
Melihat mobil Garry sudah meninggalkan tempat acara, Emily keluar dari tempat persembunyiannya. Dia perlahan mendekati Lesty.
"Bagaimana perasaanmu Les, saat tahu Rumah Tanggamu akan segera berakhir?" Emily bersidekap dada, sorot matanya seakan menantang wanita yang ada di depan matanya.
"Dasar pelakor!" Lesty melayangkan tangannya ke wajah Emily.
Namun Emily berhasil menahan gerak tangan Lesty. "Dulu aku bukan pelakor, aku hanyalah wanita biasa, tapi kau selalu menuduhku pelakor! Biar dosamu tidak terlalu besar, jadi aku wujudkan tuduhanmu, so ... itu bukan lagi suatu fitnah, karena aku benar-benar seorang pelakor." Emily menghempas kasar tangan Lesty.
"Kau sengaja mentargetkan Garry?"
"Ya ... biar kamu tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat rumah tanggaku hancur."
"Mulai sekarang! Kamu tidak boleh lagi datang ke Perusahaan!"
"Tidak masalah, targetku juga sudah tercapai."
Lesty mematung mendengar pengakuan Emily. Sedang Emily sudah meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak mau rumah tanggaku berakhir, apalagi jika sampai media tahu kehancuran Rumah Tanggaku karena orang ketiga. Aku harus menemui mama." Dengan tangan gemetaran Lesty segera menghubungi ibunya.
"Iya sayang, ada apa?"
"Mama, kita bertemu di Restoran biasa ma."
"Kenapa sayang? Lebih baik kamu pulang saja dan istirahat, malam ini Kakek meminta kita berkumpul di rumah."
"Justru ingin membahas itu ma, ayolah mama, aku butuh mama."
__ADS_1
"Baiklah, satu jam lagi, mama akan ke sana. Saat ini mama menghadiri acara amal."
Satu jam waktu yang sangat lama bagi Lesty, dia memilih menuju kantor temannya yang berprofesi sebagai pengacara. Beruntung Delisha sedang tidak sibuk, Lesty sangat mudah bisa menemuinya.
"Masalah Garry lagi?" tebak Delisha.
"Hu'um, bahkan Garry mulai berani mengusulkan perceraian."
"Kenapa? Takut kehilangan Garry?" goda Delisha.
"Aku sama sekali tidak takut, laki-laki yang jauh lebih mapan dari Garry mudah aku dapat!"
"Iya, aku percaya, hanya saja yang mentalnya kuat seperti Garry, ini yang langka. Laki-laki lain sekali kau hina tamparan langsung melayang."
"Kamu mau bela Garry Del?"
"Bukan begitu, aku hanya mengingatkan."
"Jadi ... apa mau kamu?"
"Aku rela berpisah, asal karena alasan lain."
"Kalau begitu, saat gugatan cerai berlangsung, kamu jangan bawa masalah perselingkuhan Garry, maka semua hanya tahu kalian berpisah karena merasa tidak satu tujuan lagi."
"Tapi aku ingin mempersulit perceraian kami."
"Kamu punya kuasa Les, kamu manfaatin kuasa kamu, apa yang kamu mau, semua akan berjalan seperti itu bukan?"
__ADS_1
***
Melihat kehancuran dari wajah Lesty, Emily sangat bahagia, akhirnya tujuannya tercapai. Senyuman itu seketinya lenyap, kala Emily teringat Garry yang tidak bersalah.
Bagaimana aku mengakui semua tujuanku pada Garry?
Deringan handphonenya membuat Emily tersadar, terlihat nama Garry di sana. Emily menepis pemikiran itu, dia segera menerima panggilan dari Garry.
"Iya sayang," sapa Emily, lembut.
"Kamu di mana?"
"Di jalan, menuju Apartemen."
"Baguslah, tingkatkan kewaspasdaan, kata Zein, laki-laki yang nenyerangmu kemaren bebas bersyarat, berarti orang yang memakai jasanya bukan orang sembarangan. Aku khawatir masih ada orang seperti itu di sekitarmu."
"Iya sayang, aku akan hati-hati."
"Satu lagi, Lesty memecatmu dari Perusahaan."
"Kenapa?" Emily pura-pura tidak tahu.
"Dia tahu hubungan kita."
"Kita harus bagaimana, sayang?" Emili pura-pura panik.
"Kita jalani saja, aku menceraikan dia mudah, hanya saja aku ingin berpisah secara baik-baik, malam ini ada pertemuan di rumah, sepertinya Kakek meminta aku menjelaskan semuanya."
__ADS_1
"Apakah ini akan menjadi awal bagi kita?"
"Semoga, aku sudah tidak sabar menanti hari di mana aku bisa mempamerkan pada dunia, kalau kamu adalah istriku."