Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 56 - Kamu Tidak Perlu Khawatir


__ADS_3

Shireen hari ini tidak ke tempat usaha miliknya, ia akan menjemput Raline ke sekolah. Karena tidak ingin keduluan Rani.


Begitu sampai dan benar saja, Rani sudah menggenggam tangan putrinya.


"Raline!" panggil Shireen menutup pintu mobilnya.


"Mama!" Raline berlari menghampiri Shireen dan memeluknya.


"Kak Rani mau apa?"


"Aku ingin menjemput putriku, memangnya salah?"


"Kenapa tidak meminta izin padaku?"


"Kamu bukan ibunya, jadi tak berhak. Nanti aku juga akan menghubungi Mas Alka," jelasnya.


"Ya, setelah aku khawatir dan panik," ucap Shireen.


Rani tertawa kecil, "Sangat perhatian sekali, apa Mas Alka menikahimu hanya untuk menjaga dan merawat anak-anak kami. Oh, sungguh beruntung sekali diriku dan mantan suamiku dapat pengasuh sepertimu!"


"Terserah Kak Rani mau mengatakan apapun tentang aku!" Shireen membuka pintu mobilnya. "Ayo Raline, masuk!" perintahnya.


Gadis kecil itu menurut kata-kata Shireen.


Rani berdecak kesal karena ia tak bisa membawa Raline pergi.


Di dalam mobil, Shireen bertanya, "Kamu tadi mau kemana?"


"Ibu mau mengajakku beli mainan, Ma."


"Raline, lain kali jika ibu kamu datang menjemput dan mengajak kamu pergi pulang ke rumah lebih dahulu izin mama atau nenek," ujar Shireen.


"Ya, Ma."


"Mama tidak melarang kamu bertemu dengan ibumu tapi minta izin, kamu paham?"

__ADS_1


"Ya, Ma."


"Sekarang kita pulang, kamu mau sesuatu atau tidak?"


"Mau beli es krim, Ma."


"Baiklah kita ke sana!" Shireen melajukan kendaraannya ke minimarket terdekat dari rumahnya.


Setelah dari minimarket mereka pulang ke rumah. Shireen membelikan juga es krim buat Sean dan Varrel.


Baru saja meletakkan tasnya di dalam kamar, suaminya meneleponnya. "Halo, Mas!"


"Kenapa kamu tidak mengizinkan Raline dibawa Rani?"


"Mas, Kak Rani tidak ada izin dia mau bawa Raline begitu saja. Apa kamu tidak mikir kalau aku begitu khawatir dan cemas," ungkapnya.


"Rani pasti akan memberitahu aku."


"Ya, setelah aku panik dan kebingungan."


Shireen terdiam, ia memang salah melarang ketiga buah hatinya Alka bertemu dengan ibu kandungnya.


"Shireen, berulang kali aku katakan. Kamu fokuslah dengan calon bayi kita. Jangan merusak pikiranmu dengan hal negatif," nasihat Alka.


"Ya, Mas."


Alka menutup teleponnya.


...----------------...


Keesokan paginya ketika sarapan, Shireen berkata pada suaminya. "Mas, tidak menghubungi ibunya anak-anak hari ini?"


"Untuk apa menghubunginya?"


"Aku hanya ingin memastikan saja kalau anak-anak bersama dengannya jadi aku tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Alka melihat raut wajah istrinya sepertinya sedang menyindirnya.


"Hari ini ada pesanan katering lumayan banyak, jadi aku tak perlu capek menjemput Raline dan Varrel," ucap Shireen.


"Kan, ada Beno dan aku yang menjemput mereka," ujar Alka.


"Kasihan Beno sudah sampai sekolah ternyata anaknya telah dijemput," ucap Shireen.


"Aku akan menghubunginya sekarang!" Alka menelepon mantan istrinya.


Rani yang sedang berada di kantor penuh semangat mengangkat dari mantan suaminya. "Halo, Mas!"


"Apa kamu hari ini memiliki rencana menjemput dan mengajak anak-anak jalan-jalan?"


"Memangnya istri kamu ke mana, Mas?"


"Dia lagi sibuk, kamu boleh menjemput mereka," jawab Alka.


"Apa aku boleh mengajak Sean juga?"


"Ya, boleh. Tapi, kamu harus menjemput dia ke rumah."


"Bagaimana dengan Mama Lilis?"


"Aku akan memberitahunya."


"Makan siang nanti aku akan mengajak mereka, Mas. Sekaligus menjemput Varrel di sekolah," ujar Rani.


"Ya," Alka menutup teleponnya.


"Bagaimana, Mas?"


"Rani akan menjemput Varrel sekaligus membawa Raline dan Sean juga. Kamu nanti tak usah menjemput Raline ke sekolah biar aku saja, tolong nanti kamu bilang dengan mama, ya!"


"Baik, Mas."

__ADS_1


__ADS_2