
Di sebuah ruangan VIP, Lesty terus melungkupkan wajahnya diatas meja.
"Pelakor itu menghancurkan rumah tanggaku mama ... dia tidak terima di depak dari pelukan om Aji, sekarang dia malah mendepakku dari sisi suamiku."
"Kita buat penawaran, semoga Emily mau menerimanya."
"Penawaran apa, mama?"
"Kita bantu dia rujuk dengan Aji, jadi dia akan melepaskan Garry."
"Kalau mereka masih berhubungan?"
"Emily sosok yang setia, dia tidak mungkin masih berhubungan dengan Garry jika dia sudah menikah lagi dengan Aji. Untuk memastikan itu, kita akan minta Aji membawa Emily kembali ke rumah lama mereka."
Andita segera menghubungi Emily, dan mulai menawarkan penawarannya.
"Maaf Nyonya, aku tidak tertarik, lagian apa yang aku lepas, tidak akan aku ingat lagi, Aji masa laluku, dan Garry adalah masa depanku."
"Lebih mapan Aji daripada Garry, kenapa kamu memulih laki-laki tidak berguna itu?"
"Kalau Garry tidak berguna? Kenapa Anda ingin mempertahankan dia? Ikhlaskan saja laki-laki tak berguna untuk perempuan tak berguna sepertiku."
Andita bungkam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Nyonya ... aku sudah menikah secara agama dengan Garry, dan Garry juga lebih memilih aku daripada putrimu, jadi ... terima semua ini Nyonya. Bukankah Lesty perempuan baik? Tentu mudah dong bagi dia untuk menikah lagi."
Andita semakin bungkan, marah, tapi dia tidak tahu kata-kata apa yang pantas untuk dia lontarkan pada pelakor di ujung telepon sana.
"Kita tidak tahu dengan cara apa mempertahankan rumah tangga kamu, secara Garry tidak menginginkan harta, juga tidak ada hak asuh anak."
"Mama ...." Lesty menjerit, walau tidak mengetahui apa itu cinta, namun sangat sakit saat mengetahui pernikahannya akan berakhir.
***
Selesai dengan pekerjaannya, Garry melajukan mobilnya menuju Apartemen Emily, dia melenggang begitu saja, tidak seperti sebelumnya selalu berusaha menyembunyikan dirinya. Saat ini hubungan dia dan Emily sudah diketahui.
Garry memasukan sandi keamanan Apartemen Emily, saat pintu terbuka, di arah dapur terlihat wanita cantik itu tengah memasak.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini sayang?" Emily tidak menoleh, namun dia menyadari kedatangan Garry.
"Terasa membosankan, karena tidak ada kamu di sana." Garry langsung memeluk Emily dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Emily. "Masak buat makan malam?"
"Belum, saat ini aku hanya bikin gorengan saja. Makan malam, kamu mau apa? Biar aku masakin."
"Tidak usah masak buatku, aku malam ini kemungkinan makan malam di rumah Kakek Ajiman, beliau ingin membahas kita."
"Kita?"
"Iya, perceraianku dengan Lesty, agar aku dan kamu mudah meneruskan hidup."
"Perceraian kan mudah, daftarkan gugatan, jika Lesty tidak menghadiri sidang, maka semakin mudah perceraian kalian."
"Yang berakhir hubungan aku dengan Lesty sebagai suami-istri, aku berharap walau hubungan yang satu itu berakhir, tapi hubungan lain masih baik-baik saja."
"Berpisah itu mudah, namun tetap menjalin hubungan baik setelah perpisahan, itu yang sulit. Sebab ini, aku ingin mengakhirinya dengan baik-baik."
"Kamu sangat luar biasa, aku makin kagum sama kamu." Emily mematikan kompornya, dia berbalik menghadap Garry, suasana dapur pun seketika memanas dengan nyala api yang lain.
Malam menyapa, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tamu, Aji terlihat bingung, karena diminta ikut hadir malam ini.
"Kalian tahu, mengapa aku memanggil kalian semua di sini?" Kakek Ajiman memandangi semua orang bergantian.
"Tidak perlu mengulur waktu lama, aku memanggil kalian semua di sini, untuk menyaksikan Garry mengantar Lesty pada kita," ucap Ajiman.
"Apa maksud Ayah?" Aji tidak mengerti apa yang Ayahnya maksud.
"Garry sudah tidak tahan dengan tekanan dan hinaan Lesty, dia sudah mendapatkan kebahagiaan dan cinta dari luar, jadi ... Garry ingin berpisah dengan Lesty, begitu kan Garry?"
"Maafkan kekurang ajaran saya, saya berusaha menerima takdir saya, namun kesabaran saya sudah lapuk dan tidak kuat lagi berada dalam ikatan ini."
"Karena pelakor itu kamu rapuh, pakai alasan kehabisan stok kesabaran segala!" ucap Andita sinis.
"Selama ini saya hanya berani menjerit dalam hati, justru saya dapat kekuatan untuk menyuarakan isi hati saya dari wanita yang kalian cap pelakor itu," balas Garry.
"Sudah-sudah, aku meminta kalian berkumpul bukan untuk saling menyalahkan, apa yang Garry mau, itu yang terjadi. Lagian Lesty juga tidak pernah menginginkan pernikahan ini, dia mau hanya karena takut tidak dapat bonus dariku." Kakek Ajiman melirik kearah Lesty. "Karena kepatuhan kamu, Perusahaan yang selama ini Garry jalankan, sepenuhnya milik kamu, mau kamu apakan, terserah. Kekuatan hukumnya akan menyusul nanti."
__ADS_1
Harusnya kabar ini membuat Lesty bahagia, karena inilah tujuannya menerima perjodohan, namun perceraian karena Garry memilih pelakor daripada dirinya, ini hal yang melukai harga dirinya.
Kakek Ajiman menoleh pada Garry. "Kamu tahu konsekuinsinya bukan? Mulai detik ini, kamu bukan bagian perusahaanku lagi."
"Iya kek, semua surat menyurat sudah aku siapkan, terima kasih atas kepercayaan Kakek selama ini."
"Pengacara keluarga akan mendaftarkan perceraian kalian besok, saat ini kami menunggu kamu mengembalikan Lesty pada kami."
"Kakek, dan semua orang yang ada di sini. Maafkan anak pelayan yang tidak tahu balas budi ini, kalian memberiku permata, tapi aku mengabaikannya, demi kebahagiaan permata ini, Lesty aku kembalikan pada kalian." Kalimat Talaq pun keluar dari mulut Garry.
Mendengar 'ku jatuhkan Talaq' rasanya bangunan hati Lesty diledakan oleh jutaan bom.
Tunggu pembalasanku Emily, tidak akan aku biarkan kalian bahagia.
Melihat Garry bersalaman pada Kakek dan Neneknya, juga pada Aji. Jiwa arogan Lesty kembali berkobar.
"Kamu datang ke sini hanya membawa baju di badan, pergi pun jangan membawa apa-apa."
Garry melepaskan jam tangan mewah, melepaskan jasnya, hanya menyisakan celana kain dan dalaman putihnya. Garry mengambil handphonenya, dan mereset semua datanya.
"Handphone, dompet, baju, sepatu, arloji, kunci mobil." Dia memberikan semua itu pada Lesty. "Apa masih ada yang kurang?"
Lesty tidak menjawab, dia memeriksa semuanya, memastikan tidak ada yang Garry sembunyikan.
"Sudah tidak ada apa-apa lagi kan? Aku izin pergi. Terima kasih atas semuanya."
Setelah Garry pergi keadaan seketika hening. Tidak tahu harus membahas apa lagi.
"Sudah selesai, aku mau istirahat," ucap Kakek Ajiman. Sesaat dia menghentikan langkahnya. "Jika kelakuan kamu tidak berubah, maka kamu sulit menemukan teman hidup, Les."
"Kakek terlalu meremehkanku, aku punya segalanya, mudah bagiku mencari pengganti," sahut Lesty.
"Laki-laki yang memiliki pemikiran sehat, tidak akan mau sama kamu jika kamu tidak berubah, namun laki-laki benalu, tentu mereka mau, karena hidup enak sama kamu tanpa harus bekerja."
"Bukannya Garry juga benalu?"
"Kamu salah besar, Garry adalah laki-laki baik yang penuh tanggung jawab." Kakek Ajiman segera pergi dari ruangan itu.
__ADS_1