Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 33 - Maaf


__ADS_3

Lilis mengetuk pintu kamar Alka, tak lama putranya itu keluar.


"Ada apa, Ma?" tanyanya.


"Alka, apa yang terjadi?"


"Tidak ada, Ma."


"Tidak ada, bagaimana? Shireen seperti menahan tangis, apa yang kamu lakukan padanya?"


"Tidak ada, Ma. Aku tak melakukan apa-apa," jawab Alka.


"Jangan bohong, Alka. Mama dapat melihat wajah Shireen, apa kamu menyakiti hatinya?"


"Ma, cukup 'ya. Jangan membuatku pusing, Rani datang sudah menjadi masalah apalagi ditambah dengan Shireen!"


"Alka, kamu memang sakit hati pada Rani tapi tidak dengan menyakiti perasaan Shireen. Pasti ada ucapan yang membuatnya tersinggung," Lilis menuding.


"Begini saja, Ma. Besok pasti Shireen akan datang, Mama tanya saja apa yang terjadi padanya hari ini," ujarnya.


"Alka....." Lilis ingin berbicara lagi namun putranya dengan cepat ke kamarnya dan menutup pintu.


Lilis menghela nafasnya.


"Nenek, kado dari Ibu besar sekali. Aku buka, ya!" pinta Varrel.


Lilis tersenyum mengiyakan.


"Hore!" Raline bertepuk tangan begitu juga dengan Sean yang mengikuti kakaknya.


Varrel merobek kertas kado penuh semangat, sebuah mainan mobil-mobilan dan peralatan sekolah yang diberikan Rani.


"Kenapa ibu tak memberi aku?" tanya Raline lirih.


"Mungkin kamu belum berulang tahun.


"Benar juga, ya."


-


Dilain tempat, di kediaman Rani dan suaminya....


Rani keluar dari mobil dengan wajah kesal dan kecewa, maksud hati ingin menyapa dan memeluk anak-anaknya malah ia dapatkan sindiran pedas dari mantan suaminya. Apalagi ada wanita lain yang berhasil mencuri hati putra putrinya itu.


"Kamu darimana, Rani?"


"Dari rumah Mas Alka."


"Mau apa lagi kamu ke sana?"


"Aku ingin bertemu dengan anak-anakku."


"Berapa kali aku katakan padamu jangan pernah menemui mereka?" Andri tampak marah.


"Mereka anak-anakku dan aku ibunya. Apa salahnya aku ingin bertemu dengan mereka dan meluapkan rasa rinduku?" Rani berkata dengan emosi.


"Aku tidak mengizinkan kamu ke sana lagi."


"Aku menyesal menikah denganmu. Kamu sangat egois!" menekankan kata-katanya.


Andri mencengkeram lengan istrinya. "Aku sudah mengorbankan banyak untukmu, jadi jangan pernah membantah ucapanku!" menatap dingin.


"Kamu penipu!" desisnya.


"Semua keinginan kamu telah aku turuti, jangan pernah mencoba melanggar peraturan ku!"


"Tinggalkan Laras dan jadikan aku satu-satunya istrimu!"


"Aku tidak bisa!"


"Kalau begitu, biarkan aku menemui anak-anakku dan merawat salah satu darinya."


"Tidak!" Andri berkata tegas.


"Tepati janjimu!" kembali menekan kata-katanya.


Andri mengeraskan rahangnya lalu melepaskan cengkeramannya secara kasar.


......................


Pagi ini Alka mengirimkan pesan seperti biasa kepada Shireen namun wanita itu menyuruhnya untuk menelepon katering saja tanpa perantara dirinya.


Alka mengerutkan keningnya, tak biasanya Shireen menyuruhnya seperti itu. Ia lantas meneleponnya, nomor ponselnya aktif tak lama kemudian dinonaktifkan. "Kenapa dia?"


Akhirnya Alka menelepon pegawai katering untuk pesanan lauk makan siang dan malamnya.


Menjelang makan siang, Alka mencoba kembali menghubungi Shireen namun ponsel wanita itu tetap tidak aktif. "Apa dia marah padaku?" gumamnya.

__ADS_1


Tak mau terlalu memikirkannya, Alka pergi keluar mencari makanan.


Selesai membeli beberapa bungkus makanan, ia pergi ke apotik untuk membeli vitamin buat dirinya yang beberapa hari ini tubuhnya tak terlalu fit.


Hendak menghidupkan mesin motornya, tak sengaja Alka bertemu dengan Laras.


"Hai!" sapa wanita berusia 35 tahun itu.


Alka tersenyum tipis.


"Siapa yang sakit?" tanyanya berbasa-basi.


"Tak ada yang sakit, cuma lagi kurang sehat saja," jawab Alka.


"Oh."


"Alka terima kasih nasehat kemarin," ucap Laras.


"Nasehat apa?"


"Kamu benar, jika Mas Andri mencintaiku dia takkan mengkhianati aku. Jadi sekarang, aku menerima semua kenyataannya dengan ikhlas, jika tak mampu ku akan menyerah tanpa harus menyakiti Rani."


Alka kembali tersenyum kecil. "Semangat!"


Laras membalasnya dengan senyuman juga.


"Kalau begitu, saya duluan!" Alka pamit pergi.


Laras menatap motor Alka yang semakin menjauh. "Bodohnya Rani, dia telah menyia-nyiakan pria setampan dan sebaik Alka hanya mengejar pria pecundang!"


-


Alka tiba di bengkel dan memberikan makanan kepada karyawannya. Ia berjalan ke ruangannya dan suara ponselnya berdering.


Alka mengambil ponsel yang ada di saku celananya, tertera nama Shireen dengan cepat ia menjawabnya.


"Halo, Mas. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Oh."


"Kamu lagi di mana?"


"Lagi di rumah, Mas."


"Kamu tidak lagi sakit, kan?"


"Syukurlah."


Sejenak hening.


"Tak ada hal penting yang ingin dibicarakan lagi 'kan, Mas. Biar saya tutup," ujar Shireen.


"Maaf!"


"Mas?"


"Saya minta maaf, jika perkataan yang kemarin membuat kamu tersinggung," ungkap Alka.


"Tidak, Mas. Saya yang minta maaf karena berbicara tidak tepat waktu," ujar Shireen.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ucap seorang pria dari ujung telepon.


"Mas, saya tutup teleponnya," pamit Shireen.


"Kamu mau ke mana?"


"Calon suami sudah datang, Mas. Jadi, hari ini kami sekeluarga ingin bertemu," jawab Shireen.


"Oh."


"Ya, Mas." Shireen segera menutup teleponnya.


Entah kenapa hatinya begitu sakit kala mendengar Shireen mengucapkan kata calon suami.


...----------------...


Selesai mengantarkan Varrel sekolah, Alka bergegas ke tempat laundry sekaligus katering milik Shireen. Ya, dia ingin bertemu dan berbicara dengan wanita itu.


Begitu hendak membayar tagihan belanjanya, Alka menoleh ke belakang dan tersenyum melihat wajah Shireen namun seketika senyumnya memudar saat seorang pria muda berada di belakang wanita itu.


"Mas Alka!" sapa Shireen gugup.


"Hai!"


Pria muda itu pun tersenyum kepada Alka dan dibalas olehnya.

__ADS_1


"Hari ini saya tak bisa mengantarnya, tidak apa-apa 'kan?"


"Tidak apa, Shireen. Permisi!" Alka pun berlalu.


"Siapa dia?"


"Pelanggan katering."


"Sepertinya kalian sangat akrab," tebaknya.


"Ya, aku sering mengantarkan lauk pauk ke rumahnya dan sangat dekat dengan anak-anaknya."


"Apa dia memiliki istri?"


"Dia seorang duda."


"Oh, jadi dia pria yang dikatakan Tante Ratih," ujar lelaki yang bernama Gani.


"Memang mama bicara apa saja tentangnya?" Shireen penasaran.


"Kata Tante Ratih, kamu tuh selalu menyempatkan waktu untuk mengantar pesanan ke rumah pria itu padahal karyawanmu bisa melakukannya."


"Apa kamu menyukainya?" tanya Gani.


Shireen tak bisa menjawabnya.


"Katakan saja sebelum aku melamarmu," ujar Gani.


"Nanti saja kita bicarakan, sekarang ayo masuk. Kamu bilang sangat lapar!" ajak Shireen.


Setibanya di bengkel, Alka mencoba menghilangkan pikiran tentang Shireen. Ia melakukan pekerjaannya seperti biasanya.


"Mas!" Derry menyerahkan uang seratus ribu selembar.


Alka menyodorkan kembalian 1 lembar uang berwarna biru.


"Mas, salah. Kembaliannya sepuluh ribu, ini kebanyakan," ujar Derry.


"Oh, ya!" Alka segera mengganti lembaran uang tersebut.


Derry menerimanya lalu pergi menemui pelanggannya dan mengembalikan uangnya.


Derry kembali menghampiri Alka, "Mas, sepertinya sedang banyak pikiran?"


"Tidak, Derry."


"Tak biasanya, Mas."


"Aku tidak apa-apa," ucapnya yakin.


"Apa ada hubungannya dengan Kak Rani yang kemarin datang ke rumah?" tebak Derry.


"Darimana kamu tahu?"


"Kemarin ketika ibuku lewat rumah Mas Alka, Kak Rani turun dari mobil bawa kado yang besar," jawab Derry.


"Ya, memang dia datang dan kami sempat berdebat tapi aku bukan memikirkannya."


"Lalu?" Derry penasaran.


"Shireen."


Derry tergelak.


"Hei, apa ada yang aneh?"


"Mas Alka lagi jatuh cinta, ya?"


"Tidak, siapa yang jatuh cinta," Alka mengelak.


"Untuk apa Mas Alka mikir Kak Shireen kalau tidak memiliki perasaan," ujar Derry.


"Benar juga apa yang dikatakannya."


"Kak Shireen baik, Mas. Anak-anak juga menyayangi dia, tunggu apalagi cepat dilamar!" saran Derry.


"Dia sudah memiliki calon suami," ungkap Alka.


"Masih calon, Mas. Apa dia juga sudah dilamar?"


"Belum tahu."


"Kalau belum buruan, deh."


"Aku belum siap, Derry."


"Coba Mas Alka tanya anak-anak apa mereka setuju jika ayahnya menikah lagi," usul Derry.

__ADS_1


Alka sejenak berpikir lalu berkata, "Kenapa kita jadi bahas pernikahan?"


Derry menggaruk kepalanya tertawa nyengir.


__ADS_2