
Friska begitu bahagia menggandeng tangan Ayahnya keluar dari hotel. Dia menatap kearah mobil yang sebelumnya mengantar mereka sampai di sini, ada seorang wanita cantik duduk di kursi depan mobil itu.
"Siapa wanita itu pa?" tanya Friska.
"Dia adalah tante baik hati itu, namanya tante Emily."
Friska memberikan senyuman terbaiknya pada Emily. Sedang bibi Geya menatap dalam pada wanita itu, selain namanya, garis wajah yang dimiliki wanita itu juga mengingatkannya pada seseorang.
Stop Geya, ada ribuan wanita bernama Emily di dunia ini, belum tentu itu dia.
Bibi Geya berusaha menepis segala pemikiran yang muncul di kepalanya.
Sedang di sisi lain, Emily tersenyum melihat Zein berjalan kearahnya, bersama seorang wanita paruh baya, dan seorang gadis cilik yang sangat cantik.
Perlahan Emily keluar dari mobil, dan berdiri di samping mobil menyambut keluarga Zein. "Hai cantik," sapa Emily pada Friska.
"Hai tante," balas Friska sopan.
"Emily, perkenalkan ini Friska putriku, dan ini bibi Geya, ibu angkatku." Zein meperkenalkan dua orang yang datang bersamanya.
"Hai, aku Emily." Emily menyalami Friska dan bibi Geya bergantian.
Entah Emily merasakan perasaan khusus di dalam dirinya kala bersentuhan dengan bibi Geya, entah sebab wajah tua yang terasa sangat familiar, atau nama wanita itu.
"Tante di depan saja temani papa, aku dan Nenek di belakang saja."
Ucapan Friska membuat Emily tersadar dari lamunannya.
"Kenapa tidak kamu saja yang di depan? Biar tante di belakang sama bibi G--" Emily menatap sekilas wanita paruh baya itu. "Biar tante sama bibi Geya di belakang." Emily berusaha menyadarkan dirinya yang hampir larut dalam kenangan masa lalu.
"Bagaimana bibi Geya saja yang di depan, biar kalian sama-sama di belakang?" usul Garry.
"Aku akan kesulitan kalau jauh dari Nenek Geya," keluh Friska.
"Tapi kau tidak kesulitan jauh dari papa?" goda Zein pada Friska.
"Sudah, sudah. Biar Nona El saja di depan sama kamu Zein," ucap Geya.
Emily kembali menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya seserang yang biasa memanggilnya dengan sebutan Nona Elly atau Nona El. Bibi Geya juga menatap Emily dengan tatapan yang penuh arti. Keduanya mematung tenggelam dengan kenangan masing-masing.
__ADS_1
"Sudah,sudah. Ayo masuk. Kamu tetap di depan Em, karena kita kalah suara," ucap Zein.
"Ayo Nek, aku tidak sabar ingin bertemu Mochi-ku." Friska menarik bibi Geya untuk masuk kedalam mobil, sontak hal itu membuat Bibi Geya dan Emily tersadar.
Mereka semua segera masuk mobil, Zein perlahan melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Sepanjang perjalanan, hanya musik slow yang memecah kesunyian, di belakang Friska terlihat menikmati pemandangan yang mereka lewati, sesekali dia berbicara dengan Geya.
Melihat Friska dan Geya, Emily seakan becermin, seakan itu adalah masa kecilnya.
**
"Bagaimana Nona El, suka dengan kepangan bibi?"
"Aku sangat suka bi, besok bikinin kepangan lagi ya, teman-teman di sekolah aku sangat menyukai gaya kepanganku bi."
"Sebentar ya Non, bibi mau ke kamar Nyonya dulu, bibi lupa nanya sama Nyonya."
"Iya bi."
Bibi G pergi ke kamar kedua orang tua Emily, sedang Emily bermain dengan boneka-bonekanya menunggu kedatangan bibi G lagi.
Emily terkesiap, saat seseorang membekap mulutnya.
"Jangan bersuara ya Non, mama sama papa mengajak kita main petak umpet, kalau Non bersuara, tim kita kalah."
Emily mengangguk menuruti permintaan bibi G. Bibi G memasukan Emily kedalam kotak.
"Apapun yang Nona lihat dari sini." Bibi G menunjuk pada lubang yang ada di kotak. "Apapun yang Non lihat, jangan pernah bersuara, karena kalau kalah harus makan sayur dan semua bonekanya diambil."
*Emily masuk kedalam kotak, dan bibi G menutupi kotak itu dengan banyak bonek*a.
Dari lubang yang ada, Emily bisa melihat bibi G memakaikan seragam sekolahnya pada bonekanya yang besar seperti dirinya. Wajah bibi G terlihat dibanjiri keringat, Emily kecil tidak mengerti apa yang terjadi, dia hanya memandangi bibi G.
Doar! Doar! Doar!
Suara gedoran pintu itu membuat Emily terperanjat. Bibi G menoleh padanya, dan memberinisyarat diam, setelah itu bibi G pergi lewat balkon bersama boneka yang dipakaikan seragam sekolah Emily.
"Anak Suta kabur bersama pengasuhnya, cepat kejar!"
__ADS_1
Emily tidak bisa mengenali sosok yang berteriak begitu nyaring. Dia hanya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, agar tidak kelepasan bersuara.
Brakkkk!
Sosok itu menggebrak meja begitu keras. Tubuh Emily kecil terperanjat karena suara gebrakan itu.
*
Saat yang sama Emily tersadar dari kenangan buruk itu.
"Maafkan aku, aku tidak melihat lubang tadi," sesal Zein.
"Tidak apa-apa," sahut Emily.
"Kamu berkeringat, Em. Apakah AC nya kurang dingin?" tanya Zein.
"Ah biasa, suhu tubuh ibu hamil sedikit berbeda dengan orang pada umumnya," kilah Emily.
"Hamil? Artinya tante akan mendatangkan bayi ya pa nantinya?" tanya Friska.
"Iya sayang, tapi masih lama." sahut Zein.
"Semoga Nona betah tinggal di desa kami nanti," sela Geya.
"Saya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru bi, saya yakin saya akan betah." sahut Emily.
Perlahan mobil menurunkan kecepatannya, dan memasuki sebuah rumah sederhana dengan gaya minimalis.
"Selamat datang kembali papa," ucap Friska.
"Selamat datang di istana kecil kami," ucap Zein pada Emily.
***
Bersambung.
**
Apa ikatan, dan apa cerita masa lalu Emily, nanti diceritakan pelan-pelan ya. Saat ini aku hanya bisa up sedikit.
__ADS_1