POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 24


__ADS_3

Garry bersandar di samping mobilnya, dia memandangi kalung berlian yang akan dia hadiahkan untuk Emily. Namun suara gebrakan yang cukup keras itu menarik perhatiannya. Melihat semua orang berkerumun di seberang jalan, Garry langsung berlari kearah itu.


Melihat diantara warga yang berkerumun juga ada mertuanya, Garry menahan langkahnya, namun percuma, mertuanya sudah menyadari keberadaannya.


"Garry, kenapa kamu ada di sini?" tanya Andita.


"Aku mau ketemu klien ma di Restoran itu, pas mau masuk aku terkejut mendengar suara tabrakan."


"Sepertinya Emily kena azab," ucap Andita.


Mendengar nama Emily jantung Garry seakan bekerja sangat lambat. "Memangnya ada apa mama?"


"Korban kecelakaan itu Emily."


Garry ingin memastikan, namun saat yang sama ambulan datang dan membawa korban. Melihat tas yang dipungut anggota kepolisian mirip seperti tas Emily, Garry tidak punya kekuatan untuk meyakinkan diri kalau itu bukan Emily. Garry terpaksa kembali ke Restoran untuk mengulur waktu.


Di Rumah Sakit.


Mendengar laporan dari Bodyguard yang dia sewa untuk menjaga Emily, David sangat kesal. Dia membayar mahal Bodyguard itu untuk melindungi Emily. Namun saat ini Emily harus berada di Rumah Sakit.


Sesampai di depan ruang penanganan, David mencengkramm kuat krah kemeja Bodyguard itu.


"Apa saja yang kamu lakukan Zein?! Bukankah tugasmu menjaga keselamatannya!"


"Aku menjaga keselamatannya, tapi juga harus menjaga jarak dengannya, pembunuh itu sudah merusak rem mobil Emily, namun aku menggagalkannya dengan mengempeskan keempat ban mobil Emily, saat aku memeriksa CCTV parkiran, saat itu Emily masuk ke taksi jebakan, aku panik, aku ngebut di jalanan agar sampai di tempat tujuan Emily, dugaanku benar, ternyata mereka ingin menabrak Emily."


"Aku tidak apa-apa David, terima kasih telah melindungiku."


David sangat lega melihat Emily selamat, hanya terlihat memar di pelipisnya.

__ADS_1


"Ini hanya luka benturan, karena dia mendorongku, yang tertabrak keras itu kereta belanja yang dia lempar kearah mobil penabrak."


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Em, kamu dalam posisi ini karena aku, istriku tidak akan menyakitimu kalau kita tidak dekat," sesal David.


"Sudahlah, aku tidak masalah, justru dengan adanya kejadian ini, aku sangat berterima kasih, setidaknya aku punya jalan untuk memastikan sesuatu," ucap Emily.


"Apa itu?" tanya David.


"Kepo! Kamu pulang saja, aku ingin berpura-pura sakit dulu."


Melihat dengan mata kepalanya sendiri Emily tidak apa-apa, David bisa kembali dengan tenang, namun dia tetap akan mengungkap rencana pembunuhan Emily.


***


Hari semakin malam, angin pun semakin terasa dingin menusuk permukaan kulit. Setelah keluar dari mobilnya, Garry merapatkan jaket hodienya. Dia terus memasuki area Rumah Sakit mencari kamar Emily. Hingga dia sampai di suatu ruangan yang nomornya sama persis dengan yang tertera di layar handphonenya.


"Akhirnya kamu datang." Emily terlihat sangat dingin.


Garry tidak mampu bersuara melihat keadaan Emily.


"Aku bukan Emily yang cantik lagi, aku hanya seorang gadis jelek dan cacat, aku juga hanya seorang gadis miskin. Masih ingin hidup bersama denganku?"


"Aku tidak bisa berjalan Garry, aku cacat, bagaimana kamu bisa hidup dengan seorang gadis cacat sepertiku?"


Garry benar-benar tidak mampu untuk bicara.


Melihat Garry bungkam, Emily tersenyum sinis. "Aku tidak memaksamu untuk setia padaku, aku sangat sadar siapa aku, pelakor sepertiku, jika tidak cantik dan tidak menarik lagi, maka akan terlempar begitu saja. Tenang saja Garry, aku sudah siap menerima semua itu jauh sebelum aku bersamamu."


"Kamu ingin memutuskan hubungan kita?"

__ADS_1


Garry masih membisu.


"Tidak perlu dijawab sekarang, setelah kamu yakin dengan jawabanmu, nanti temui aku lagi. Sekarang pulanglah."


Garry pulang dengan perasaan bimbang, Emily adalah bagian hidupnya yang baru, namun melihat Emily cacat, hatinya ragu, apakah dia bisa bahagia dengan gadis cacat?


Garry pulang ke rumah Lesty dengan wajah lemasnya. Dia langsung menuju kamarnya, dan di sana Lesty masih terjaga.


"Dari mana kamu?" tanya Lesty.


"Habis rapat, dan hasilnya tidak memuaskan," sahut Garry.


"Kata mama, Emily kecelakaan, dan kamu juga ada di sana."


"Aku di sana karena ingin mencari tahu, aku juga tidak melihat langsung siapa korbannya, aku hanya tahu dia dari mama." Garry langsung masuk ke kamar mandi, dia belum siap membahas Emily.


Keesokan paginya.


Garry terlambat bersiap, Lesty sudah lama keluar kamar, dengan tergesa-gesa dia keluar sambil mengenakan jasnya. Saat menuruni tangga, dia sangat jelas mendengar pertengkaran Aji, Lesty, dan Andita. Terdengar Andita dan Lesty mendesak Aji untuk menikahi Sonia, namun Aji kukuh menolaknya.


"Kurang apa sih om Sonia itu? Dia cantik, kaya raya, dari keluarga terpandang!" ucap Lesty.


"Menikah itu bukan hanya cukup cantik dan kaya, tapi itu suatu kehidupan yang terus berjalan, aku harus memastikan dengan wanita seperti apa aku menghabiskan hidupku nanti. Maaf, Sonia tidak masuk dalam kriteriaku," tolak Aji.


"Terus yang masuk kriteria kamu kayak si pelakor itu!?" bentak Andita.


"Kalau iya memangnya kenapa? Kalian tidak tahu betapa indahnya hidupku bersama Emily, dia rela resign dari kantornya hanya untuk mengabdi padaku, Emily pengertian, kalau aku menyebut kebaikan tentangnya waktu kita tidak akan cukup!" ucap Aji.


"Sedang wanita sombong seperti Sonia hanya tahu menuntut hak tanpa mau melakukan kewajiban, yang paling aku takutkan lagi, dia tidak bisa menghormatiku sebagai suami, seperti kamu pada Garry yang selalu menindas Garry. Aku tidak mau hidup seperti Garry yang tidak punya martabat dan harga diri di depan istrinya sendiri."

__ADS_1


__ADS_2