Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 22- Shireen Menemani Varrel Ke Sekolah


__ADS_3

Menggandeng tangan Varrel, keduanya memasuki halaman sekolah yang tampak ramai. Ya, hari ini pembagian raport kenaikan kelas.


Shireen duduk bersebelahan dengan Varrel di dalam ruangan kelas. Tak lama kemudian Siska, selaku wali kelas datang.


Tatapan matanya tertuju pada Shireen yang begitu akrab dengan Varrel. "Siapa wanita itu?"


Siska membuang rasa penasarannya sejenak, lanjut pembagian raport. Ia memberikan sedikit nasehat kepada para siswanya yang hadir bersama walinya.


Satu persatu siswa di panggil menghadapnya.


Dan kini giliran Varrel yang maju ke depan bersama Shireen duduk berhadapan dengan Siska.


"Kalau boleh saya tahu, anda namanya siapa?" tanya Siska pada wanita yang ada dihadapannya.


"Saya Shireen, Bu Guru."


"Ada hubungan apa anda dengan Pak Alka?" Siska penasaran.


"Saya hanya temannya, Bu."


"Oh," ucapnya. "Memangnya Pak Alka ke mana?" tanya Siska lagi.


"Sedang sakit, makanya saya yang mewakilinya."


"Oh, begitu." Siska ingin bertanya lagi namun siswa lain belum dipanggil.


Siska menjelaskan tentang prestasi Varrel di sekolah, bocah laki-laki yang mulai menginjak usia 7 tahun itu. Varrel mendapatkan peringkat ketiga di kelasnya.


Hal itu membuat Shireen sebagai perwakilan keluarganya ikut senang walaupun wajah Varrel tak menunjukkan hal yang sama.


Selesai pembagian raport, Siska masih penasaran dengan Shireen. Wanita yang baru ia lihat selama menjadi guru Varrel sangat begitu dekat dengan siswanya itu.


"Bu Shireen!" panggilnya.


Shireen berhenti dan menoleh. "Ya, Bu."


"Apa Pak Alka sakitnya sangat parah?" tanyanya.


Shireen mengerutkan keningnya, "Kenapa dia sangat begitu khawatir?"


"Bu Shireen, maaf bukan maksudnya....." Siska tak dapat menjelaskan.


"Pak Alka hanya demam saja," jelas Shireen.


"Syukurlah!" Siska tersenyum lega.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"


"Ada, Bu Shireen."


"Ya, apa? Silahkan!"


"Saya sudah lama tidak bertemu dengan ibunya Varrel."


Shireen melihat ke arah Varrel yang masih mengobrol dengan teman-temannya. "Kedua orang tuanya Varrel telah berpisah, Bu," ucapnya lirih.


Siska mendelikkan matanya tak percaya.


"Saya juga kurang tahu alasan mereka berpisah," Shireen menutupinya.


"Tetapi, Bu Shireen temannya Pak Alka?"


"Saya baru mengenal Pak Alka beberapa bulan belakangan ini," jawab Shireen.


"Begitu, ya?"


"Ya, Bu."


"Sampaikan salam saya kepada Pak Alka, semoga beliau cepat sehat," ucap Siska.


Entah kenapa Shireen tak begitu menyukai wanita yang ada dihadapannya menitipkan salam pada pria yang disukainya itu.

__ADS_1


Shireen hanya membalasnya dengan anggukan dan tersenyum tipis.


-


Keduanya pulang, sesampainya Varrel berlari memasuki rumah berteriak memanggil ayahnya.


"Ada apa, Varrel?" Alka keluar dari arah dapur memegang botol susu.


"Aku hanya dapat peringkat ketiga di kelas, Ayah tidak memarahiku 'kan?"


Alka tertawa kecil, "Untuk apa Ayah memarahimu? Kemampuan kamu memang segitu, Ayah tak bisa paksakan yang penting dirimu sudah berusaha."


"Aku janji akan menjadi anak yang bisa Ayah banggakan," ucapnya.


Alka mengacak rambut putranya dan mengecup keningnya. "Ayah menyayangi kalian!"


Varrel tersenyum.


"Ganti pakaiannya, kita akan makan siang di luar," ajaknya.


"Benarkah, Yah?"


Alka mengangguk.


Varrel berlari ke kamarnya dengan hati riang.


Shireen menghampiri Alka, "Tadi Bu Guru titip salam. Semoga Mas Alka cepat sehat."


Pria itu tersenyum. "Terima kasih."


"Kalau begitu saya pamit pulang," izin Shireen.


"Jangan pulang!" Alka menahan.


"Mas Alka mau minta tolong apa lagi?" tanya Shireen lembut.


"Kami mau makan siang di luar, kamu ikut 'ya," pintanya.


-


Kelimanya pergi ke restoran siap saji yang menghidangkan makanan internasional.


Shireen duduk di meja yang sama bersebelahan dengan Raline dan Varrel. Sementara Alka memangku Sean.


"Mas, belum terlalu sehat. Kenapa membawa mereka ke sini?" tanya Shireen.


"Jika sehat, saya tidak memiliki waktu untuk mereka. Sibuk di bengkel, lagian juga sekarang sedikit mulai membaik," jelasnya.


Shireen pun paham.


Kini hidangan yang mereka pesan tiba, Raline dan Varrel begitu semangat menikmati mie dan roti tipis bertabur aneka topping yang menjadi ciri khas tanah Eropa.


Shireen juga menikmatinya sembari tersenyum kala mengelap bibir Raline yang belepotan saus.


Alka berusaha makan walau tangan Sean sangat begitu aktif untuk meraih benda-benda yang ada di atas meja.


Melihat Alka sangat kesulitan untuk makan, Shireen menawarkan dirinya, "Biar Sean dengan saya, Mas."


"Kamu belum selesai makan, Shireen."


"Tak apa, Mas." Shireen meraih tubuh balita itu dan menggendongnya.


Alka akhirnya bisa menikmati makanan tersebut.


Shireen menggendong seraya mengajak Sean mengobrol.


"Tante!" panggil Raline.


"Ya."


"Sini duduk!" titahnya.

__ADS_1


Shireen duduk di sebelahnya dengan memangku Sean.


"Buka mulut, Tante!" Raline menyodorkan potongan roti tipis pada Shireen dan wanita itu menuruti perintahnya.


Shireen mengunyah makanannya dan berusaha meraih tisu yang ada dihadapannya.


Dengan cepat meraih tisu, Alka mengarahkan tangannya dan mengelap saus yang menempel di bawah bibir wanita itu.


Shireen yang mendapatkan perlakuan romantis mendadak tampak terkejut dengan cepat ia mengatakan, "Terima kasih, Mas."


Alka menarik tangannya dan segera membuang wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba dirinya melakukan hal itu.


Sejam berada di restoran, mereka pulang tak lupa singgah membawa sekotak pizza ukuran besar buat Lilis dan Lisa.


Sesampainya di rumah, Shireen menurunkan Raline yang berboncengan dengannya.


Varrel dan Raline menyalim tangan Shireen yang berpamitan pulang.


"Terima kasih untuk hari ini, ya," ucap Alka.


"Sama-sama, Mas." Shireen tersenyum ia kemudian berlalu.


...----------------...


Keesokan harinya Alka sudah kembali beraktivitas. Ia mengantar Varrel ke sekolah, begitu sampai Siska menghampirinya, "Bagaimana kabarnya, Pak?"


"Baik, Bu."


"Katanya Pak Alka kemarin sakit," ucap Siska.


"Ya, memang Bu Siska. Saya kemarin sakit makanya menyuruh calon ibu Varrel yang mengambil raportnya," ujar Alka berbohong.


"Calon ibu?" Siska tampak tak suka.


Alka tersenyum.


"Pak Alka mau menikah lagi?" cecar Siska.


"Masih rencana, Bu."


"Oh."


"Kalau begitu saya pamit, Bu." Alka menghidupkan mesin motor lalu berlalu.


Siska yang mendengar pernyataan Alka seakan tak percaya. "Bagaimana mungkin secepat itu dia menikah? Apa sebenarnya Pak Alka yang berselingkuh sehingga ia bercerai dengan ibunya Varrel?"


Karena penasaran, ia memanggil Varrel dan bocah itu mendekatinya. "Ada apa, Bu Guru?"


"Apa benar Bu Shireen itu calon ibumu?"


"Calon ibu? Varrel tidak paham," tampak bingung.


"Iya, ayahmu dan Bu Shireen akan menikah. Apa benar?"


"Tidak mengerti, Bu Guru. Ibu Varrel cuma satu, tapi entah ke mana. Dia tak mau bertemu dengan kami lagi," menundukkan wajahnya.


Siska jadi merasa bersalah dengan bertanya padanya.


"Besok libur sekolah, kamu punya rencana mau ke mana?" Siska menghibur siswanya itu.


"Tidak ke mana-mana, Bu."


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Mall? Kamu mau?"


"Mau, Bu." Penuh semangat.


"Besok pagi, Ibu akan menjemputmu. Kamu lanjutkan lagi latihan bela dirinya," ujar Siska.


Varrel pergi bergabung dengan teman-temannya walaupun sudah bagi raport dan sebagian siswa telah tapi kegiatan beberapa ekstrakurikuler tetap dilakukan hari ini.


"Wanita itu masih calon, aku masih punya harapan untuk mendekati ayahnya," batin Siska tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2