POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 49


__ADS_3

Emily bergegas memasuki sebuah Cafe, di sana dia dan Janet mengatur janji untuk bertemu, namun sesampai di sana, Emily dituntut untuk memenuhi panggilan alam yang tidak bisa dia tunda lagi.


Emily berlari mendekati salah satu pelayan. "Permisi mbak, toilet di mana?"


"Sebelah kiri mbak, lurus saja," sahut pelayan.


"Terima kasih ya mbak." Emily segera mengayunkan cepat sepasang kakinya menuju toilet.


Setelah memenuhi panggilan alam, pandangan matanya tertuju pada bercak kecoklatan di kain berenda yang mirip segitiga itu. Tegores kekecewaan di hatinya, dia mengira di dalam rahimnya tengah hadir benih Garry.


"Huh ... terlalu tinggi harapanku," gumamnya.


Emily segera memasang benda anti bocor yang memiliki perekat, yang selalu dia simpan 1 pad di dalam tasnya. Karena tamu bulanan yang suka datang tanpa permisi.


Setelah membersihkan semua, Emily keluar dari toilet, dan segera menuju mejanya. Di sana sudah terlihat sosok Janet. Emily segera duduk di depan Janet.


"Ada kabar apa?" tanya Janet.


"Kabarnya hoax, tadinya aku mau kamu temenin aku ke dokter kandungan, sudah 2 bulan aku nggak dapat, eh barusan dapat."


"Semangat! Kamu masih muda, masih panjang perjalananmu untuk berjuang kembali." Janet menyemangati.


"Maaf ya, jadinya aku ganggu kamu aja," sesal Emily.


"Santai, lagian bagus juga. Sudah lama kita nggak jalan bareng." Janet berusaha menghibur sahabatnya.


"Kita punya waktu lumayan panjang, setelah dari sini kita kemana?" tanya Emily.


"Kemana ya?" Janet berusaha memutar otaknya, namun tidak ada kegiatan yang dia minati saat ini. "Aku nggak ada ide."


"Bagaimana kalau kita nyalon?" usul Emily.


"Nyalonin diri jadi kades apa Bupati?" goda Janet.


"Manjaain diri sayangku ...." ucap Emily.


"Siap-siap, dah lama juga aku nggak perawatan."


Keduanya segera memesan makanan yang mereka mau, selesai menikmati makanan di cafe itu, keduanya segera menuju salon, dan memilih pijat, untuk menenangkan saraf-saraf yang terasa tegang. Emily dan Janet berada di ruangan yang sama, keduanya berbaring di tempat tidur yang berdekatan.

__ADS_1


*


Setelah memanjakan diri, Emily dan Janet memilih pulang ke rumah Janet. Keduanya duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Em, semuanya lancar?" tanya Janet.


"Lancar, walau niat awalku tidak baik, tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengabdikan diriku sebagai seorang istri, jika Garry memilihku."


"Aku turut senang mendengarnya." Janet tidak meneruskan kata-katanya, kala melihat perubahan wajah Emily. "Ada yang mengganggumu?"


"Tidak ada, hanya saja aku tidak tahu apakah Garry akan tetap menerima hubungan ini, jika dia tahu apa niatku mendekatinya."


"Ada niat untuk minta maaf padanya dan mengakui semuanya?"


"Ada, hanya saja aku belum memiliki waktu yang tepat."


"Semakin cepat jujur makin baik, lebih baik Garry tahu hal itu langsung dari kamu, daripada dia tahu lewat orang lain yang tentunya akan bertambah dari segala sisi."


"Iya, itu juga yang aku pikirkan."


"Sudah jam 8, siap-siap sana. Dandan yang cantik, buat Garry melupakan semua niatmu karena kasih sayang, pengabdian, dan kecantikanmu."


***


Emily segera menuju Restoran tempatnya dan Garry untuk makan malam. Sesampai di sana, bukan hanya ada keluarga Garry, namun juga sosok yang dulunya sangat Emily hormati.


"Akhirnya kamu datang sayang." Garry menyambut Emily, menarikan kursi untuk Emily duduki.


"Maaf sayang, aku terlambat," sesal Emily.


"Tidak apa-apa, kami juga baru sampai." Melihat Emily sangat cantik, ingin rasanya Garry menciumi, dan memeluk erat wanita itu.


"Emily, semakin cantik saja kamu," puji Tuan Jiman.


"Terima kasih--" Emily bingung menyapa Tuan Ajiman dengan sebutan apa, Ayah, Kakek, atau Tuan.


"Kak Emy ternyata dandan maksimal, pantes minta ketemuan di sini," protes Nala.


"Aku ingin terlihat cantik, agar dunia memahami kenapa suamiku memilihku, kalau pelakor lebih jelek dari istri sah, yang dibully sang suami dianggap buta, kalau pelakor lebih cantik, orang-orang akan memahami, dengan alasan ... namanya juga laki-laki," sahut Emily.

__ADS_1


Garry merasa tidak nyaman dengan jawaban Emily, namun protes juga tidak bisa, karena dia memulai hubungan ini dengan jalan yang salah.


"Kamu memang merebut suami orang, Em. Tapi orang-orang di luar sana tidak tahu betapa buruknya prilaku Lesty pada Garry. Aku yang mengetahui aku tidak masalah, karena aku juga tersiksa melihat Garry ditindas istrinya," sahut Tuan Jiman.


"Sudah Tuan, kami sudah bahagia dengan lembaran kami yang baru, maafkan atas pengkhianatan anak dan menantu kami," ucap Athaya.


"Sayangnya, bagian masa lalu Garry, akan mengukir bagian masa depan seseorang," ucap Tuan Ajiman.


Semua orang tidak mengerti, semuanya menatap Tuan Ajiman dengan tatapan penuh tanya.


"Lesty saat ini hamil." Tuan Ajiman memgeluarkan amplop dari balik saku jasnya. "Ini hasil pemeriksaan."


Garry langsung membuka isi amplop, dia melihat isi amplop itu bersama Emily. Mereka menemukan lembaran laporan pemeriksaan kehamilan Lesty, dan satu foto abu-abu, dengan nama Lesty di sudut foto itu.


"Terus, Tuan ingin aku mengambil keputusan apa?" tanya Garry. Garry memberikan isi amplop itu pada kedua orang tuanya.


"Aku juga bingung harus mengambil keputusan apa, satu sisi aku ingin anak itu lahir dalam lingkup keluarga yang lengkap, satu sisi aku juga tidak ingin membuat kamu tertekan, terlebih di sini juga ada Emily."


Semua orang terdiam. Emily juga membisu, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Anak yang Lesty kandung bukan anak haram, dia lahir tanpa Ayah di sampingnya bukan kesalahannya, tapi kesalahan Ayahnya yang mengkhianati ibunya," ucap Garry.


"Tapi Lesty akan menggugurkan anak itu, jika dia tidak menjalani kehamilannya tanpa suami di sampingnya," ucap Tuan Jiman.


"Lesty sudah sering menggugurkan kandungannya Kek, aku sudah melarang, tapi aku hanyalah benalu di rumah Kakek, mana dia dengar. Katanya anak itu akan menggambat karirnya."


Kakek Jiman terkejut dengan penuturan Garry, dia malah tidak tahu kalau Lesty pernah hamil.


"Saat aku di sampingnya, dia tega membunuh darah yang halal, sekarang saat aku sudah tidak bersamanya, dia mengancam akan aborsi jika aku tidak kembali, bukankah dari dulu dia juga aborsi, padahal aku ada Tuan. Sekarang dia pakai ancaman lagi. Janin itu hanyalah alasan Lesty agar aku kembali padanya, karena dia tahu apa keterbatasan Emily."


"Dia juga mengancam akan mengakhiri hidupnya," ucap Tuan Jiman, lirih.


"Lesty tidak sebodoh itu Kek, itu hanya mempermainkan emosi dan kekhawatiran kalian saja," ucap Garry.


Garry meraih tangan tua keriput itu. "Jika Lesty ingin mempertahankan kandungannya, aku sangat bersyukur. Walau aku dan Lesty terpisah, namun aku tetap bertanggung jawab sebagai seorang Ayah. Perceraian aku dan Lesty bukan akhir kehidupan anak itu Tuan. Berlanjut atau berakhirnya kehidupan anak itu, tergantung pada keinginan Lesty."


Garry melirik pada Emily. "Walau wanita yang kini jadi istriku tidak bisa memberiku anak, aku tidak mempermasalahkan itu, terlebih saat aku ingin menikahinya, aku sudah tahu kalau dia memiliki kekurangan, dan sebab kekurangannya itu dia jadi janda."


Semangat menyala dari dalam diri Emily, saat dia mendengar ucapan Garry. Dia tersenyum dan menyandarkan wajahnya di bahu Garry.

__ADS_1


__ADS_2