Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 42 - Andri Bimbang


__ADS_3

Ratih mondar-mandir di teras rumah menunggu putrinya yang belum pulang juga padahal sudah jam 11 malam.


Suara deru motor Alka membuat Ratih mengarahkan pandangannya.


Alka tersenyum ramah kepada calon ibu mertuanya.


"Shireen, ini sudah jam berapa?" Ratih mengomel.


"Mas Alka tidak bawa kabur aku, Ma."


"Iya, Mama tahu. Tapi ini sudah jam sebelas, Shireen," omelnya.


"Maafkan saya, Tante!" Alka menyodorkan kantong plastik berisi kerak telur.


"Ya, lain kali jangan diulangi," ucap Ratih, ia masuk ke dalam rumah.


"Aku pamit, ya!"


"Ya, Mas. Hati-hati, sampai jumpa!" Shireen melambaikan tangannya sambil tersenyum.


Alka pun berlalu.


Sementara itu, Rani yang baru saja tiba terkejut karena suaminya berada di rumah.


"Dari mana saja kamu?" Andri bertanya dengan nada dingin.


"Kenapa kamu di rumah?" Rani balik bertanya.


"Aku butuh jawabanmu bukan pertanyaan!" berkata lantang.


"Aku baru ketemu dengan anak-anakku."


"Kenapa kamu tidak memberitahu aku?"


"Ya, aku pikir kamu di rumah Laras."


"Rani, harusnya kamu minta izin padaku!"


"Aku bertemu dengan anak-anakku bukan kekasih, kenapa harus minta izin? Jika aku memberitahu, apa kamu akan mengizinkan?"


"Jika bersamaku, aku izinkan."


"Mereka mungkin tidak mau denganmu!" Rani berkata ketus lalu memasuki kamar.


Andri menyusul istrinya, "Apa mantan suamimu itu yang jadi alasanmu tidak mengajakku?"


Rani terdiam.


"Rani, kamu itu istriku. Kamu harus tunduk dan patuh pada peraturan ku!"


"Istrimu bukan hanya satu, Laras apakah sudah tunduk dan patuh padamu?"


Andri sejenak berpikir, sebelum ia memutuskan menikah dengan Rani. Istri pertamanya itu wanita penyabar dan penurut tapi sekarang berbeda Laras menjadi wanita yang hobi berbelanja, traveling bahkan senang ke salon.


"Laras sedang mencoba mendekati Mas Alka, apa kamu tahu itu?"


"Tidak mungkin Laras menduakan aku!"


"Ya sudah kalau tidak percaya," Rani berlalu ke kamar mandi.


...----------------...


Selesai sarapan, Andri mendatangi rumah istri pertamanya untuk menanyakan kebenaran yang dikatakan Rani kepadanya beberapa hari lalu.


Laras baru saja mengantarkan putrinya ke sekolah PAUD tampak terkejut dengan kehadiran suaminya sepagi ini.


"Mas Andri!" sapanya.


"Apa benar kamu mendekati mantan suaminya Rani?"


Laras tertawa kecil dan memilih tak menjawabnya.


"Aku sedang bertanya padamu!"


"Mas Andri, apa salahnya aku mendekatinya? Dia seorang duda tak terikat dengan siapapun, aku tidak salah, kan?"


"Kamu salah, Laras!"


"Apa salahku kira-kira, Mas?"


"Kamu menolak aku lepas tetapi mengkhianatiku!"


"Ya, aku memang menolaknya tapi aku ingin kamu merasakan bagaimana dikhianati!"


"Laras, mau kamu apa sebenarnya?"


"Tinggalkan Rani, Mas!" menjawab dengan tegas.


"Aku tidak akan meninggalkannya!"


"Kalau begitu biarkan aku bebas dengan siapa saja," ujar Laras santai.


Andri mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.

__ADS_1


-


Di kantor Andri duduk sembari memijit pelipisnya, ia jadi serba salah. Kedua istrinya menjadi wanita pembangkang.


"Ada masalah dengan istri-istrimu lagi?" tanya Teddy, teman sekantor Andri.


"Ya."


"Itulah resiko memiliki istri dua," ujar Teddy.


"Aku benar-benar pusing dibuat mereka, Rani diam-diam menemui mantan suaminya dan Laras malah mencoba mendekati mantan suami Rani."


"Sungguh ribet, tapi itu pria cukup menarik juga dimata kedua istrimu," Teddy tersenyum menyindir.


"Padahal aku jauh lebih kaya darinya, walaupun dia sebenarnya sih' sangat tampan," ungkap Andri.


"Mungkin dia lebih mempesona dari kamu dan lebih ganas," celetuk Teddy.


Andri menyipitkan matanya menatap temannya.


"Aku hanya bercanda," Teddy tergelak.


-


Karena penasaran siang ini, Andri mendatangi bengkel motor milik Alka. Sesampainya di sana, ia berpapasan dengan seorang wanita muda yang sedang membawa makanan.


Andri lantas bertanya kepada salah satu karyawan Alka jika dirinya ingin bertemu.


"Tunggulah, saya akan panggilkan!" karyawan yang bernama Tommy itu pun pergi memanggil bosnya.


"Mas Alka!"


Alka dan Shireen yang hendak makan menoleh ke arah karyawannya.


"Mas, ada yang ingin bertemu," ucapnya.


"Siapa?"


"Katanya namanya Andri."


"Aku akan menemuinya," ucap Alka.


Tommy pun berlalu.


"Aku mau menemuinya, kamu di sini saja!" ujar Alka.


"Aku mau ikut, Mas!"


"Ya sudah, ayo!" ajaknya.


"Aku ingin berbicara denganmu!"


"Silahkan!" ucap Alka.


"Tapi, tidak di sini!" ujar Andri.


"Baiklah, kita mengobrol di sana!" Alka menunjuk kafe seberang bengkel.


"Aku perlu berbicara empat mata saja," ucap Andri melirik Shireen.


"Saya tidak bisa, jika kamu mau dia harus ikut!"


"Baiklah," Andri menyetujuinya.


Ketiganya menuju ke kafe, Alka memegang erat jemari kekasihnya.


Shireen duduk bersebelahan dengan calon suaminya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Alka bertanya tanpa basa-basi.


"Apa benar Rani kemarin bertemu kamu?"


"Ya, kami bertemu dan dia mengajak anak-anak," jawab Alka jujur.


"Apa kamu tahu kalau Rani sekarang istriku?"


"Ya, aku tahu makanya aku turut membawa kekasihku bersama," Alka menoleh ke arah Shireen lalu kembali mengarahkan pandangannya kepada Andri.


"Baguslah, jika memang kamu sudah memiliki kekasih," ujarnya lega.


"Anda kemari hanya ingin bertanya itu saja?" tanya Alka.


"Ada satu lagi, apa Laras mendekatimu?"


Alka tersenyum, "Dia sempat menemui aku tapi setelah itu kami tak pernah bertemu bahkan berkomunikasi."


"Untuk dia menemuimu?"


"Dia ingin aku mengejar Rani lagi tapi ku menolaknya," jelas Alka.


Andri menghela nafasnya.


"Tidak ada lagi yang ingin dibicarakan kalau begitu kami pamit," Alka dan Shireen berdiri.

__ADS_1


"Tidak ada, maaf mengganggu waktu kalian!" ucap Andri.


Alka tak tersenyum kemudian berlalu bersama dengan Shireen.


Tiba di bengkel, Alka dan Shireen melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Mas, bukankah Laras yang pernah mengajak kamu minum kopi?"


"Ya."


"Oh, jadi suaminya tadi mengira kamu selingkuhan istrinya," ujar Shireen.


"Ya."


"Kenapa banyak sekali wanita tertarik padamu 'ya, Mas?"


"Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu tertarik padaku?"


"Karena Mas Alka tampan dan sangat mempesona."


"Mungkin pikiranmu sama dengan para wanita itu."


"Mas Alka percaya diri sekali!" Shireen mencubit pipi kekasihnya.


"Itu kamu yang ngomong bukan aku, kenapa jadi menyalahkan aku?"


"Benar juga, sih."


"Jangan mengobrol saja, ayo makan. Aku sangat lapar!"


Shireen mengambil lauk dan mulai makan.


-


-


Andri akhirnya bisa bernafas lega, perkataan Rani tentang Laras berselingkuh tidak benar.


Malam ini, dirinya menginap di rumah Laras. Putrinya begitu senang Andri bersama mereka.


"Papa, kapan kita jalan-jalan bersama?"


"Kamu jalan-jalan dengan mama saja."


"Kita sudah lama tak jalan-jalan bersama, Mas!" sahut Laras.


"Maafin aku, Laras!"


"Papa, sekarang tak pernah bawa Tasya. Selalu sibuk, aku benci!" gadis kecil itu berlari ke kamarnya.


"Lihatlah, Mas. Tasya sangat merindukan waktumu. Sebelum kamu menikah dengan wanita itu, rumah tangga kita sangat sempurna. Putri kita begitu bahagia, semua hancur karena dia!"


Andri meraih tangan Laras dan meletakkannya di dahinya. "Maafkan aku!" ucapnya terbata dengan mata berkaca-kaca.


"Mas!" lirihnya.


"Aku telah melakukan kesalahan besar, Laras. Aku mohon maafkan aku!"


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas!"


"Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua, aku sudah terlanjur merebut Rani dari suaminya. Dan pria itu telah memiliki kekasih."


Laras tak bisa menahan air matanya juga. "Aku ikhlas menerima Rani menjadi maduku, asal kamu berlaku adil kepada kami!"


"Aku janji akan berlaku adil kepada kalian," Andri mencium punggung tangan istrinya. "Terima kasih," memeluk tubuh Laras.


...----------------...


Keesokan harinya di kantor Andri bertemu dengan istrinya itu keduanya menikmati makan siang bersama di restoran terdekat berdua.


"Aku, Laras dan Tasya ingin berlibur ke Surabaya. Apa kamu mau ikut?"


"Sekarang kamu sudah berdamai dengan istrimu itu," celetuknya.


"Aku salah paham dengannya, Laras tidak sedang mendekati pria itu."


"Oh, berarti waktu itu ia ingin membuatku cemburu," ujar Rani.


"Cemburu? Apa kamu masih memiliki perasaan dengan dia?"


Rani terdiam.


"Mantan suami kamu sudah memiliki kekasih, kemungkinan dia takkan kembali padamu," ucap Andri tersenyum bangga.


Rani tetap diam.


"Kamu mau ikut atau tidak? Laras mengizinkan kamu ikut, aku tidak akan tidur sekamar dengan kalian," ucap Andri.


"Baiklah, aku ikut. Tapi, ingat kamu jangan tidur sekamar dengannya!"


"Iya, aku akan tidur di kamar sendiri. Kamu, Laras dan Tasya sekamar," janjinya.


"Aku tidak mau sekamar dengannya!" tolak Rani.

__ADS_1


"Laras bisa cemburu jika kamu tidur sendirian," ujar Andri.


"Baiklah, aku mau. Aku juga terpaksa ikut karena tak ingin kamu bermesraan dengannya!" ucap Rani.


__ADS_2