POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 32 Kosong


__ADS_3

Sudah 5 jam berlalu, Lesty tidak menerima laporan dari mata-mata yang dia utus. Lesty tidak bisa memperhatikan pekerjaan, saat ini dia terus memikirkan Garry dan Emily. Menurut laporan Arsyila, Garry yang menjadi simpanan Emily.


Drtttt! Drtttt!


Getaran Handphone menyadarkan Lesty dari lamunanya. Dia segera membuka pesan dari mata-matanya.


*Tidak ada yang mencurigakan, Nona. Sejak 30 menit yang lalu, mereka sudah memasuki pabrik.


Mata-mata Lesty mengirim foto pabrik yang didatangi oleh Emily, Garry, dan David.


Pikiran Lesty sesaat kosong, percaya kalau mereka bekerja, namun di sisi hatinya yang lain, dia meragukan hal itu.


Tink!


Sebuah pesan grup masuk, Lesty dengan malas membuka pesan itu. Terlihat sebuah tangkapan layar media sosial David yang memposting sebuah cincin. Lalu ada Foto David menjabat tangan seseorang, dengan caption ....


Kenapa kita baru saling mengenal, hingga rasa ini yang ku dapat saat bersamamu juga baru ku rasa saat ini. Aku bahagia bersamamu, semoga kamu juga bahagia bersamaku.

__ADS_1


Seketika jagad maya memperkirakan kalau itu pernikahan David dan Emily.


Membaca gambar tangkapan layar itu, Lesty segera menghubungi Arsyila.


"Lihat postingan David hari ini? Kali aja mata ibu rabun sehingga tidak bisa membaca, ibu selalu menuduh suamiku dan Emily ada main, lihat sekarang Emily dan David menikah secara siri pastinya."


"Aku tahu ibu dendam pada Emily, tapi bukan dengan mengganggu kedamaian rumah tanggaku demi dendam ibu. Toh sekarang suami ibu sudah aman, karena Emily mendapatkan target yang lebih muda, lebih kaya, dan lebih dari segala tentunya."


Lesty tidak memberi kesempatan Arsyila untuk berkata, sebelum Arsyila menjawab, Lesty langsung memutuskan panggilan mereka secara sepihak.


***


Pak Gupal terkejut melihat mobil pabrik berhenti di depan rumahnya, saat dia mencoba mencari tahu siapa pengemudi mobil itu, dia dikejutkan dengan sosok Emily yang baru turun dari mobil tersebut, kemudian ada satu sosok laki-laki tampan yang berdiri di samping Emily.


"Emily, dan laki-laki tampan, pasti mau menikah bukan?" tebak sosok wanita paruh baya yang berdiri di belakang Pak Gupal.


"Iya bi Ana, aku ke sini ingin minta nikahkan dengan pemuda yang datang bersamaku," jawab Emily.

__ADS_1


"Suami orang?" tebak Ana lagi.


"Iya, suami orang."


"Hanya menunggu waktu, Paman ... bibi, saya hanya akan jadi milik Emily," sela Garry.


Gupal merasa kesal, karena Emily memilih laki-laki yang sudah beristri, namun jika dia menolak kemungkinan mereka tetap kawin tanpa status pernikahan.


"Masuk dulu, nanti paman telepon orang yang biasa menikahkan secara siri."


Hubungan Emily dan pamannya tidak terlalu dekat, namun untuk mendekati istrinya, tinggal berikan satu amplop yang tebal, maka istri pamannya itu seketika manis.


Melihat Pamannya tengah sibuk berbicara di telepon, Emily perlahan menyusul bibinya yang tengah menyeduh teh.


"Bi, aku ke sini buru-buru, karena pekerjaan kami. Tidak sempat beli oleh-oleh, untuk makan siang, aku mau repotin bibi ya ...." Emily memberikan amplop tebal ke tangan bibinya. "Buat beli kue untuk kudapan saat akad nanti, dan apalah suka-suka bibi."


Seketika mata yang sebelumnya menyimpan kekesalan, seketika berubah dengan binar kebahagiaan.

__ADS_1


"Kamu lanjut bikin teh, anggap rumah sendiri, bibi mau ke rumah makan terdekat dulu untuk persiapan ijab."


Wanita paruh baya itu langsung berlari keluar, dan pergi dengan motor maticnya yang nyaris butut.


__ADS_2