POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 72


__ADS_3

Afrida tidak sabar mencaritahu apa isi kado yang Zein berikan, dia begitu semangat merobek pembungkus kado tersebut. Saat kotak terbuka Afrida menautkan kedua alisnya melihat sebuah lingerie putih transparan yang sangat seksi.


"Waw, aku tidak sabar ingin melihat kau mengenakan itu," ucap suami Afrida.


"Tidak bisa langsung pakai, harus dicuci dulu." Afrida mengangkat gaun itu dari kotaknya, saat yang sama 10 kotak yang bergambar laki-laki bertubuh Aletis dengan wanita seksi yang bertulis magic, terburai di lantai.


"Arggggg! Zein Emily sialan! Mereka menghina kita sayang ...."


Suami Afrida memungut kotak-kotak itu. "Memangnya ini apa sayang?"


"Itu jimat untuk membuat milikmu awet berdiri tegar!"


"Aku baru tahu." Suami Afrida membaca yang tertulis pada kemasan.


"Mereka benar-benar cari gara-gara, aku akan beri perhitungan dengan mereka!"


"Lupakan merek, kita buka-buka yang lain dulu," bujuk suami Afrida.


Kekesalan Afrida perlahan mereda, kode suaminya mengajak memulai ritual malam pengantin, membuat Afrida luluh.


Sentuhan demi sentuhan manja dari suaminya membuat Afrida seakan melayang di udara.


"Sayang izin ya ... dah nggak tahan ...." rengek suami Afrida.


"Kenapa langsung? belum 5 menit juga ...."


"Dah nggak kuat." Tanpa permisi suami Afrida menyarungkan pusakakanya pada Afrida.


Dalam hitungan detik, Afrida merasakan lembahnya menghangat.


"Kamu lepas ya yank?"


"Dah nggak kuat ...."


Wajah Afrida semakin kesal. Dia meninggalkan suaminya yang Finis sebelum waktunya. Afrida mengurung diri di kamar yang lain.


Kamu terlalu cerdas, pantas saja lelaki hebat seperti Zein kamu buang, kamu memilih laki-laki berdompet tebal daripada Zein yang memiliki keperkasaan super tebal. Kamu aneh, uang kamu sudah punya banyak, buat apa lagi coba menambah pundi-pundi materi, bersama Zein kamu dapat kepuasan, bersama suamimu itu?


"Arggggttttt!" Mengingat ucapan Emily sesuai dengan kenyataan, Afrida semakin geram.


Aku yakin, baru masuk, terus naik turun 5 kali dia finish duluan.


Sekuat apapun Afrida menumpahkan kekesalan, rasa yang mengganjal di hatinya malah semakin bertambah. Dia teringat perjuangan malam pertamanya dengan Zein yang sangat indah, mencapai ke puncak kenikmatan tertinggi bersama-sama.


Bersama Zein, kamu dapat kepuasan, tapi bersama suamimu?

__ADS_1


Uang yang kamu miliki, bisa memberimu kepuasan seperti yang aku rasakan?


Afrida berhalusinasi Emily dan Zein berpacu bermandikan keringat di depannya, ******* Emily seakan terngiang di kepalanya.


"Arggggtt!" Afrida berbaring di tempat tidur menutupi wajahnya dengan bantal, berharap bayangannya akan Emily dan Zein hilang.


***


Keesokan harinya, Afrida benar-benar mendatangi rumah Pak RT tempat Zein. Afrida menanyakan izin tinggal Emily.


"Waduh ... ini urusan rahasia bu, tidak sembarangan bisa saya bagi tahu, kecuali perangkat desa yang bersangkutan."


"Pak, di rumah itu wanita asing itu tinggal dengan putri saya! Jika putri saya kenapa-napa Bapak yang akan saya tuntut karena memberi izin wanita asing tinggal di desa ini!"


"Bagaimana kalau dia ******* atau tersangka kepolisian? Anak saya dalam bahaya Pak! Sejak kemaren saya berusaha mencari tahu tentang Emily, saya tidak menemukan apa-apa! Saya tidak tenang Pak!


"Tenang Nona Frida. Emily adalah atasan Zein, katanya keluarganya di kota lagi pergi, jadi mereka menitipkan Emily pada Zein?"


"Apa? Bos?" Kemarahan Afrida semakin berkobar, dia dibohongi Zein dan Emily habis-habisan.


Jika aku tidak bisa mengusir wanita ini dari desa, maka jangan panggil aku Afrida!


Afrida menatap tajam Pak RT. "Jika benar wanita itu bos Zean, bisa perlihatkan data dirinya?"


"Bagaimana ya Non, kemaren Zein hanya memberikan kartu pengenal."


"Ya ampun Bapak ... itu bisa direkayasa, saat ini juga kita tagih data diri wanita itu! Sudah cukup 6 bulan ini kita mereka tipu!"


Ketua RT memahami kegelisahan Afrida, dia menyetujui usulan Afrida untuk mendatangi rumah Zein, dan meminta tanda pengenal Emily.


Kedatangan Pak RT dan Afrida yang dikenal sebagai mantan istri Zein menyita perhatian warga sekitar.


"Pak RT, ada apa? Pagi-pagi sudah mendatangi rumah Zein sama mantan istri Zein," tanya salah satu warga.


"Ada keperluan sedikit bu," jawab Pak RT.


"Afrida, bukanya kemaren nikah ya? Pagi-pagi enaknya pelukan sama suami, malah nyamperin rumah mantan, kayak orang gagal move on aja."


"Mungkin sejata suami yang baru tidak secanggih punya mantan bu," ledek warga yang lain.


Afrida tersulut emosi, namum Pak RT menahannya dan mengingatkan tujuan mereka kesini.


"Zein ...." Pak RT memanggil nama Zein.


Di dalam rumah, mereka berempat menikmati sarapan pagi bersama. Samar terdengar obrolan para tetangga.

__ADS_1


"Pagi-pagi udah pada rumpi aja." Zein menggelengkan kepalanya, walau tidak mendengar apa yang dibicarakan orang-orang di luar rumahnya.


Saat mendengar suara Pak RT memanggil namanya, Zein menatap bibi Geya. "Kenapa ya bi Pak RT pagi-pagi datang kemari?"


"Entah, temui saja dulu."


Zein menyudahi sarapannya, dia segera menemui Pak RT. "Ada apa ya Pak?"


"6 bulan lalu, Zein hanya memberikan ini untuk izin tinggal bosnya, kalau benar dia bos nak Zein, bisa Bapak lihat kartu pengenal yang lain?"


Zein bungkam, dia menatap tajam pada sosok cantik yang berdiri di samping Pak RT.


"Jangan-jangan Emily simpanan orang kaya, atau tersangka korupsi," ucap Afrida.


"Emily wanita baik-baik! Ingat itu!" maki Zein pada Afrida.


"Ya, baik banget dramanya, ternyata kalian atasan dan bawahan saja!" ledek Afrida.


"Mohon kerjasamanya Zein ...." minta Pak RT.


"Ada apa ya? Saya merasa nama saya disebut?" Emily muncul dari belakang Zein bersama bibi Geya.


"Saya ingin melihat data diri Anda yang asli, bukan hanya ID Card ini saja," ucap Pak RT.


"Saya bukan nggak mau kasih Pak, sejak perceraian dengan suami saya, saya pergi dengan baju yang menempel di badan, tanda pengenal saya lupa bawa."


"Semakin menguat kalau dia wanita tidak benar!" sela Afrida.


"Jika memang sangat dibutuhkan, saya akan meminta orang rumah mengirimkan secepatnya," ucap Emily.


"Ya butuh, untuk memastikan kamu bukan borunan!" ucap Afrida.


"Sayanya aku memang seorang borunan, borunan mertua ...." sahut Emily.


"Halah! Perut buncit ditinggal suami aja ngaku-ngaku borunan mertua, borunan tukang kredit adanya!" maki Afrida lagi.


"Berani-beraninya Anda berkata seperti itu pada keponakan saya!"


Suara makian itu membuat Zein dan Emily langsung menoleh ke sumber suara, begitu juga Pak RT dan Afrida.


"Om ...." Emily berjalan kearah Tuan Adam dan langsung memeluknya.


Siapa laki-laki tua ini? Kenapa Emily memanggil dia om? Apa dia peliharaan bandit tua ini?


Para warga yang tadi berdiri di halaman Zein, seketika mendekati deretan mobil mewah yang terparkir di tepi jalan.

__ADS_1


__ADS_2