
Garry mematung mendengar semua kemarahan Aji. Terlihat Aji sangat menyesal melepaskan Emily.
Emily saat ini ada dalam pelukanku, apakah hanya karena dia cacat aku membuangnya?
Apalah arti fisik Garry, jika kamu mendapat rasa hormat dan kasih sayang darinya. Sedang istrimu sendiri selalu menghina dan merendahkan dirimu.
Di bawah keadaan kembali tenang, karena Aji sudah pergi membawa kemarahannya. Perlahan Garry menuruni tangga, dia berpura-pura tidak mendengar kejadian sebelumnya.
"Garry, kata Aji kedua orang tuamu ada di kota ini?"
"Iya Kek, mereka akan tinggal sampai pesta ulang tahun Lesty."
"Nanti malam, ajak mereka ke sini, Kakek sudah lama tidak bertemu Ayahmu."
"Tidak bisa Kek, malam ini aku perkumpulan di rumah ini dengan teman kantorku," protes Lesty.
"Apakah rumah ini terlalu kecil sehingga tidak bisa mengadakan dua jamuan sekaligus?"
Lesty seketika bungkam, dia tidak berani melawan keinginan Kakeknya. Pagi itu mereka sarapan dengan kecanggungan.
Selesai sarapan Garry dan Lesty berjalan bersama menuju mobil mereka masing-masing.
"Aku mau menemui keluargaku dulu, menyampaikan undangan Kakek," ucap Garry.
"Kamu tidak menjenguk Emily?" Lesty menatap Garry penuh selidik.
"Aku wakilkan pada keluargaku, aku hanya mengantar mereka, apalagi Emily sangat berharga bagi seseorang, kalau aku menjenguk nanti ada kesalah fahaman."
"Keluargamu dekat dengan Emily?" tanya Lesty.
"Mana aku tau, aku mengunjungi mereka saat selesai bekerja, mereka tinggal gedung di Apartemen yang sama, aku tidak tahu mereka dekat atau tidak."
Garry takut Lesty terus bertanya, dia segera masuk mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Lesty.
Di sisi yang lain ....
Dimas terus melakukan penyelidikan kasus Emily, dia melaporkan kasus tabrak lari itu sebagai pembunuhan berencana. David terus berusaha mengumpulkan bukti kalau itu sebuah pembunihan berencana.
__ADS_1
Di sebuah tayangan CCTV, sangat jelas beberapa orang terlihat masuk ke kolong mobil Emily, dan yang lainnya membuka kap depan mobil Emily, sangat jelas mereka meyabotase mobil itu.
Saat kepolisian memeriksa mobil itu, benar adanya rem mobil Emily dirusak, juga bagian mesin disabotase hingga mobil itu akan meledak jika sampai dititik yang ditentukan.
"Saya tidak mau tau, kalian harus bekerja keras mencari siapa saja yang terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini!" ucap David.
***
Garry sampai di Apartemen yang ditempati keluarganya.
"Nala sudah kuliah bu?" tanya Garry.
"Sudah, beruntung ada Emily yang selalu emanwarkan bantuan pada ibu ataupun Nala."
Ibu Garry merasa ada yang salah dengan putranya. "Kenapa wajahmu sedih Garry?"
"Emily tadi malam kecelakaan, saat ini dia di Rumah Sakit."
"Kau sudah jenguk dia?"
"Belum bu."
"Ibu dan Bapak saja, bagaimana? Aku harus kerja."
"Nggak apa-apa, yang penting ada yang menjenguknya."
"Saat makan siang nanti, aku akan jemput Bapak dan ibu, dari Rumah Sakit, kita langsung ke rumah Tuan Jai, mereka mengundang kalian makan malam."
"Nggak bisa malam aja Garr? Bapak sungkan kalau harus berlama-lama di rumah Tuan Jaiman."
"Malam ada pertemuan Lesty dengan temannya, nah kalau kalian sudah lama di sana, kan enak izin pulangnya," ucap Garry.
"Ibu setuju saja, ya sudah nanti siang setelah dari Rumah Sakit kita mengunjungi Tuan Jaiman."
"Kalau Nala, nanti Garry minta dia menyusul ke sana ya."
"Bapak setuju Gar."
__ADS_1
Garry membawa kedua orang tuanya menuju Rumah Sakit di mana Emily di rawat.
Di Rumah Sakit.
Emily ditemani oleng Zein, Bodyguard yang disewa David untuknya.
"Oh iya, rasanya kita pernah bertemu sebelumnya," ucap Emily. Emily berusaha memutar otaknya, mengingat di mana dia bertemu laki-laki yang menjadi Bodyguardnya. "Aha! Tempat Gym!"
Emily menatap tajam laki-laki itu. "Apa saat itu kamu sudah bekerja untuk melindungiku?"
"Ya, saat itu sudah. Hanya saja yang membayar saya waktu itu adalah Tuan Adam. Tuan Adam takut, istrinya bertindak nekat, makanya beliau meminta saya menjaga Anda, tapi takdir memang ingin kita tetap bersama."
Emily menyipitkan kedua matanya menatap Zein.
"Jangan salah pemahaman, Takdir tetap mengikat kita sebagai bos dan bawahan, Anda adalah bos yang harus saya lindungi."
"Saat saya menerima gajih terakhir dari Tuan Adam, ternyata saya mendapat projet baru namun misi yang sama, yaitu menjaga Anda."
"Jadi ... selama ini kamu memang sudah tahu banyak hal tentang ku?" tanya Emily.
"Banyak sih tidak, hanya sebagian untuk memposisikan diri saya, di bagian mana saya harus bersiap menjaga Anda. Karena saya pengawal yang harus bekerja tanpa Anda sadari."
"Pengawal?"
Ucapan itu menarik perhatian Emily dan Zein. Terlihat 3 orang berada di depan pintu kamar perawatan Emily.
Keadaan seketika canggung, namun ibu Garry langsung mendekati Emily. "Bagaimana keadaanmu?"
"Sedikit lebih baik bu, kenapa Anda repot-repot kesini? Aku jadi nggak enak."
"Nggak repot, ini diantar Garry."
"Oh iya, aku harus ke kantor, Bapak dan ibu ingin menemani kamu di sini Em, apa boleh?" tanya Garry.
"Tentu saja, kalau Bapak dan ibu mau aku sangat senang malah."
Walau banyak pertanyaan di hati Garry, namun dia juga tidak bisa menanyakan segala pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Garry memilih pergi meninggalkan Rumah Sakit.
__ADS_1
Sedang di Rumah Sakit, Emily meminta Zein pergi, karena sudah cukup ada ibu dan Bapak Garry yang menemaninya.