POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 43


__ADS_3

Saat Garry keluar dari rumah besar keluarga Lesty, di depan gerbang ada sebuah mobil merah yang sangat Garry kenali, itu adalah mobil Emily. Rasa sakit saat kakinya yang tidak menggunakan alas ketika menginjak batu-batu kerikil tidak terasa, Garry sangat bahagia melihat Emily menunggunya di depan Gerbang.


"Sayang?" Garry langsung berlari mendekati Emily, dan memeluk wanita yang berdiri di samping mobilnya itu.


"Ayo masuk, aku sudah siapkan pakaian untukmu, sudah aku duga Lesty akan mengusirmu dari istnana itu tanpa membawa apa-apa," ucap Emily.


"Kamu salah sayang, aku masih mengenakan celana dan kaos dalaman," ucap Garry.


Keduany sama-sama tertawa, saat yang sama, Lesty melihat kejadian itu dari balkon lantai 2 rumah Kakenya. Walau Emily tidak jelas melihat reaksi wajah Lesty, dia yakin wanita itu sangat marah saat ini.


Emily sengaja mengalungkan kedua lengannya di pundak Garry. "Sekarang kamu milikku seutuhnya, tanpa berbagi dengan wanita manapun."


"Iya, entah kenapa aku yang sangat bahagia."


"Kita pulang yuk."


Keduanya segera masuk mobil, penjaga gerbang rumah Lesty berulang kali mengucek matanya, memastikan hal yang dia baru lihat sesuatu yang salah. Namun tetap saja, pandangannya tidak berubah. "Sepertinya Nona Emily balas dendam, dulu Nona Lesty meruntuhkan Rumah tangganya, sekarang berbalik sepertinya." Dia mengabaikan kejadian itu, dan melanjutkan tugasnya.


***


Sepanjang jalan, Emily bersandar di bahu Garry, sesekali Garry mendaratkan ciuamannya di kepala Emily.

__ADS_1


"Kita akan tetap di kota ini, atau pindah?" tawar Emily.


"Kamu maunya gimana?" Garry balik bertanya.


"Aku sih ngikut kamu aja sayang, kalau kamu mau lamar kerja di perusahaan lain sebagai karyawan biasa, aku setuju. Kalau kamu mau pulang ke desa kamu, aku juga ikut."


"Kedua orang tuaku menyekolahkanku tinggi, supaya aku tidak perlu menguras keringat untuk membajak sawah, mimipi ibu, oke bertani, tapi aku bosnya, bukan menggarap semua sendiri."


"Ya sudah, kalau begitu kamu kerja di sini. Tapi untuk kenyamanan kita, kamu bicara gih sama ibu, supaya mereka menetap di sini. Kasian, selama ini beliau tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari menantu."


"Terus ... kamu mau apa sayang?"


"Setelah sampai, kita temui ibu. Kita ajak ibu pindah ke rumahku, aku punya rumah sederhana, letaknya tidak jauh dari kampus Nala. Nah, Nala kuliah mudah, di rumah aku punya teman Bapak sama ibu."


"Tergantung sifat orangnya sayang, ibumu sangat baik, tidak mencampuri urusan anaknya, adikmu juga baik. Ku rasa kita bisa tinggal di rumah yang sama."


Karena dirinya bukan lagi CEO, menyewa Apartemen untuk ibunya terasa berat, Garry setuju. Sesampai di gedung Apartemen Emily, keduanya langsung menuju Apartemen yang ditempati keluarga Garry.


Emily dan Garry duduk berdampingan, sedang Athaya, suaminya, dan Nala duduk di sofa single.


"Aku sudah melepaskan Lesty bu, secepatnya perceraian kami akan berproses di pengadilan."

__ADS_1


"Ibu tidak bisa ikut bicara, hidupmu, kamu yang jalani," ucap Athaya.


"Garry bukan lagi bos, dia hanyalah seorang laki-laki yang berharga bagiku. Kami datang ke sini, meminta supaya ibu, Bapak, dan Athaya, sudi tinggal satu rumah bersama kami," sambung Emily.


"Selama ini, Ibu tidak merasakan indahnya punya menantu bukan? Izinkan Emily berbakti sebagai menantu bagi ibu." sambung Garry.


"Terus, kamu kerja apa Garry?" tanya Athaya.


"Emily orang baik bu, beberapa teman dekat Emily menawarkan pekerjaan padaku, salah satunya Tuan Adam. Kemungkinan aku memilih bekerja di sana sampai urusanku dengan Tuan Ajiman selesai."


"Untuk ke kampus Nala, jaraknya dari rumahku cukup dekat. Aku sangat bahagia jika kalian berkenan tinggal bersama kami," ucap Emily.


"Jika Bapak, Ibu, dan Nala tidak nyaman, kalian boleh pergi. Aku tidak akan memaksa kalian untuk tinggal selamanya," sela Garry.


"Kapan kita akan pindah?" Sela Ayah Garry.


"Bapak setuju?" Garry terlihat bahagia.


"Jika kamu bahagia, bapak setuju."


"Ya sudah, minggu depan kita sudah pindah, mulai besok kita nyicil angkut barang dulu, bagaimana?" usul Emily.

__ADS_1


"Kami setuju."


__ADS_2