
Mereka berempat baru saja menghabiskan sarapan mereka.
"Bagaimana dengan makanan yang masih utuh ini?" tanya Janet.
"Bawa saja ke kantor, buat cemilan kamu nanti," sahut Emily.
"Janet, urusan kantor hari ini, semua aku limpahkan pada Randy, jadi semua laporkan pada dia," sela David.
"Kapan kita berangkat?" sela Garry.
"Setelah selesai mengurus berkas di sini, kita langsung pergi," sahut David.
"Pergi? Mau pergi kemana?" Janet tidak bisa menahan kekepoannya.
"Aku dan Garry akan menikah di desa pamanku, jadi ... kami mau keluar kota," sahut Emily.
"Seserius ini?" Janet tahu kalau Garry hanyalah target sang pelakor yang merupakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku laki-laki yang buruk, Janet. Aku tidak mau menambah aibku dengan melakukan hal-hal yang dilakulan oleh binatang," sahut Garry.
"Alahh ... kemaren kamu menikmatinya," sindir David.
"Manusia tempat salah khilaf, aku khilaf saat tercebur wajar, saat sadar ini salah, tapi aku masih berenang dalam kesalahan, ini bukan kekhilafan, tapi kesengajaan, sebab ini aku ingin menikah agar perbuatan kami tidak termasuk dalam kategori zina besar. Zina kecil sih masih sering aku lakukan."
"Sudah-sudah ... jangan bahas benar atau salah, setan cantik ini mulai kepanasan." Emily mencoba melerai perdebatan kecil yang mulai terjadi.
"Ya sudah, aku mau mengurus semua berkas dulu. Kamu Emily, bersiaplah, oh ya, jangan lupa hubungi Zein, mau kamu tugaskan apa saja, dia bebas asal gaji dia dibayar lancar, dia seorang duda, anaknya sakit, sebab itu dia bekerja keras demi putrinya."
**
Emily, David, dan Garry melakukan perjalanan dengan menumpangi mobil yang sama, mobil David dibawa supir pribadinya dan akan menjemput David saat di Pabriknya nanti.
"Tebak, yang terus mengikuti kita sejak di Apartemenku itu mata-mata Lesty, apa mata-mata Betris?" ucap Emily.
Sontak David dan Garry yang berada di bagian depan mobil segera memeriksa mobil yang Emily maksud.
__ADS_1
"Sepertinya itu mata-mata Lesty," tebak Garry.
"Aku juga berpikir demikian, karena Betris tidak akan melakukan hal bodoh, atau dia akan kehilangan kebebasannya," ucap David.
Mobil yang mengikuti mereka terus membuntuti kemana saja mereka berbelok, mobil itu berhenti, saat mobil Garry memasuki kawasan pabrik milik David. Garry memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang ditunjuk oleh David.
"Bagaimana ini kita menuju rumah Paman Emily?" tanya Garry.
"Mudah, kalian menuju rumah Paman Emily dengan mobil expedisi kantor, tapi sebelum pergi, bisakah aku melihat cincin yang akan kau sematkan pada Emily?" sela David.
Garry segera meraih sakunya, dia mengambil kotak yang sudah lama siapkan untuk menikahi Emily nanti.
"Aku mau foto, pinjam sebentar." David mengambil kotak cincin itu, dan mengabadikannya dengan kamera handphonenya.
David langsung memposting cincin itu di laman media sosialnya. Selesai, dia segera mengembalikan cincin itu. "Cepatlah, dan kabari aku saat kalian sudah sah."
Garry dan Emily segera berpindah mobil, saat mereka keluar dari area Pabrik, mereka melihat mobil yang sedari tadi mengikuti mereka, masih parkir di badan jalan. Namun penguntit itu tidak menyadari, Emily dan Garry sudah meninggalkan pabrik dengan mobil yang lain.
__ADS_1
***
Mohon maaf, bab nya pendek, karena aku menulis di sela-sela pekerjaan aku.