
Untuk kali ini Garry merasa sangat beruntung karena Aji telah membawa kedua orang tuanya ke rumah Lesty, saat ini dirinya disibukan oleh beberapa rapat, dan rapat di Restoran yang terakhir, keberuntungan lagi-lagi mendatanginya. Di sana juga ada David.
Selama rapat berlangsung Garry sesekali memperhatikan David, saat rapat selesai, Garry langsung mengejar David.
"Bisa kita bicara sebentar? penting," ucap Garry.
David setuju, mereka mencari tempat aman untuk bicara.
"Ada apa?" tanya David.
"Tentang Emily, sebagai calon suaminya, aku merasa tidak nyaman saat tahu calon istri keduaku dilindungi laki-laki lain."
"Terus, apa mau mu?" tanya David.
"Biarkan Bodyguard itu bekerja menjaga Emily, tapi aku yang membayarnya, tolong ...." pinta Garry halus.
David memahami perasaan Garry, dia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. "Halo, Zein ... saat ini tugasmu tetap seperti sebelumnya, namun bosmu bukan aku lagi, nanti aku akan kirimkan nomor teleponnya padamu." David menyudahi panggilan teleponnya. "Puas?"
"Terima kasih Tuan David, sudah berkenan memberikan kesempatan padaku untuk menjaga Emily," ucap Garry.
"Itu juga tugasku, karena Emily dalam bahaya juga sebab aku," ucap David.
"Emily memang terlihat nakal dan liar, tapi dia wanita yang baik, hanya saja takdir membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman. Semoga kamu tidak sebodoh Aji yang meragukan pengabdiannya." David menepuk pundak Garry dan segera pergi dari sana.
Detik itu, Zein resmi menjadi anak buah Garry, yang bertugas menjaga Emily.
***
Di kediaman Lesty.
Siang itu Lesty pulang lebih cepat dari biasanya, karena dia ingin memastikan jamuan untuk teman-teman kerjanya nanti malam. Saat yang sama dia berpapasan dengan kedua orang tua Garry yang datang bersama Aji. Lesty tidak menyapa, dia berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Lesty! Mereka ini kedua orang tua suamimu, artinya mereka kedua orang tua kamu juga!" tegur Aji.
"Maaf om, aku buru-buru." Dia masuk begitu saja.
"Maafkan Lesty, paman, bibi. Dia terlalu dimanjakan tidak pandai menghormati orang lain," sesal Aji.
"Tidak masalah Nak, lagian aku dan suamiku dulu pelayan di sini, ya kami sangat memahami Lesty," ucap ibu Garry.
"Ayo paman, bibi, kita masuk saja," ajak Aji.
Saat mereka memasuki rumah, terlihat dekorasi yang sangat indah. Ibu Garry terpesona, perlahan kakinya melangkah menuju tempat itu, pikirannya Lesty menyiapkan semua ini untuk menyambut mereka.
"Stop! Jangan kesini! Ini bukan untuk kalian, kalau kalian kesini, malah akan mencemari keindahan ini!" tegur Lesty.
Dugggg!
Rasanya bangunan batin ibu Garry saat itu hancur seketika, bahkan setelah 5 tahun pernikahan, Lesty masih memandangnya sebagai seorang pelayan yang hina. Padahal putra kandungnya adalah suami wanita itu.
"Sudah Ji, oh iya katanya Tuan dan Nyonya ingin bertemu kami," ucap Ibu Aji.
"Bibi Thaya ada-ada saja, mereka bukan majikan bibi lagi, mereka besan bibi, kebaikan yang Garry miliki membuat Ayah jatuh cinta padanya dan menikahkannya dengan Lesty. Tidak ada Tuan dan pelayan, kalian adalah keluarga." Aji membawa kedua orang tua Garry masuk kedalam rumah.
Di dalam sana, Tuan Jaiman dan istrinya Maiwa menyambut hangat mantan pelayan setia mereka itu. Mereka semua bernostalgia mengingat kebersamaan mereka dulu.
Waktu terus berlalu, langit kini sudah gelap, Garry baru saja sampai di rumah istrinya. Perlahan dia melonggarkan dasinya, bermacam pikiran terus berputar di kepalanya, hingga pundaknya terasa berat, seakan menahan beban seisi bumi ini.
"Sini kamu!"
Tiba-tiba Lesty menariknya kesamping.
"Ada apa Les? Aku pusing aku lelah, aku ingin mandi ...."
__ADS_1
"Dengar aku! Awas saja nanti kalau ibumu keluar saat aku berkumpul dengan teman-temanku! Aku tidak mau teman-temanku tau kalau aku menikahi putra pelayan di rumahku!"
Saat yang sama Thaya mendengar semua ucapan Lesty, dia mencenkram kuat nampan yang dia pegang saat ini.
Ya Tuhan ... seperti apa kehiduan Anakku di rumah besar ini, selama ini?
Thaya perlahan pergi dari sana, dia segera menuju kamar mandi. Di sana Thaya menumpahkan air matanya.
"Aku menjaga anakku dengan sepenuh hatiku, melakukan apa saja demi kebahagiaannya, hatiku sakit ... saat melihat anakku diperlakukan kasar seperti itu."
Mental Thaya memang terbiasa menerima hinaan dan perlakuan buruk, namun dia menguliahkan putranya, agar putranya tidak memiliki nasib yang sama seperti dirinya dan suaminya. Merasa puas menumpahkan air matanya, Thaya segera keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Thaya berpapasan dengan Garry.
"Ibu, tadi Kakek dan Nenek nanyain ibu," ucap Garry.
"Bapak dan ibu di sini dari tadi siang, Bapak dan ibu kepikiran Nala, katanya dia tidak bisa mampir karena capek, jadi ibu mau pulang."
"Kenapa nggak menginap saja bu?" sela Nenek Maiwa.
"Nala kasian di Apartemen sendirian, diminta kemari katanya capek," kilah Thaya.
"Ya sudah, maunya kami kalian menginap, tapi karena Nala juga di sini kuliah, kami tidak bisa menahan kalian. Antar kedua orang tuamu, Garry." titah Nenek Maiwa.
"Baik, Nek."
"Kita pulang lewat samping saja." Thaya menarik suaminya agar tidak keluar dari pintu utama.
"Lewat pintu depan saja, nggak usah sungkan, itu hanya teman-teman Lesty." Nenek Maiwa menggandeng Thaya menuju pintu depan.
Teman-teman Lesty tercengang melihat Nyonya rumah itu menggandeng seorang wanita paruh baya.
"Yang sama Nenek kamu siapa Les?" tanya salah satu teman Lesty.
__ADS_1
"Abaikan, itu hanya pelayan setia Nenek mau pulang kampung." Lesty mencoba menarik perhatian teman-temannya agar tidak memperhatikan kearah pintu lagi.