POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 47


__ADS_3

Lesty sangat bahagia membayangkan bagaimana pertengkaran Emily dan Garry saat ini. Waktu rehatnya yang terusik karena ada urusan di kantor bukan masalah baginya, dia tetap semangat melakukan semua pekerjaanya sampai selesai.


Hari semakin sore, semua pekerjaan beres. Sambil menyusuri lorong kantor yang sepi, imajinasi Lesty terus membayangkan pertengkaran Garry dan Emily.


"Permisi bu, Kontrak yang kita ajukan 2 bulan lalu, di acc bu." ucap salah satu pegawai Lesty yang masih ada di kantor itu.


2 bulan? Artinya aku belum menerima tamu selama 2 bulan.


"Bu ...."


Panggilan itu membuat Lesty tersadar dari lamunannya.


"Oh iya, apa ada permintaan lain selain dari kontrak yang tertulis?" tanya Lesty.


"Tidak ada, hanya saja mereka meminta untuk mengadakan pertemuan sekali lagi."


"Oke, kamu atur waktunya. Cari waktu kosong ku, dan hubungi mereka."


"Iya bu."


Lesty memacu cepat langkahnya, dia ingin memastikan sesuatu. Sejenak dia terbayang saat penyatuannya dengan Garry, dan kala itu Garry tidak memakai balon pengaman.


"Sial! Bagaimana ini kalau kejadian? Pekerjaanku masih banyak!" gerutu Lesty.


Lesty segera masuk mobil, sejenak terdiam berusaha menetralkan deruan napasnya yang tidak beraturan. Merasa lebih baik, Lesty meraih handphonenya, dan dia mengurus kartu antrian di sebuah klinik bersalin.


Mengetahui dia ada di antrian awal, Lesty segera melajukann mobilnya menuju klinik bersalin, di mana di sana dokter kandungan yang bertugas adalah teman SMA-nya.


Sesampai di sana, Lesty hanya menunggu beberapa menit, dannlangsung sampai pada gilorannya. Dengan gaya angkuhnya, dia memasuki ruangan dokter itu.


"Hai Lesty, lama sekali kau tidak ke sini, terakhir ke sini kau konsultasi tentang kontrasepsi aman," sapa dokter.


"Zion, aku belum kedatangan tamu selama 2 bulan, aku ingin mencaritahu, sebab apa itu," keluh Lesty.


Dokter itu memanggil perawat, dan meminta Lesty untuk melakukan tes urin. Beberapa menit kemudian, perawat dan Lesty kembali, perawat itu memberikan hasil test pada dokter.


"Kamu wanita bersuami, tidak haid ya kemungkinan besar hamil," ucap dokter.


"Sayangnya sejak 2 bulan lalu aku memyandang status janda, kamu tahu? Aku dijadikan janda oleh seorang janda!" ucap Lesty ketus.


"Berarti Tuhan masih ingin menyelamatkan pernikahan kalian, dengan menghadirkan janin di dalam rahimmu." Dokter memperlihatkan hasil testpack. "Garis 2, artinya kamu hamil. Selamat Lesty."

__ADS_1


*What? Hamil? Oh tidak!!


Berarti Tuhan masih ingin menyelamatkan pernikahan kalian, dengan menghadirkan janin di dalam rahimmu*.


Ucapan dokter itu membuat Lesty merasakan hembusan angin segar. Dia bisa memanfaatkan kehamilannya untuk menghancurkan lagi rumah tangga Emily.


Wanita itu kan mandul? Ku rasa Garry tidak akan mampu menolakku jika tahu aku hamil anaknya.


Lesty berusaha menerima kehamilannya, walau pada dasarnya dia belum ingin punya anak. Setelah berbicara panjang lebar dengan dokter, Lesty melakukan pemeriksaan lanjutan.


Saat perut kecilnya diletakan sebuah alat kecil yang terhubung dengan layar monitor yang tidak jauh darinya, di sana terlihat bagaimana keadaan rahim Lesty, namun dia tidak mengerti apa saja dari tangkapan layar abu-abu itu.


Perkiraan kehamilan Lesty sudah 5 minggu, dan dokter memberikan resep untuk kesehatan janin dan ibunya.


***


Lesty meninggalkan klinik kandungan dengan segala pemikirannya. Tidak menginginkan, namun kehamilannya sangat berguna untuk meraih tujuannya dari sisi selain pekerjaan.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Lesty terus memikirkan bagaimana mengatakan hal ini pada keluarganya. Sesampai di rumah, terlihat kakek dan neneknya juga ibunya duduk santai di ruang tamu, sambil menikmati teh hangat.


"Sudah 2 bulan Aji tidak pulang, apakah selamanya dia akan seperti ini?" ucap Kakek Ajiman.


"Aku sudah berusaha membujuknya untuk pulang, tapi Aji selalu menyibukan diri dengan pekerjaan," sahut Dita.


"Aku bingung Nek." sahut Lesty.


Sedang Andita fokus pada kantong transparan yang Lesty tenteng. "Obat apa itu?" tanya Andita.


Lesty mendekati keluarganya. "Aku harus bagaimana? Kenapa aku hamil saat aku menyandang status janda?" Lesty tenggelam dalam isak tangisnya.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Andita."


"Aku hamil mama ... dan aku hamil anak Garry! Hiks!"


Andita tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia langsung bangkit dan memeluk Lesty. "Ini bohong apa serius? Kalau bohong, ide hamilmu ini senjata ampuh untuk menembak pelakor itu," bisil Andita.


"Sayangnya ini serius," sahut Lesty berbisik.


"Jangan menyimpulkan sesuatu begitu cepat Lesty, kalau tidak haid, bukan berarti hamil," ucap Maiwa.


Lesty melepaskan diri dari pelukan ibunya, dia langsung membuka tas dan mengambil amplop dari sana. "Aku tidak mengambil kesimpulan sendiri Nek, bahkan aku ke dokter untu memeriksa keadaanku, dan aku tahu kalau aku hamil setelah pemeriksaan." Lesty memberikan amplop itu pada Neneknya.

__ADS_1


Maiwa dan Ajiman membuka bersama amplop itu, dan di sana ada keterangan kehamilan Lesty, juga foto USG yang bagian sisinya bertuliskan nama Lesty.


"Ini, aku tebus dari Apotek, Kakek Nenek masih meragukan kehamilanku?"


"Aaakkkk! Aku ingin gugurkan saja anak ini!" jerit Lesty.


"Sayang ... menggugurkan bukan jalan keluar," ucap Andita.


"Andita, bawa Lesty ke kamar dan tenangkan dia." pinya Kakek Jiman.


Andita segera menarik Lesty kepelukannya, dan menggandeng putrinya yang terus menangis menuju kamarnya.


Sedang di ruang tamu, Ajiman terus berpikir, akankah dia membiarkan anak Lesty hadir tanpa sosok Ayah di rumah itu.


"Bagaimana Pak?" tanya Maiwa.


"Entahlah, aku akan menemui Garry dan membicarakannya pada Garry, bukankah Emily tidak mampu melahirkan anak untuk Garry?"


Sedang diatas tangga, Lesty dan ibunya saling tos, pemikiran mereka tepat, kalau Kakek Jiman akan menemui Garry dan membicarakan untuk menyelamatkan pernikahan kembali pernikahan Garry dan Lesty.


"Pelakor itu pikir dia menang mama, ternyata aku dapat tiket emas untuk melaju jadi pemenang!" Lesty mengusap perutnya yang masih rata.


"Ya, Garry memang tidak melihatmu, tapi dia tidak bisa mengabaikan darah dagingnya yang tumbuh di sini." Andita juga mengusap perut Lesty.


"Apalagi kedua orang tua Garry, tentu mereka memilih menyelamatkan anak ini." Lesty semakin bahagia.


Setelah pertengkaran barusan, ku rasa tidak ada alasan untuk Garry mempertahankan kamu, pelakor! Batin Lesty.


"Ayuk sayang, istirahat dulu. Semakin sehat anak ini, semakin besar kekuatanmu menyingkirkan Pelakor itu," ucap Andita.


Ibu dan anak itu melangkah begitu bahagia menuju kamar Lesty, sedang Kakek Jiman dilema dengan pemikirannya. Apakah memang harus Emily dan Lesty berbagi cinta laki-laki yang sama.


Pemikirannya masih kusut, Kake Jiman belum memiliki keputusan untuk diambil. Dia segera menelepon Garry.


"Halo Kek, apa yang bisa aku bantu Kek?" sapaan di ujung telepon sana.


Samar Kakek Jiman mendengar tawa yang sangat bahagia dari ujung telepon sana. Bukan hanya tawa Emily, namun tawa yang dia perkirakan itu Nala dan Athaya.


Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tega menghancurkan kebahagiaan Garry. jerit hati Kakek Jiman.


**

__ADS_1


Maaf ya, libur up kemaren, aku lagi sibuk banget.


__ADS_2