Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 58 - Dituding Lalai


__ADS_3

Shireen mulai melupakan rasa amarahnya semalam setelah suaminya membujuknya dan ia harus menurunkan rasa egonya demi keutuhan rumah tangganya.


"Hari ini dia tidak menjemput anak-anak 'kan, Mas?"


"Sepertinya tidak," jawab Alka.


"Baiklah, nanti aku akan menjemput Raline dan Varrel sekolah," ujar Shireen.


"Kamu tidak ke ruko hari ini?"


"Tidak, Mas. Nanti siang setelah makan, aku mau mengajak anak-anak ke rumah orang tuaku. Kak Radit, istri dan anaknya baru saja tiba di sini!"


"Ya sudah," ucap Alka.


Kelimanya sarapan bersama setelah itu, Alka mengantar Raline ke sekolah. Hari ini, Lilis tidak datang karena Shireen menyuruh mertuanya untuk beristirahat.


Jam 9 pagi, Shireen mengantarkan Varrel ke sekolah bersama Sean menggunakan mobil.


Shireen bisa saja mengantar putranya itu menggunakan motor namun Alka melarangnya apalagi dia membawa Sean.


Selesai mengantarkan Varrel ke sekolah, Shireen kembali ke rumah menyelesaikan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.


Ditengah kesibukannya, tanpa ia sadari Sean keluar rumah dan berusaha membuka pintu pagar beruntung Alka datang bersama Raline.


"Kamu mau ke mana?" Alka membuka pintu pagar dan memasuki motornya, ia kemudian turun. "Di mana, Mama?" tanyanya sambil meraih tubuh Sean dan menggendongnya.


Sean hanya mengoceh tidak jelas.


Alka membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah.


Shireen datang tergopoh-gopoh dan bernafas lega karena Sean bersama ayahnya. "Mama dari tadi mencari-cari kamu!" mencubit pipi sang bocah.


Sean malah tergelak.


"Kenapa kamu bisa lalai seperti tadi?" tanya Alka.


"Aku tidak tahu, Mas. Jika Sean sudah bisa membuka pintu rumah," jelas Shireen.


"Memangnya kamu ke mana saja? Usia seperti dia saat ini kamu harus ekstra menjaganya!"


"Maaf, Mas. Tadi aku lagi mencuci piring," ujarnya.


"Lain kali hal seperti ini jangan sampai terulang lagi!"


"Iya, Mas."


"Aku mau balik ke bengkel," ucap Alka.


Shireen mengiyakan.


Alka berjalan ke arah motornya lalu melesat ke tempat usaha miliknya.


"Sean, jangan ulangi seperti tadi! Mama jadi dimarahi ayah, kan!" omel Raline.


Balita itu hanya diam dan tersenyum nyengir.


"Sean belum mengerti, kamu jangan marahi dia. Mama yang salah," Shireen menasehati putrinya.


"Dia harus tahu, Ma. Biar Mama tak dimarahi ayah."


"Ayah bukan marahi Mama tapi cuma mengingatkan saja. Sekarang, kamu ganti pakaian dan temani Sean main," ucap Shireen lembut.


Raline mengangguk.


-

__ADS_1


Pukul 12 siang, Shireen mengajak kedua anaknya menjemput Varrel ke sekolah.


Shireen memilih menunggu putranya di dalam mobil karena jika ia keluar Sean akan meminta turun dari gendongan dan berlari ke arah jalan besar.


Tak lama menunggu, Varrel mendekati mobil lalu membuka pintu dan masuk.


Sean menunjuk ke arah penjual mainan dengan merengek.


"Nanti saja 'ya belinya!" ujar Shireen.


Sean menangis dengan suara keras.


"Sean, nanti belinya bersama ayah saja!" Shireen berusaha menenangkannya.


"Sean, diamlah!" bentak Raline.


Sean malah mengeraskan tangisannya.


"Raline, sudah 'ya!" nasehat Shireen.


Varrel memeluk Sean dan membujuknya agar tidak menangis. "Nanti kita jalan-jalan dengan Ayah, kamu bisa minta apa saja dengannya!"


Sean mendengarkan penjelasan kakaknya kemudian ia diam.


Karena dirasa, Sean sudah tenang. Shireen menghidupkan mesin mobil dan mereka pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Shireen lebih dahulu turun dari mobil membuka pagar lalu kembali dan membawa kendaraannya masuk.


Varrel dan Raline lebih dahulu keluar dari mobil, hal itu membuat Sean ikutan.


Shireen yang khawatir dengan cepat keluar agar bisa menahan putranya, "Sean, tunggu Mama!"


Belum menutup pintu mobil bagian kemudi, Sean lantas melompat dari pintu bagian penumpang belakang.


"Varrel, cepat tutup pintu pagarnya!" perintahnya.


Sean berlari memasuki rumah, Shireen mempercepat langkahnya karena kurang hati-hati ia terjatuh membuat lututnya lecet.


"Mama, tidak apa-apa 'kan!" Varrel membantu Shireen berdiri.


"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih, ya!" Shireen tersenyum.


"Sama-sama, Ma."


-


-


Menjelang sore, Shireen membawa pulang ketiga anaknya. Karena sudah lebih dari 2 jam mereka berada di rumah kedua orang tuanya.


Belum sempat menutup pagar, Sean sudah berlari ke arah jalanan. Alka yang juga baru tiba mendadak menghentikan motornya lalu turun mengejar putranya.


Alka menarik pakaian Sean dengan cepat menggendongnya.


Alka berjalan menghampiri istrinya. "Hari ini kedua kalinya Sean berlari ke jalanan!" tampak kecewa.


Shireen hanya diam.


"Kamu mampu menjaganya atau tidak, sih?" Alka mengomel.


"Sean saja yang nakal, Yah. Mama sudah menyuruh, jangan turun tapi tetap maksa!" Raline membela mamanya.


"Sean masih kecil belum mengerti larangan, Mama kamu saja yang lalai!" Alka membawa masuk putranya ke rumah.


Shireen menyusul suaminya begitu juga dengan Raline dan Varrel.

__ADS_1


-


Shireen sedang sibuk menghidangkan makanan di meja. Sean menangis meminta untuk digendong, ia menolaknya.


Alka mengambil alih, ia mengangkat tubuh Sean dan menggendongnya namun bocah laki-laki itu terus menangis.


Alka membawanya ke ruang tamu, Sean malah turun dan berlari ke arah dapur menghampiri Shireen.


Alka kembali mengikuti putranya.


"Tinggalkan saja pekerjaan itu, tolong gendong dia!" perintahnya.


"Mas, ini sebentar lagi....."


"Aku bilang tinggalkan pekerjaan itu, urus dia!"


Shireen menghentikan kegiatannya lalu menggendong Sean.


Setelah dirasa Sean sudah tenang, Shireen kembali melanjutkan aktivitasnya.


...----------------...


Pagi ini Varrel ada lomba mewarnai, jadi Rani siap menemani putranya itu mengikuti perlombaan kebetulan juga karena akhir pekan.


Varrel membawa bekal makanan dan minuman yang sudah disiapkan Shireen.


"Itu apa?" tanya Rani.


"Ini nasi goreng, Bu."


"Oh."


Rani mengendarai mobil ke arah sekolah, ia singgah ke minimarket untuk membeli minuman dan jajanan.


Begitu sampai, Varrel terlebih dahulu turun lalu disusul Rani yang membawakan bekal putranya.


Menuju siang hari, Alka dan istrinya beserta kedua buah hatinya menyusul Varrel ke sekolah.


Selesai lomba tepat pukul 12 siang, Alka beserta keluarganya memutuskan makan di sebuah restoran.


Beberapa pesanan sudah dipesan, sambil menunggu Varrel memakan bekal yang dibuat Shireen untuknya yang tidak sempat dimakan. Baru satu suapan bocah itu menjerit dengan wajah memerah dan menggaruk kepalanya.


Semua orang yang berada di meja panik.


"Varrel, kamu kenapa?" tanya Shireen.


Varrel meraih botol air dan meminumnya. "Pedas, Ma!"


Shireen lantas membuka bungkus permen lalu menyuruh Varrel mengunyahnya.


"Kamu masak pakai cabai untuknya?" tanya Alka.


"Tidak, Mas. Sama sekali tak ada cabai sebiji pun," jelas Shireen.


"Lalu kenapa bisa kepedasan?" tanya Rani.


"Aku tidak tahu!" jawab Shireen, ia lantas mencicipi nasi goreng ternyata benar.


"Bagaimana? Apa memang pedas?" tanya Alka.


"Iya, Mas. Tapi aku yakin tak ada memasuki cabai, ini memang rasanya sangat pedas sekali," ungkapnya.


"Mama memang tidak pernah memasak makanan pedas untukku, Yah," jelas Varrel.


"Sangat aneh sekali," ucap Shireen lirih.

__ADS_1


"Kamu lalai lagi, Shireen!" ujar Alka membuat Rani tersenyum puas dalam hatinya.


__ADS_2