POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
55


__ADS_3

Zein kembali mendekati Emily dengan membawa gelas yang berisi air putih. Melihat Emily mematung seperti itu, Zein ragu menyapa wanita itu. Zein ikut mematung memandangi raut wajah yang menyimpan kesedihan itu.


"Kenapa berdiri di sana? Berikan padaku gelas itu, aku haus."


Mendengar Emily memanggilnya, Zein segera memberikan gelas yang dia pegang.


Emily perlahan menegak air putih itu. "Maafkan aku, aku lancang memakai handphonemu tanpa meminta izinmu terlebih dahulu." Emily mengembalikan handphone itu pada Zein.


"Tidak apa-apa, Nona. Kalau Nona masih ingin memakainya, pakai saja dulu."


Emily menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, tidak ada yang ingin aku hubungi lagi. Tadi aku berusaha menelepon Garry dengan handphoneku, rupanya dia memblokir semua kontakku."


"Ketegangan dalam rumah tangga biasa, hanya saja tindakan blokir terlalu ke kanak-kanakan."


"Garry bukan kekakanak-kanakan, mungkin mentalnya rada eror karena bertahun-tahun menderita tapi tidak berani bersuara." Emily menghempas napasnya kasar.


"Kalian benar-benar berpisah?" tanya Zein.


"Dia yang membuangku, dia mengucapkan kata cerai padaku."


"Aku tidak yakin akan hal itu, jika laki-laki itu waras, dia tidak akan membuang permata seperti Anda, beberapa waktu bersama Anda, aku sangat mengagumi cara Anda menyayangi orang-orang terdekat Anda."


"Tapi inilah kenyataannya, dia membuangku, kata talaq yang dia ucap sangat jelas ku dengar, apa aku harus mengemis padanya agar dia tetap bersamaku?" Emily menggelengkan kepalanya pelan. "Aku memang wanita rendahan, karena berambisi merebut suami orang, aku memang bodoh memperjuangkan laki-laki beristri. Tapi aku tidak bego, dia membuangku, oke aku pergi."


"Boleh aku bicara kasar?" sela Zein.


"Bicaralah sesukamu."


"Anda perempuan yang sangat berharga, hanya saja ... orang-orang yang berada di samping Anda, orang-orang yang tidak pandai menghargai perjuangan Anda. Anda terlalu baik, walau tidak dihargai, Anda tetap berjuang untuk mereka, hingga takdir menjauhkan mereka dari Anda, karena seburuk apapun mereka, Anda tidak akan meninggalkan mereka."


Emily terdiam mendengar ucapan Zein, sesaat ingatannya berputar saat kebersamaanya dengan Aji. Dia melakukan apa saja untuk Aji, bahkan rela dihujat keluarga Aji demi menutupi sebuah kebenaran agar Aji bahagia.


"Bersama Aji, Anda terpisah. Karena Aji bukan laki-laki yang baik buat Anda. Menikah dengan Garry, lagi-lagi terpisah, pastinya Garry juga bukan yang terbaik." Zein kembali duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Emily.


"Anda wanita yang baik, hanya saja Anda berada di tempat yang salah. Jika Anda berada di tempat yang tepat, orang-orang akan menghargai Anda."


"Pelakor! Pelakor! Aku tidak pernah percaya Anda seorang pelakor yang mentargetkan harta, aku tidak melihat hal itu dari diri Anda."


"Aku jadi pelakor karena sakit hati, aku menikah dengan Garry mulanya juga karena dendam. Namun seiring waktu, aku benar-benar mencintainya, tapi takdir kembali mengantarkanku pada posisi janda."


"Tetap semangat Nona, semua yang terjadi di luar kendali Anda, semua perempuan bersuami menginginkan rumah tangga mereka awet sampai Kakek-Nenek."


Emily mengusap sisa air mata yang masih tertinggal di ujung matanya. "Sudahah, kita tidur. Terima kasih telah menjagaku."


"Sama-sama Nona, terima kasih juga karena telah menolong putriku."

__ADS_1


"Di layar handphone, apa dia putrimu?"


"Iya, dia putriku."


"Kenapa laki-laki hanya memajang foto anaknya tanpa istrinya?"


"Karena aku tidak berhak memajang foto istriku."


"Kenapa?"


"Sudah malam Nona, jangan begadang, kasian janin yang saat ini bertumbuh di rahim Nona."


***


Malam terasa begitu cepat berlalu, setelah melewati beberapa pemeriksaan, jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.


"Kamu belum makan apa-apa dari pagi Zein, sebaiknya kamu cari sarapan dulu sana."


"Tanggung Nona, kan Nona boleh pulang, nanti sekalian aku mengantar Nona, hari ini juga hari terakhirku di kota ini, setelah ini, aku akan kembali ke desaku."


"Semoga Putrimu selalu sehat Zein."


"Aamiin, terima kasih Nona."


Setelah melunasi semua pembayaran, Zein dan Emily kembali ke kamar perawatan. Mereka memastikan barang-barang mereka tidak ada yang tertinggal.


"Sudah Nona, ayo duduklah di kursi roda ini, aku akan mengantar Nona."


Emily dan Zein meninggalkan Rumah Sakit.


"Nona, apa boleh saya mampir di Minimarket sebentar?" tanya Zein.


"Tentu saja, aku juga ingin mampir."


Mobil yang Zein kemudikan perlahan memasuki parkiran minimarket. Keduanya memasuki tempat itu bersamaan.


Emily mengambil beberapa bungkus roti, sedang Zein masih berkeliling mengitari rak.


"Jadi, issue yang beredar kalau kalian cerai benar adanya?" suara dari Televisi.


"Benar, saya tidak ingin publik tau, karena saya yakin suami saya waktu itu masih kalap dengan buaian palsu Pelakor itu, sekarang suami saya sudah kembali ke pelukan saya."


Emily merasa familiar dengan suara itu.


"Apakah Nona Lesty benar-benar memaafkan Tuan Garry?"

__ADS_1


Doar!!


Mendengar 2 nama itu jantung Emily seakan ikut meledak. Perlahan Emily merubah arah tubuhnya, saat kedua matanya menatap layar televisi, terlihat sosok Garry dan Lesty di sana.


"Memaafkan? Tentu saja. Garry bukan pengejar cinta wanita, dia terjerumus dalam jerat pelakor itu karena pelakor itu terlalu hebat. Saat ini Garry menyadari kesalahannya, aku juga tidak bisa egois, ada anak yang butuh figur seorang Ayah nantinya, saat ini aku hamil."


"Wah ... beruntung si Garry masih punya kesempatan jadi orang kaya," komentar salah satu pegawai minimarket.


"Aneh si Garry, udah punya istri cantik kaya, masih aja lirik-lirik pelakor!"


Shap!


Sebuah tangan mendarat di pundak Emily. Emily menoleh kearah pemilik wajah dari tangan itu.


"Tetap teruskan hidupmu, dan lupakan mereka."


Emily menganggukan kepalanya perlahan. "Mana belanjaan kamu? Sini aku yang bayar sebagai ucapan terima kasihku."


"Sebenarnya aku yang ingin mentraktir Nona."


"Ayolah Zein ... aku tidak bisa tenang jika terlalu banyak berhutang budi pada seseorang."


Saat yang sama handphone Zein berdering, terlihat nama Pak Adam di sana.


"Baiklah, Nona yang bayar, aku ingin menerima panggilan dulu."


Emily segera membayar semua belanjaan mereka, sedang Zein berdiri di samping Emily sambil menerima panggilan.


"Iya Tuan Adam?"


Perhatian Emily sedikit tersita mendengar nama Pamannya.


Mungkin Paman punya urusan lain dengan Zein. Emily fokus dengan pembayarannya.


"Saat ini kamu di mana Zein?" pertanyaan dari ujung telepon.


"Masih di kota ini."


"Zein, bisa terima 1 misi lagi?"


"Maaf Tuan, misiku sudah selesai, aku kemaren menerima jasa ini hanya demi mengumpulkan biaya operasi untuk putriku, putriku sudah sehat, dan aku ingin kembali kedesa, menikmati waktuku bersama putriku."


Emily memberi bahas isyarat pada Zein kalau dia sudah selesai. Zein juga menjawab dengan bahasa isyarat agar mereka segera pergi.


Zein berjalan di depan membuka pintu kaca mimimarket, dan Emily berjalan di belajangnya.

__ADS_1


Crank! Pyar!


Pintu kaca itu pecah terburai, sedang Zein langsung menarik wajah Emily kedalam dekapannya, melindungi wanita itu dari pecahan kaca yang beterbangan.


__ADS_2