POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 23


__ADS_3

David memandangi Emily, pemikirannya tentang Emily ternyata benar adanya. Emily bukan pencinta harta seperti pelakor pada umumnya, dia memang wanita tulus, hanya saja takdirnya begitu kejam.


"Kalau Garry ingin tetap bersamamu, bagaimana?"


"Aku akan ceritakan niatku, kalau dia tetap mau bersamaku, maka aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuknya."


"Kalau dia marah, karena sadar kamu menipunya?"


"Aku hanya bisa minta maaf, yah ... walau maaf tidak memperbaiki segala kehancuran yang telah terjadi."


"Semoga setelah ini, kamu menemukan cinta yang sesungguhnya, laki-laki yang baik dan menerima kamu apa adanya," ucap David.


"Kamu juga, semoga menemukan pasangan hidup yang kamu inginkan."


Emily dan David meneruskan makan siang mereka, selesai makan siang, David mengantar Emily kembali ke kantor Garry.


Saat Emily kembali memasuki kantor itu, rasanya selalu ada mata-mata yang terus mengekori kemana saja tujuannya. Emily masa bodoh, dia langsung menuju ruangannya.


Tink!


Tiba-tiba handphonenya menerima sebuah pesan. Emily membaca pesan itu.


*Sayang, kamu berjalan ke ujung ruangan kamu, terus tekan saklar lampu yang ada di sana.


Emily melakukan apa yang diminta Garry, saat dia menekan saklar lampu itu, perlahan dinding itu bergerak. Emily mencoba memeriksa dinding itu, tiba-tiba ada tangan dari dalam yang menariknya. Ternyata itu sebuah ruang rahasia.


"Selamat datang di ruang rahasia, sekarang ini adalah tempat kita memadu kasih." Garry langsung menyerang bibir Emily.


"Tunggu, bagaimana kalau ada yang mencariku, atau mencarimu?" tanya Emily.


"Tenang saja, aku memasang CCTV di depan pintu ruanganmu dan ruanganku."


Garry tidak bisa menahan diri lagi, dia melakukan apa saja yang dia mau.


Di tempat lain.

__ADS_1


Lesty terus mengawasi Garry, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang masuk ke ruangan Garry, Emily juga berada di ruangannya, menurut CCTV kantor yang terhubung di handphonenya. Tapi entah mengapa Lesty tidak bisa menepis kecurigaannya.


Saat ini Lesty berada di perkumpulan geng arisannya, namun dia terus memikirkan Garry.


"Eh Lesty! Kamu ini kenapa memberi pekerjaan pada pelakor itu!"


Suara omelan itu membuat Lesty harus menyimpan handphonenya.


"Kamu ini tidak asa respek sama sekali pada sesama wanita, harusnya biarin pelakor itu jadi gembel!"


Saat ini mood Lesty sedang buruk, dia tidak peduli walau lawan bicaranya saat ini lebih senior darinya.


"Yang tidak punya respek itu, aku apa Anda Nyonya Arsyila? Kalau Emily menganggur akan banyak wanita dijandakan oleh janda itu, kalau dia bekerja, cuma suami anda yang dia ganggu, dengan Anda menahan semuanya, rumah tangga saudara perempuan Nyonya tidak ada yang ganggu."


Arsyila tidak punya kata-kata untuk menyerang Lesty, dia langsung meninggalkan tempat arisan. Sedang Lesty berusaha terlihat bahagai, dan membaur dengan peserta arisan yang lain.


Di kantor Garry.


Garry tidak menyangka, dia akan memiliki waktu sebebas ini bersama Emily.


"Kamu atur sendiri, sekarang aku Sekretarismu, tinggal atur kunjungan ke luar daerah, soalnya pamanku tinggal jauh dari sini." Emily menyebutkan di mana pamannya tinggal.


"Nanti aku akan mengatur waktu, setelah kita menemukan waktu kosong, kita menikah di sana."


Emily tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Em nanti malam, kita makan malam lagi ya ...."


"Lagi? Kamu tidak takut ketahuan?"


"Tidak akan ketahuan, ayolah ... malam ini aku hanya tidur di rumah, setidaknya sebelum pulang aku bisa bersamamu dulu."


Emily tidak menolak, dia menyetujui permintaan Garry.


***

__ADS_1


Waktu seakan berjalan sangat cepat, saat pekerjaan selesai, langit pun terlihat gelap. Emily meninggalkan Perusahaan Garry lebih dulu, beruntung mobil David sudah menunggunya di luar. Mereka segera pulang ke Apartemen.


"Ada acara malam ini?" tanya David.


"Ya ... makan malam bersama Garry." Emily menyebutkan Restoran tujuan mereka.


Sesampai di tujuan, mereka masuk ke Apartemen masing-masing. Sedang Emily, setelah membersihkan tubunya, dan berdandan sebaik yang dia bisa, Emily berjalan cepat menuju mobilnya, namun saat sampai di sana, Emily hanya bisa membuang napasnya kasar, saat melihat keempat ban mobilnya bocor. Emily tidak membuang waktu, dia segera memesan sebuah taksi.


Baru beberapa menit memesan taksi, Emily heran. Pesanannya datang sangat cepat.


"Nona Emily?" sapa supir taksi.


"Iya, kok cepat sekali ya?" tanya Emily.


"Saya baru menurunkan penumpang di sekitar sini, Nona." sahut supir taksi.


Sepajang perjalanan, ada 1 mobil yang terus membuntutunya.


Shut!


Mobil taksi yang Emily tumpangi seketika berhenti.


"Ada apa Pak?" tanya Emily.


"Sepertinya mobil saya mogok."


Emily melihat keadaan sekitar, Restoran tujuannya tepat di seberangnya. "Ini ongkosnya Pak."


"Jangan Nona, Nona belum sampai di tujuan."


"Tidak masalah Pak, tujuan saya di seberang jalan ini." Emily memberikan uangnya, dan dia segera berlari menyebrang jalan.


Brukk!


Suara tabrakan yang sangat keras terdengar, membuat pengguna jalan di sana terkejut. Sedang mobil yang menabrak langsung lari dari tempat kejadian.

__ADS_1


__ADS_2