
Betris serasa berada di ujung jurang, jika dia melawan David, dia terjatuh dalam gelapnya jeruji besi, dirinya juga akan diceraikan David karena statusnya sebagai narapidana.
"Baiklah ... besok aku akan mengantarkan gugatan cerai kita ke pengadilan." Sangat berat mengucapkan kalimat ini, sehingga suara Betris terdengar gemetar.
"Oke, saat surat cerai kita keluar, saat itu juga aku akan memberikan semua bukti padamu, setelah itu jangan berani-berani mengganggu Emily atau ku habisi dirimu!"
"Begitu cinta kamu pada Emily?"
David tidak menjawab, dia langsung meninggalkan kamar Betris.
Sedang di tempat lain ...
Garry tidak punya stok sabar untuk pulang, kali ini Lesty sangat keterlaluan. Menginjak harga dirinya, Garry masih bisa menerima, namun saat melihat kedua orang tuanya dihina, Garry tidak bisa pasrah menerima. Malam ini dia memutuskan bermalam di kantor.
Garry berbaring di kamar khusus miliknya. Pikiranya terbayang dengan kehidupan mewah yang dia dapat setelah menikah dengan Lesty, namun tidak mendapat rasa cinta. Sesaat kemudian pikirannya terbayang pada Emily. Walau Emily tidak bergelimang harta, dia merasa bahagia dengan wanita itu.
Hidup dengan harta melimpah tanpa kasih sayang, atau hidup sederhana dengan segenap perhatian. Garry terus memikirkan 2 hal itu.
***
Keesokan harinya di Rumah Sakit.
Pintu kunjungan belum dibuka, namun dengan alasan ingin bertukar shif dengan keluarga, dia memperlihatkan kartu yang dia dapat dari Zein, Garry bisa masuk ke gedung Rumah Sakit itu. Suasana masih terlihat sangat sepi, hanya beberapa petugas kebersihan yang lalu lalang mengerjakan tugas mereka.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Garry mengetukan punggung tangannya pada pintu, beberapa saat kemudian perlahan pintu terbuka, memperlihatkan sosok gadis yang dulu sering berkunjung ke rumah Lesty saat Emily masih menjadi menantu di sana.
"Garry?" Janet terkejut melihat sosok Garry.
"Kamu sahabat Emily, tanpa menjelaskan apa-apa, ku rasa kamu sudah tau ada apa antara aku dan Emily."
Janet menepi, dia mempersilakan Garry masuk. Saat Garry sudah berada dalam ruangan, dia melihat Emily berbaring di ranjang pasien itu.
"Kamu sudah punya jawaban atas pertanyaanku kemaren?" tanya Emily.
"Sudah ... aku sudah punya jawaban." Garry berulang kali mengatur napasnya, mempersiapkan diri untuk bicara. "Aku tidak peduli kalau kamu tidak cantik lagi, aku tidak peduli walau kamu harus menyambutku dengan kursi roda, apa yang kamu beri pada hatiku, membuatmu sangat berarti lebih dari apapun. Aku siap hidup dari bawah, asal kamu berada di pelukanku."
"Kita sama, laki-laki yang terjerat cinta wanita di luar sana dan melupakan istri sahnya, adalah laki-laki buruk, jadi kita sama-sama buruk, bukan?"
Emily tersenyum mendengar jawaban Garry. "Kenapa diam saja di sana? Ayo kesini dan peluk aku."
Garry lega, dia langsung mendekati Emily dan memeluknya. Melihat dua orang yang sangat bahagia itu, Janet merasa kikuk berada di ruangan tersebut.
"Kalian mau sarapan apa? Aku mau keluar," ucap Janet.
Garry melepaskan pelukan mereka. "Kita pesan lewat kurir saja."
__ADS_1
Emily memahami perasaan Janet, dia tersenyum pada sahabatnya itu. "Apa saja yang kamu temui, belikan untuk kami, kami pasti makan apa yang kamu beli."
"Oke, baiklah ... aku pergi dulu ya." Janet meraih tasnya dan segera pergi.
Setelah Janet pergi, Emily melepaskan selang infus yang menempel di permukaan kulitnya.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Garry.
"Melepas aksesoris ini, aku sudah tidak butuh."
"Aksesoris?" Garry berusaha memahami ucapan Emily.
"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin menguji cintamu." Emily turun dari ranjang dan berdiri dengan kedua kakinya.
"Kau?"
"Maafkan aku. Bukan maksudku untuk menipumu."
Garry ingin protes, namun Emily membungkamnya dengan sapuan lidahnya.
Garry terjatuh keatas tempat tidur, saat Emily menuju tempat rudalnya bersembunyi, Garry menahan pergerakan tangan Emily. "Jangan lagi, cukup sudah kebodohan kita selama ini, aku tidak akan melakukan hal itu, kecuali setelah menikahimu."
"Sudah cukup kita merendahkan diri kita sendiri dengan berzina."
__ADS_1
Emily tersenyum, dia langsung menjatuhkan dirinya kepelukan Garry.