
Garry sangat bahagia, dia lupa mengenakan jaket Hodie sebelum nenuju Apartemen Emily. Saat Garry tengah menekan kode keamanan untuk membuka pintu Apartemen Emily, saat yang sama David ingin keluar dari kamarnya, namun melihat sosok Garry membuka pintu Apartemen Emily, David menahan keinginannya. Dia mengintip keadaan di depan lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
Saat Garry berhasil membuka pintu, terlihat Emily menyambutnya dengan senyuman manis dan kecupan yang langsung mendarat di bibir Garry. Hal itu terlihat David sesaat sebelum pintu Apartemen Emily tertutup.
David sangat syok mengetahui Emily dan Garry memiliki hubungan khusus, dia membatalkan keinginannya keluar rumah, David duduk di sofa, berusaha menenangkan dirinya yang terkejut karena pemandangan tadi.
Sedang di Apartemen Emily.
Keduanya baru saja melepaskan pangutan mereka.
"Kenapa kamu sangat bahagia?" tanya Emily.
"Tebak ...."
"Mana aku bisa menebak," rengek Emily.
"Sayang ... akhirnya kita punya kesempatan untuk terus bersama tanpa harus mencari waktu luangku."
"Benarkah? Kamu dapat izin dari Lesty untuk menikahiku?" goda Emily.
"Bukan, tapi Lesty menawarkan pekerjaan padamu, sebagai sekretarisku." Garry kembali memeluk Emily. "Akhirnya kita punya banyak kesempatan untuk selalu bersama."
"Tunggu!" Emily melepaskan diri dari pelukan Garry. "Bagaimana kalau ini jebakan Lesty untuk menangkap basah kita? Pastinya banyak CCTV bernyawa di kantormu."
"Itu sudah pasti, tanpa kamu pun aku selalu di pantau. Di ruanganku ada beberapa CCTV, apalagi pegawai setia di sana adalah mata-mata Lesty. Tapi tenanglah, aku sudah punya cara untuk kita main santai." Garry kembali menciumi Emily dengan buas.
Suara-suara itu kembali memecah kesunyian, sofa tamu pun harus bernasib seperti kasur yang hanya menjadi tumpuan untuk mereka mencapai kenikmatan. Saat di tengah-tengah petualangan mereka, satu drone mendekati jendela Apartemen Emily. Namun Drone itu hanya merekam suara yang terdengar dari dalam, tidak bisa menangkap gambar apapun, karena suasana di dalam gelap.
***
Pyar!!
Apa saja yang ada di depan mata Betris, bernasib sial. Semuanya hancur terburai di lantai.
Aaakkkk!
Betris menangis histeris setelah mendengar rekaman suara bersahutan itu. Apalagi David tidak pernah lagi pulang ke rumah mereka, mata-matanya selalu mengirim foto setiap hari David datang ke gedung di mana Apartemen Emily berada.
"Pelakor itu benar-benar sialan! Kenapa harus suamiku! Aaaaakkkk!"
Dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya, Betris berusaha mengetik pesan pada preman yang dia bayar untuk membunuh Emily.
__ADS_1
*Secepatnya habisi wanita itu.
Di Apartemen Emily.
"Sayang ... kenapa sekarang saat kita bercinta lampu kamu matikan?" tanya Garry. "Padahal aku sangat bahagia melihat wajahmu yang seakan meminta berhenti, tapi tidak rela untuk dihentikan."
"Akhir-akhir ini aku melihat drone terbang di luar jendela, kalau itu mata-mata istri David. Sejak orang-orang mengira aku simpanan David, drone itu selalu datang. Jendela sengaja aku buka sedikit, biar suara ******* kita terekam, tapi aku tidak mau drone itu menangkap wajahmu. Yang ada cinta kita harus segera berakhir."
"Kamu benar-benar hanya ingin drama saja dengan David? Dia lebih mapan dari aku Em ...."
"Dia memang lebih dari segala hal darimu, bahkan jika aku mau dengannya, aku bisa jadi ratu dalam istananya, tapi aku dan dia sama-sama tidak memiliki rasa. David suka kebebasan, dan aku suka padamu." Emily membelai lembut wajah Garry.
"Kalau aku ingin harta, maka aku tidak akan mendekatimu, karena jika kamu dan Lesty berpisah, dipastikan kamu akan jadi gembel. Tapi keteguhanmu, kesabaranmu, ketegaranmu membuat aku jatuh cinta padamu, aku ingin memberikan seluruh cintaku padamu, andai Lesty membuangnmu, aku dengan bahagia menyambutmu kedalam pelukanku." Emily kembali menyatukan bibir mereka.
Emily menarik wajahnya. "Aku tahu perasaan aku salah, tapi cintaku tidak bisa aku tahan, aku sadar aku tidak akan pernah bisa memilikimu seutuhnya, tidak peduli hal itu. Bagiku sudah cukup jika melihatmu bahagia walau bukan aku yang ada dalam pelukanmu."
Garry terharu dengan ungkapan Emily. Dia memeluk erat tubuh ramping Emily, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Emily. "Kenapa kamu datang setelah Lesty ada dalam hidupku ...."
"Tanpa penindasan Lesty padamu, mungkin aku tidak bisa jatuh cinta padamu, aku jatuh cinta padamu karena sifat muliamu itu."
"Aku tidak tahu, apakah hidupku akan seindah ini jika tidak bersamamu."
Emily terpojok di didinding Apartemen, Garry menciumnya begitu ganas, seakan tidak memberi kesempatan untuk Emily menghirup oksigen.
"Lebih enak makan malam di sini, habis makan di meja makan, kita bisa saling makan di sini." Emily menggigit pelan daun telinga Garry.
"Tapi aku ingin yang special sayang ...."
"Tidak ada hal special apapun bagiku, kecuali kamu. Tapi ... apa yang membuatmu bahagia, lakukan saja sayang. Aku siap menuruti apa yang kamu mau."
"Andai saja rudalku bisa ku pakai untuk bertempur lagi, tidak aku beri ampun dirimu." Garry memeluk Emily begitu gemas.
"Kalau begitu kita tidur saja, bukankah besok hari yang sibuk?"
"Kamu benar, sebaiknya kita tidur saja."
***
Pagi-pagi buta Garry sudah meninggalkan Apartemen Emily, dia langsung menuju kantornya untuk mandi dan mengganti baju di sana.
Sedang David pagi itu sengaja menunda keberangkatannya menuju kantornya, pintu Apartemennya sengaja dia biarkan terbuka sedikit, agar bisa memantau Apartemen Emily.
__ADS_1
Saat Emily terlihat keluar dari kamarnya, David segera beranjak dan mendekati Emily.
"Emily!" panggilnya.
"Ada apa David?"
"Em ... bagaimana kalau hubungan kita, kita seriusi saja?"
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Emily halus.
"Kenapa? Apa karena Garry?"
Sepasang mata Emily terbuka lebar mendengar ucapan David.
"Aku tidak sengaja melihat kalian bermesraan. Jasamu padaku sangat besar, tenang saja, aku tidak akan menceritakan rahasiamu pada siapa-siapa."
"Kamu rahasiakan, atau kamu beberkan, itu hak kamu. Kalau kamu memilih merahasiakan, aku sangat berterima kasih, setidaknya hubungan terlarang kami masih bisa terus berlanjut sebelum ketahuan."
"Tapi mengapa harus Garry? Bukannya dia suami Lesty keponakan mantan suamimu?"
"Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan di sini."
"Apakah semua ini berkaitan dengan masalah perceraianmu dengan Aji? Misal dendam?"
"Aku tidak bisa bilang. Kalau kamu mau, kita bertemu jam makan siang di Restoran VIP, tapi aku tidak janji, aku harus minta izin pada Garry dulu."
"Kalian sudah menikah Em?"
"Itu bukan urusanmu."
"Maafkan aku," sesal David.
"Aku juga minta maaf, aku harus pergi ada panggilan kerja untukku di kantor Garry."
"Waw, aku senang mendengarnya, mau aku antar?"
Emily ragu menerima tawaran David.
"Tenang Em, ajakanku untuk serius tadi cuma bercanda, aku hanya ingin mengetes kamu."
"Mengantarku ke kantor Garry? Sepertinya ini rencana yang bagus, terus nanti siang kita makan siang bersama, pastinya mata-mata istrimu sangat semangat melaporkan kejadian itu."
__ADS_1
Keduanya tersenyum, mereka berjalan bersama menuju mobil David.