkejut ketika Varrel memberikan undangan, harapannya bersanding dengan Alka gagal.
Sementara itu, Rani yang datang bersama suaminya duduk bersama tamu yang lainnya matanya tertuju kepada kedua pengantin yang duduk kursi pelaminan.
Kedua pengantin saling melemparkan senyuman membuat Rani terbakar cemburu dan iri. Delapan tahun lalu ia pernah merasakan duduk bersama dengan Alka.
"Harusnya aku mempertahankan pernikahan bukan pergi darimu, Mas. Aku sangat menyesal, pria yang ku nikahi saat ini tidak lebih baik darimu!"
__ADS_1