POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
68


__ADS_3

Di dapur.


Setelah mendengar permintaan Zein yang di sampaikan Friska, Geya segera menyeduh kopi untuk Zein.


"Nenek ...."


"Iya cantik ...."


"Bagaimana caranya, biar tante Emily tinggal selamanya sama kita?"


"Kenapa Friska kepikiran hal ini?"


"Friska sayang tante Emily, Friska nggak mau tante Emily pergi, Friska pengen tante Emily tinggal selamanya sama Friska. Nenek punya cara?"


"Ya ... jadiin tante Emily mama Friska, maka tante akan selalu ada sama Friska," ucap bibi Geya.


"Kalau tante Emily jadi mama Friska, dia nggak akan ninggalin Friska kayak mama Afrida?"


"Enggak sayang, tante Emily dan mama Afrida, beda sayang ...."


"Terus ... bagaimana caranya supaya tante Emily jadi mama aku Nek?"


"Ya ... Papa sama tante Emily harus menikah."


"Memang bisa Nek?"


"Bisa, 'kan itu mama Afrida mau menikah, jadi Papa Zein juga bisa menikah dengan wanita mana saja, termasuk tante Emily."


"Bagaimana caranya buat papa dan Tante Emily bisa menikah Nek?"


"Buat mereka saling jatuh cinta."


"Bagaimana buat Papa dan tante Emily saling jatuh cinta Nek?"


"Buat mereka dekat," ucap bibi Geya.


"Hem ... bagaimana kalau acara pernikahan mama Afrida nanti, biar papa dan tante Emily saja yang pergi berdua?"


"Wah ... ide yang bagus, tapi lebih bagus lagi kamu panggil papa, kasih tau kopinya sudah siap."


"Siap Nek." Friska berlari kearah kamarnya, di sana dia meninggalkan Emily dan Papanya.


Saat Friska sampai di kamarnya, dia melihat Emily dan Zein berdiri berhadapan tangan keduanya masih berpegangan, keduanya saling tatap.


"Papa sama tante ngapain?"


Pertanyaan Friska membuat Zein dan Emily tersadar, keduanya segera melepaskan tangan mereka.


"Am ... tadi papa bantu tante Emily berdiri. Tante Emily kesulitan berdiri." Zein mempergakan bagaimana gerak Emily saat ingin berdiri.


Melihat bagaimana tingkah Ayahnya, Friska melupakan apa yang dia lihat sebelumnya.


"Hei aku tidak sejelek itu!" protes Emily.


"Lah yang bilang kamu jelek siapa?"

__ADS_1


Friska tertawa mengikik melihat kekesalan Emily. "Papa hanya mencontohkan bagaimana tante, kalau menurut tante tadi jelek, berarti ...." Friska lari kearah dapur sambil berteriak, "Papa, kata Nenek kopinya susah siap."


Emily terlihat kesal, Zein juga berlari meninggalkan Emily.


"Ya ampun Friska ... kamu bahagia sekali."


"Papa bisa mengikutin tante Emily yang kerepotan dengan perut besarnya, lucu nek ...."


"Tante Emilynya mana?" tanya bibi Geya.


"Paling di kamarnya bi, kan tante suka berdiam diri di kamarnya kalau papa sudah pulang."


Bibi Geya memberi isyarat pada Friska. Anak kecil itu juga mengerti apa yang bibi Geya maksut. Friska kembali berlari ke kamar Emily.


"Tante ...."


"Iya Cantik ...."


"Bisa ke dapur bentar nggak?"


"Jam segini kan papa kamu ngopi, nanti aja ya ...."


"Memangnya kenapa kalau ada papa tante selalu mengurung diri di kamar?"


"Nggak apa-apa, tante memposisikan diri tante saja. Tante di rumah kalian hanya tamu."


"Enggak, tante itu keluarga aku, bahkan aku merasa tante itu mama aku." Dengan polosnya Friska langsung memeluk Emily. "Jangan katakan tante hanya tamu, atau orang lain, bagiku tante keluarga aku. Andai boleh aku ingin menganggap tante sebagai mama aku."


Sepasang mata Emily berkaca-kaca mendengar ucapan Friska. Di luar kendalinya air matanya seketika terlepas, Emily mengusap air matanya sebelum Friska menyadarinya.


Emily meraih kursinya, dia duduk agar bisa sejajar dengan Friska. "Bukan begitu, tante terharu." Emily kembali memeluk Friska.


"Tante sayang aku?" tanya Friska.


"Friska itu baik, dan cantik, siapa saja yang mengenal Friska pasti akan sayang pada Friska. Termasuk tante."


"Ayo ikut ke dapur. Kita santai berkumpul di meja makan ...." ajak Friska.


"Tapi ...." Emily masih sungkan.


"Katanya sayang, aku minta ikut ke dapur saja tante nolak, bagaimana kalau ku minta nikah sama papa."


"Heh?!" Emily terkejut mendengar akhir ucapan Friska.


"Ayo ...."


Emily mengalah, dia mengikuti keinginan Friska. Saat sampai di meja makan, Emily melihat Zein menikmati kopinya. Laki-laki yang sangat cuek, tapi begitu humoris dan hangat pada putrinya.


"Ayo duduk tante." Friska menarik kursi yang dekat dengan Zein.


"Tante biasa duduk di sana," tolak Emily.


"Di sana Lucyku yang akan duduk." Friska berlari mengambil bonekanya dan dia taruh pada kursi lain.


"Lucy di sini saja, tante di sana ya ...."

__ADS_1


"Tante ribet ih ... duduk doang loh ini ...." protes Friska.


Duduk doang? Ini hati yang masih punya rasa .... keluh hati Emily.


Emily tidak protes, dia duduk di kursi yang ada di samping Zein.


"Papa aku itu baik loh tante, nggak gigit. Takut banget dekat sama papa aku ...."


Emily tersenyum kaku memperlihatkan deretan gigi-giginya.


"Teh manisnya Nona El ...." Bibi G memberikan secangkir teh manis hangat pada Emily.


"Terima kasih bibi G."


Emily dan Zein terlihat canggung, sedang bibi Geya memberi isyarat pada Friska kalau apa ynag Friska lakukan hal yang keren. Bibi Geya memandanngi Emily dan Zein bergantian, keduanya terlihat canggung dan salah tingkah. Bibi G merasakan ada percikan rasa diantara keduanya.


Friska butuh sosok ibu, dan bayi yang kamu kandung butuh sosok Ayah yang bertanggung jawab seperti Zein. Semoga Tuhan merestui kalian bersama. Semoga takdir mempersatukan kalian, batin Bibi Geya.


"Papa, untuk acara mama Afrida. Papa saja ya yang hadir sama tante Emily, aku malas pah."


"Kenapa begitu? Padahal minggu hari libur loh," ucap Zein.


"Malas saja pah."


"Jangan dipaksa Zein, biar bibi yang menemani Friska di rumah. Kamu pergi bareng Emily, kalian sudah siapkan hadiah buat mamanya Friska kan?"


Kopi yang seketika berubah rasa, atau lidah kaku. Zein tidak merasakan bagaimana rasa kopinya yang saat ini dia nikmati.


"Papa sakit?" tanya Friska.


"Enggak, kenapa?"


"Itu tangan papa gemetaran." Friska mengisyarat pada gelas kopi yang bergoyang karena tangan Zein terlihat gemetaran.


"Ini kopinya enak banget, sampai papa ikut goyang menikmatinya," kilah Zein.


***


Pada tempat lain.


Garry dan Ayahnya baru saja selesai panen jagung. Uang masuk rekening, hasil panen pun sudah dibawa oleh pembeli.


"Langsung transfer pada Nala. Sekalian ingatin dia belajar yang benar, supaya dia jadi orang hebat nantinya," pinta Athaya pada Garry.


"Iya bu." Garry segera mentrabsfer sejumlah uang ke rekening Nala, dan mengirim pesan seperti apa yang ibunya minta. Pandangan Garry tertuju pada tanggal hari ini.


Lebih dari 6 bulan kita berpisah Em. Apa kabar kamu? Apa kabar anak kita?


Mengingat Emily, rasanya tenggorokan Garry tercekat, menelan air liur pun terasa berat.


*Hal terbodoh yang aku lakukan dalam hidup ini tidak mau mendengarkan penjelasan kamu sayang ....


Andai hari itu aku mendengarkan penjelasan kamu, maka kita akan hidup bahagia sembari menanti detik-detik kelahiran anak kita*.


Air mata yang menetes bercampur dengan tetesan keringat, Garry segera menghapusnya sebelum orang tuanya menyadari tangisannya.

__ADS_1


__ADS_2